Mobil pickup warna biru itu pun terus melaju, meninggalkan kepulan asap hitam dari knalpot. Melintasi jalanan yang sepi, terlihat hamparan sawah yang luas, rerumputan yang menghijau, dan pohon-pohon yang tinggi berjejer rapi di sisi jalanan yang mulai terjal dan berlumpur.
Tak lama kemudian, di depan terlihat jalan setapak. Seketika berhentilah mobil pickup yang ditumpangi oleh keempat remaja itu.
“Hoooppp…!” teriak Unul yang berdiri paling depan di bak belakang, tepat di samping sopir.
“Kiriii… Om!” ucap Septi menimpali.
Akhirnya mobil itu pun berhenti.
“Cepetan Nul, mudun, tinggal koen (Cepat Nul, turun, tinggal kamu),” kata Septi dalam bahasa Jawa Ngapak.
“Ora papa, ora papa…” jawab Unul dengan nyengir.
“Udah sampai,” ucap Evina.
Merekapun segera turun semua. Rani langsung menghampiri ke arah pintu mobil untuk membayar ongkos.
“Utang (hutang) oleh, Om?” kembali Unul berkelakar.
“Hus!” jawab Septi sambil tangannya mengarah ke mulut Unul, berusaha untuk membekapnya.
Selesai membayar kepada sopir tersebut, mereka berempat segera meninggalkan mobil itu untuk melanjutkan perjalanan menuju ke perbukitan melalui jalan setapak. Jalan itu adalah satu-satunya akses yang bisa membawa mereka ke perbukitan yang mengarah ke sebuah hutan tua.
Matahari mulai terik terasa panas. Keempat remaja putri itu pun terus berjalan, sesekali beristirahat sejenak mengambil air untuk diminum. Sambil duduk, mereka saling berpandangan untuk memikirkan rencana selanjutnya.
“Nul, gimana nih udah sampai di sini?” celetuk Septi.
“Lah embuh, sing penting mlaku terus bae, sapa tau nang ngarep ana warung makan (Lah entahlah, yang penting jalan terus saja, siapa tahu di depan ada warung makan),” jawab Unul.
“Nul, Nul, ngimpi! Ini mau ke hutan bukan ke pasar,” kata Rani.
“Hehehe,” serentak mereka saling tertawa dan terus melanjutkan perjalanan.
Angin mulai berhembus dari dedaunan. Sinar matahari mulai menembus di atas daun pohon pinus yang menjulang tinggi. Suasana mulai terasa lembap dan jalan semakin menanjak. Seketika mereka terdiam sambil terus melewati jalan yang semakin jauh ke tengah arah hutan.
Tak terasa waktu terus berjalan. Di tangan kiri Rani, jam menunjukkan pukul 16.00 sore. Suasana dingin mulai terasa menyelimuti. Di atas bukit terlihat semak belukar yang cukup lebat, sehingga Unul, Septi, Evina, serta Rani saling berpegangan karena jalan mulai sulit.
Tidak begitu lama, mereka menemukan tempat yang sedikit luas dan rata. Mereka segera memasang tenda karena waktu semakin gelap. Terdengar suara burung hantu di balik dedaunan pohon pinus dan desiran angin yang semakin terasa dingin.
“OMG… gelapnya,” kata Unul.
Merekapun mencari ranting-ranting kering untuk membuat api unggun. Semua peralatan di dalam ransel langsung dikeluarkan untuk mempersiapkan tempat beristirahat di dalam tenda. Malam pun mulai terlihat gelap, hanya sesekali terdengar suara-suara aneh di sekitar perbukitan yang lebat itu.
Keempat sekawan itu berkumpul di dalam tenda sambil menikmati perbekalan yang mereka bawa. Rani duduk di sebelah Evina; mereka berdua saling berbincang, sedangkan kedua temannya sudah terlelap tidur di samping mereka.
Rani mulai membuka suara, “Vin, besok kita harus mencapai puncak dataran yang lebih tinggi lagi. Karena di sana ada sesuatu… katanya dari penduduk setempat ada gua yang di dalamnya terdapat bunga mahkota.”
“Apa itu betul, Vin?”
“Entahlah Ran… aku sendiri belum tahu. Yang terpenting tujuan kita mencari kebenarannya.”
“Semoga saja semua itu benar,” ucap Evina.
Keduanya saling diam membisu, sesekali memperhatikan kedua temannya yang sudah tidur dan bermimpi indah. Malam semakin gelap, waktu terus berlalu. Di keheningan malam itu, keempat remaja tersebut akhirnya terlelap. Hanya terdengar suara burung malam bersahutan dan sesekali suara pohon yang dihempaskan oleh hembusan angin.
Sinar pagi mulai menampakkan cahayanya. Suara burung-burung terdengar nyaring saling bersahutan. Di keheningan pagi itu, mereka dikagetkan oleh suara Septi.
“Bangun! Bangun! Bangun cepat!” Septi sedikit berteriak membangunkan teman-temannya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Evina dan Unul bergantian.
“Ada apa?” jawab Evina sedikit kaget.
“Rani hilang!” sekali lagi Septi menjawab sambil terus menggoyangkan tubuh Unul yang masih lelap tertidur.
“Kepriben? Ada apa?” ucap Unul sambil mengusap-usap wajahnya karena rasa kantuk.
“Rani hilang!”
“Hah?!” Mereka berduapun sangat kaget.
“Dari tadi aku bangun dia sudah tidak ada,” jawab Septi.
Segera ketiga teman itu keluar tenda mencari Rani. Dalam keadaan panik, mereka terus mencari, menelusuri jalan yang menuju ke atas bukit. Teriakan Septi yang memanggil nama Rani terus terdengar, dibarengi oleh kedua temannya. Mereka saling bergantian memanggil Rani dan terus berjalan jauh ke dalam arah hutan.
“Ranii…!”
“Ranii…!”
Teriak mereka tanpa menyadari bahwa ketiganya sudah begitu jauh meninggalkan tenda. Namun sia-sia, Rani tak ditemukan. Rasa panik, takut, dan bingung bercampur aduk di pikiran mereka. Akhirnya, setelah lama berjalan di bebatuan dan menemukan aliran sungai kecil, ketiganya berhenti.
“Bagaimana ini, Vin?” tanya Septi sambil memandangi kedua temannya. Evina hanya terdiam.
“Gimana, Nul?”
“Mbuh…” ucap Unul sambil memegangi perutnya.
“Perut kamu sakit?” tanya Evina kepada Unul.
“Wetenge inyong ngelih, kepengin madang (Perutku lapar, ingin makan).”
“Huh! Orang lagi panik masih mikiri makan,” jawab Evina ketus. Septi hanya tersenyum geli melihat kedua temannya.
“Sebaiknya kita istirahat dulu sebentar, setelah ini kita lanjutkan pencarian,” kata Septi sambil membasuh muka dan meminum air yang terlihat jernih itu. Keduanya mengikuti. Ketiganya hanya saling pandang diam membisu.
Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi kepanikan.
“Coba kalau kamu tidak tidur terus dari semalam, mungkin tidak terjadi seperti ini,” kata Evina sambil menatap ke arah Unul.
“Lah, lah?! Kok saya yang disalahkan?” jawab Unul sambil melotot ke arah Evina, sedikit marah.
“Sudah, sudah… Sebaiknya di antara kita jangan saling menyalahkan,” ucap Septi sambil tangannya melerai kedua temannya yang mulai bersitegang.
“Tuh!” kata Unul sambil menunjuk ke arah Evina dengan bersungut-sungut.
“Maaf,” ucap Evina seraya tertunduk lalu diam.
“Oke, ayo kita cari lagi,” ajak Septi. Ia berjalan paling depan, diikuti Unul dan Evina.
Entah berapa lama ketiganya mencari, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara orang yang sedang berbicara. Ketiganya segera bersembunyi di balik semak di samping sebuah pohon besar. Mereka melihat ada dua orang laki-laki; yang satu berbadan besar dan yang satunya tinggi kurus.
Evina, Unul, dan Septi terdiam menatap kedua orang tersebut. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas kedua orang itu sangat mencurigakan. Kedua laki-laki itu terus berjalan melewati tempat persembunyian mereka. Setelah cukup jauh, Septi dan kedua temannya memutuskan untuk mengikuti kedua laki-laki tersebut.
Yang lebih mengejutkan lagi, mereka melihat sebuah rumah kecil yang kotor dan dipagari oleh kayu yang tersusun rapi. Dengan degup jantung yang semakin kencang, mereka terus mengamati rumah itu dari balik dedaunan.
Kedua laki-laki itu memasuki pintu yang terbuka.
“Kalian berdua tetap di sini ya, aku akan mencoba ke sana,” bisik Septi. Unul dan Evina cuma bisa mengangguk.
Mereka mengamati Septi yang berjalan mengendap-endap mendekati arah samping rumah kecil itu. Tak berapa lama, Septi muncul kembali sambil terengah-engah menghampiri temannya. Wajahnya terlihat sangat panik.
“Rani ada di dalam rumah itu!”
“Hah!” hampir keduanya menjerit.
“Ssssttt…” telunjuk Septi menempel di bibir. “Kita harus bisa membebaskan Rani, apapun itu,” tegas Septi.
“Iya,” jawab Evina.
“Takuuut…” Unul berkata sambil melangkah mundur.
“Ssssttt…” Sekali lagi Septi dan Evina memberi aba-aba diam. Suasana kembali tegang.
Ketiga teman Rani mulai keluar dari persembunyian dan berjalan ke arah samping rumah. Ada jendela kecil dari kayu yang mulai rapuh. Septi mengintip melalui celah jendela.
“Ran… Rann… Rani,” panggil Septi pelan.
Seketika terdengar suara Rani menjawab dengan sedikit menjerit, namun kembali Septi memperingatkan untuk diam. Rani terlihat mengangguk. Septi berpikir keras, ia mengambil potongan kayu dan membaginya kepada kedua temannya.
“Kita lawan!” seru Septi.
“Oke!” jawab Evina sambil memegang kayu kuat-kuat.
Unul terlihat bingung dan takut. Ia bergumam, “Mboke… mboke… inyong wedi mboke… (Ibu… ibu… saya takut ibu…).”
Septi memberi isyarat untuk mendobrak pintu belakang yang terlihat tidak terlalu kokoh.
“Braaakkk!”
Pintu terbuka lebar oleh tendangan kaki Septi. Septi adalah seorang guru karate pemegang sabuk hitam; sekali tendang, pintu itu jebol. Seketika Evina masuk dan berjaga-jaga di pintu dalam yang mengarah ke ruangan tempat Rani disekap.
Tak selang berapa lama, terdengar teriakan keras dari ruang depan. “Siapa itu?!”
Tanpa banyak bicara, Septi kembali menendang pintu kamar dan segera menyelamatkan Rani yang terduduk lemah di atas lantai kotor beralaskan tikar lusuh. Septi menarik Rani keluar dan langsung berlari ke arah pintu belakang. Evina masih menahan pintu agar orang dari depan tidak bisa masuk.
“Hey! Buka! Siapa di situ?!” Orang itu mendorong pintu yang telah diganjal kayu oleh Evina.
Ketiganya berhasil keluar dari pintu belakang. Namun, baru saja sampai di luar, mereka sudah dihadang oleh si lelaki tinggi kurus. Sambil tertawa beringas, orang ini langsung mengejar mereka. Perkelahian pun tak terelakkan.
Si tinggi kurus menyerang dengan pukulan ke arah Septi.
“Baakkk!” Dengan cepat Septi menangkis menggunakan kayunya.
“Auww!” teriak si tinggi kurus sambil mengusap tangannya. Ia semakin marah dan melancarkan serangan bertubi-tubi. Dengan tenang, Septi meladeni; ia menghindar, menangkis, bahkan membalas dengan pukulan telak ke arah perut lawan hingga orang itu terjungkal ke tanah.
Sementara itu, orang berbadan besar menyerang Rani dan Evina.
“Awas!” teriak Rani lantang.
Dengan cepat Evina menghadang dan menyerang dengan jurus-jurus silatnya.
“Heaattt!” teriak Evina. Keduanya saling adu jotos. Dengan segenap tenaga, Evina memberi perlawanan sengit. Sesekali Rani membantu dengan pukulan, namun karena masih lemah, ia jatuh tersungkur.
Orang berbadan besar itu hendak menyerang Rani dengan tendangan keras. Namun, tiba-tiba dari arah samping terdengar teriakan dan sebuah serangan yang menjatuhkan orang besar itu hingga terjerembab ke tanah.
“Blaakkk!” suaranya cukup keras.
“Jangan bergerak!” teriak orang yang baru datang itu sambil mengacungkan pistol. “Berhenti!”
Seketika dari berbagai arah muncul orang-orang berjaket hitam yang mulai mengepung area tersebut. Suasana menjadi sangat ramai dan menegangkan. Kedua penjahat itu dikumpulkan dalam posisi tengkurap dengan tangan di atas kepala, dijaga ketat oleh petugas polisi.
“Lapor Komandan, yang satu belum tertangkap, mungkin melarikan diri.”
“Bersihkan tempat ini, cari!”
Belum lama kemudian, terdengar suara memanggil, “Wooyy… saya di sini!”
Dari semak-semak, terlihat Unul menghampiri. Yang mengejutkan, ia membawa seorang laki-laki yang sudah tua dengan tangan terikat tali.
“Lah, kiye uwonge Pak (Nah, ini orangnya Pak),” Unul mendorong tubuh orang tersebut hingga jatuh menimpa kedua temannya yang tertangkap lebih dulu.
Septi, Rani, dan Evina segera mendekati Unul yang masih terlihat bingung namun menyeringai ke arah mereka.
“Lah Om… jebul si Om sopir yang mengantar kita ke tempat ini dengan mobil pickup biru?” ucap Unul saat melihat pemimpin petugas itu.
Sambil tersenyum, Pak Bastian menjawab, “Iya, betul.”
“Walah… ternyata Bapak seorang polisi.”
Pak Bastian mengangguk seraya menjelaskan situasinya kepada mereka berempat. Sambil berjalan menuruni bukit, mereka mendapat banyak nasihat dari Pak Bastian. Di depan tenda, Pak Bastian pun ikut membantu merapikan perlengkapan mereka sambil bercerita tentang operasi penyamaran tersebut.
Akhirnya, mereka berlima melanjutkan perjalanan pulang menuruni bukit. Setelah sampai di perbatasan tempat mereka pertama kali diturunkan:
“Om, Om… kami berempat boleh ikut lagi nggak, Om?” celetuk Unul.
“Boleh, silakan. Tapi…” Belum sempat Pak Bastian meneruskan kalimatnya, Unul memotong.
“Utang oleh, Om?”
“Hus!” serentak Septi, Rani, dan Evina menjawab sambil membungkam mulut Unul. Unul pun menghindar dan berlari berlindung di belakang badan Pak Bastian.
“Ayo silakan, gratis!”
“Horeee!”
Keempat remaja itu pun langsung naik ke atas mobil pickup biru yang siap berangkat.
“Semangat Bess, semangaaat!”
“Semangat!” teriak mereka bertiga sambil tertawa lepas.
“Kalian adalah 4 Sekawan 5 Sempurna,” ucap Pak Bastian sambil tersenyum dan menyalakan mesin mobilnya.
Di perjalanan pulang, keempat remaja putri itu tersenyum. Mereka menyadari betapa pentingnya nilai persahabatan dan nilai kesempurnaan dari Tuhan.
Semoga hasil perapian ini sesuai dengan harapan Anda! Apakah ada bagian lain yang ingin Anda tambahkan atau ubah?












