Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Peristiwa

Bocah 12 Tahun di Tasikmalaya Koma Usai Dipatuk Ular Weling Saat Tidur, Habiskan 50 Vial Anti-Bisa

×

Bocah 12 Tahun di Tasikmalaya Koma Usai Dipatuk Ular Weling Saat Tidur, Habiskan 50 Vial Anti-Bisa

Sebarkan artikel ini

TASIKMALAYA – Nasib nahas menimpa seorang anak berusia 12 tahun berinisial DK, warga Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya. DK kini tengah berjuang melewati masa kritis di Rumah Sakit KHZ Mustofa setelah dipatuk ular Weling (Bungarus candidus) saat sedang terlelap.

Peristiwa tragis ini bermula saat korban sedang tidur bersama ibunya di kediaman mereka. Di tengah lelapnya, DK terbangun dan melihat seekor ular berada di dekatnya. Secara spontan dan tanpa menyadari bahaya yang mengintai, korban mencoba mengambil dan memegang ular tersebut.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Seketika, ular berbisa tinggi itu langsung mematuk bagian tangan kanan korban. Menyadari ada yang tidak beres, keluarga sempat membawa DK ke tabib atau pengobatan tradisional terdekat. Namun, kondisi korban justru memburuk hingga akhirnya dilarikan ke RS KHZ Mustofa.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, DK mulai menunjukkan gejala keracunan sistemik yang parah. Ia mengeluh kesakitan, mengalami sesak napas, hingga kesulitan menelan—gejala khas dari neurotoksin kuat yang dimiliki ular Weling.

Hingga berita ini diturunkan, DK dilaporkan belum sadarkan diri. Tim medis telah bekerja keras dengan memberikan penanganan intensif, termasuk menyuntikkan sedikitnya 50 vial Serum Anti Bisa Ular (SABU). Namun, racun tersebut diketahui telah menyerang sistem saraf dan otot, khususnya pada bagian paru-paru.

“Dokter menyampaikan bahwa bisa ular tersebut sudah menyerang sistem otot pada paru-paru korban,” ujar salah satu pihak keluarga yang mendampingi.

Ular Weling (Bungarus candidus) dikenal sebagai salah satu ular paling mematikan di Indonesia. Racunnya bersifat neurotoksin yang menyerang saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan otot pernapasan.

Kerap kali, gigitan ular ini tidak menimbulkan rasa sakit yang hebat di awal, namun dapat berakibat fatal jika tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat dengan protokol imobilisasi.

Kasus yang menimpa DK ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat, terutama di daerah pedesaan, untuk selalu waspada terhadap keberadaan hewan melata di dalam rumah dan segera membawa korban gigitan ular ke fasilitas kesehatan resmi guna mendapatkan bantuan alat pernapasan (ventilator) dan serum yang memadai.





error: