Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Cerpen

IJAZAH DARI LANGIT

×

IJAZAH DARI LANGIT

Sebarkan artikel ini
IJAZAH DARI LANGIT

Jam di dinding sudah menunjuk pukul 17.25 WIB. Tapi bagi Rani, azan Maghrib seolah tidak pernah berkumandang. Televisi menyala, menayangkan sinetron yang sama sekali tidak ia tonton. Matanya kosong. Hatinya entah ke mana.

“Rani, sholate, Nduk…” tegurku pelan. “Ngko sek,” jawabnya ketus tanpa menoleh.

Istriku yang baru pulang memijat hanya bisa menghela napas. Aku lihat tangannya gemetar saat menaruh handuk. Ia capek, tapi lebih capek melihat anak semata wayangnya seperti ini.

Aku matikan TV. Hening.

“Bapak mati lampu saja lah, daripada peteng atine (gelap hatinya),” gumamku. Rumah ini terang, tapi hati kami semua gelap. Sejak kapan? Sejak “Bendu” (kutukan/kemurkaan) itu datang. Bendu yang tidak kelihatan, tapi mencekik. Rezekiku seret. Pijatan sepi. Rani sakit-sakitan. Istriku sering diam, menahan perih.

Malam itu aku tidak kuat. Aku keluar menembus hujan kecil, membeli rokok eceran dengan sisa uang receh. Batukku kambuh. Tapi lebih sakit dadaku. “Ya Allah… sampai kapan?”

Pulang, kulihat istriku duduk di pojok bale. Rani terlelap dengan wajah pucat. “Sudah, Mas. Jangan ditangisi,” katanya. “Sudah jadi jalannya.” Kalimat itu lebih sakit dari tamparan. Aku lelaki. Aku imam. Tapi aku tidak bisa membawa keluargaku keluar dari kegelapan ini.

Pukul 03.15 WIB. Tarhim menggema dari musala. Hatiku merintih. Pedih. “Ya Allah… Aku banyak dosa di hadapan-Mu. Aku banyak noda, ya Allah. Ampunilah aku…” Hanya itu yang sanggup kuucap dengan segenap jiwa yang remuk. “Berikan rahmat-Mu kepada keluargaku…” Aku tatap Rani dan istriku satu per satu. Aku terus terjaga hingga azan Subuh terdengar.

Pagi datang. Dengan sisa uang lima ribu dari tas istriku, kubeli gorengan. Kami sarapan bertiga dengan nasi sepiring. Aku hanya makan satu suap, biar mereka kenyang. “Ya Allah, turunkan rezeki-Mu…” rintihku sambil menatap mereka makan.

Kubuka pintu samping agar cahaya masuk. Semalaman rumah ini terasa cukup gelap.

Siang hari, istriku pamit memijat ke desa sebelah. Aku menjaga Rani. Jam dua istriku pulang membawa sekilo beras, sayur, dan sisa uang. “Maturnuwun ya Allah atas rezeki-Mu hari ini,” lirihku. Lega. Tapi aku tahu, ini baru awalannya.

Pukul 4 sore. Pintu kamar kami tutup rapat. Istriku buka suara, “Ada rencana apa lagi orang itu…” ucapnya tentang kembaranku. Kujawab tegas, “Sudahlah, Ma. Itu tidak penting. Yang penting itu keluargaku. Kamu, aku, dan Rani.”

Kutatap Rani yang gelisah. “Ada satu perkara yang lebih utama, Ma. Yang membuat hidup kita tenggelam. Kita harus keluar dari persoalan ini.” “Persoalan apa, Mas?” “Persoalannya… adalah BENDU!”

Njagong, Nduk. Bapak lagi ngomong,” ujar istriku. Rani pun duduk di dekatku dengan kepala tertunduk.

Kutatap wajahnya dalam-dalam. Ada rasa takut, malu, entahlah. “Rani, Bapak ingin kamu sadar sepenuhnya atas semua kejadian ini. Dan ini mahal, tidak bisa diulang lagi,” ucapku tegas. Wajah Rani memerah, air mata mulai membasahi pipinya.

“Bapak kasihan sekali padamu, Nduk. Bapak takut nanti ada kejadian yang tidak bisa Bapak mengerti dan menakutkan. Aku tahu, Nduk… kamu masih mengabaikan nasihat Bapak. Kamu masih sibuk dengan cara berpikirmu itu. Padahal, Nduk, itu semua tidak penting bagi Bapak. Itu tidak akan penting!”

Rani mulai menangis. Badannya bergetar.

Nduk, hanya satu pinta Bapak kepadamu sore ini, detik ini, jam lima sore ini. Kembalilah kamu meminta maaf kepada Ibu.” Tanganku mengangkat ponsel, ada tulisan di sana: “Rumah yang Dirindu”. “Bapak tahu… kamu tidak pernah membaca tulisan ini. Betul?” Suaraku mulai goyah. Aku menangis menahan segala perasaan. “Betul kan, Rani, kamu belum membaca kalimat ini?” “Iya…” jawab Rani lirih di sela isak tangisnya.

Aku buka kalimat itu. Kutunjukkan sebentar ke Rani, lalu kutatap istriku dalam-dalam, mengharap rida darinya. Aku diam, kugenggam ponsel itu erat. “Aku harus berdoa dulu memohon izin Allah SWT, agar hidayah itu dapat diterima,” kataku.

Kupejamkan mata dengan khusyuk. “Ya Allah… lembutkan hati anakku. Bukakan pintu maaf di hati ibunya. Cukup sudah Bendu ini Ya Allah… Cukup.”

“Silakan Rani, kamu bacalah kalimat ini pelan-pelan.”

Rani menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Di hadapan ibunya, dia mulai membaca. Itu adalah surat maaf Rani kepada ibunya. Suaranya bergetar. Tangisnya meruntuhkan hatiku dan hati ibunya.

Aku tidak kuat. Aku keluar untuk mengambil air. Dari luar, kudengar Rani menangis semakin keras sambil terus membaca kalimat demi kalimat permohonan maaf itu.

Selesai membaca, Rani meletakkan ponsel tersebut. Dengan tangan gemetar, ia segera memegang tangan ibunya.

“Ibu… Rani minta maaf ya, Bu…” Suara Rani pecah. Jeritan tangisnya menyesakkan dada. Pilu sekali rasanya. “Rani salah, Rani berdosa, Rani durhaka sama Ibu…”

Rani terus mencium tangan ibunya bertubi-tubi.

Ibunya terdiam. Lalu dengan suara bergetar, ia menarik kepala Rani ke dadanya. “Iya, Nduk… sudah Ibu maafkan kesalahanmu. Ibu ikhlas, Ibu rida… Semoga Gusti Allah memberikan panjang umur, kesehatan… Selamat dunia dan selamat akhirat…”

Ucapan istriku bergetar sambil terus merangkul bahu Rani erat sekali.

Di situ ada kekuatan—kekuatan seorang ibu yang akhirnya melepas “Bendu”. Di situ juga ada ketakutan—ketakutan akan azab yang hampir saja menimpa anaknya.

Aku di ambang pintu menyaksikan semua itu. Air mataku jatuh. Pintu langit terbuka. Ijazah itu sudah dicap.

Malam harinya. Aku masuk kamar. Kuselimuti Rani yang sudah lelap. Ia tampak nyaman sekali. Aneh, udara kamar terasa sejuk, tidak panas lagi. Rumah terasa ringan. “Alhamdulillah… Ya Allah. Kuatkan iman kami untuk bertaubat. Tuntunlah kami di jalan-Mu,” bisikku.

Sejak jam 5 sore itu, semua berubah. Pijatan yang dulu sepi, sekarang teleponku sering berdering. Beras yang dulu hanya sekilo, sekarang tidak pernah habis. Rani yang dulu pucat, sekarang wajahnya cerah. Salatnya tidak pernah lewat. Istriku… senyumnya telah kembali.

Ternyata surga itu dekat. Tidak melulu di Mekkah atau Madinah. Surga itu ada di rumah; saat anak meminta maaf kepada ibunya, dan ibu memberikan ridanya.

Bendu itu nyata, tapi Ijazah dari Langit jauh lebih nyata. Dan ia turun bukan jam 9 pagi di kantor pos, melainkan jam 5 sore di kamar yang sempit, melalui air mata seorang anak yang kembali pulang.

— TAMAT —





















banner
error:
Verified by MonsterInsights