
CMI News — Pasar obligasi Indonesia tengah memancarkan sinyal positif. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meluncur ke posisi terendah sejak September 2021. Bagi pemerintah, tren ini menjadi kabar menggembirakan: beban bunga utang kian ringan, dan ruang fiskal terbuka lebih luas.
Yield SBN Sentuh Titik Terendah Sejak 2021
Berdasarkan data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Senin (14/10/2025), yield SBN tenor 10 tahun turun 2,4 basis poin (bps) menjadi 6,115%, terendah dalam empat tahun terakhir. Hingga Selasa pagi (15/10), yield masih melanjutkan tren turun di 6,099%.
Penurunan yield ini menandakan permintaan investor terhadap SBN kian kuat. Dalam bahasa sederhana: semakin banyak yang ingin membeli obligasi pemerintah, semakin kecil imbal hasil yang harus ditawarkan pemerintah sebagai kompensasi risiko.
Investor Asing Kembali Masuk

Tren penurunan yield tidak lepas dari kembalinya minat asing terhadap surat utang Indonesia. Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia, periode 6–9 Oktober 2025 mencatat net buy asing senilai Rp6,43 triliun di pasar SBN — pembalikan tajam setelah tiga pekan berturut-turut sebelumnya diwarnai capital outflow.
Secara total, sepanjang 2025, aliran dana asing yang masuk ke pasar SBN telah mencapai Rp77,1 triliun.
Kabar Baik untuk APBN
Turunnya yield SBN menjadi angin segar bagi Kementerian Keuangan. Dengan bunga utang yang semakin rendah, pemerintah bisa menekan biaya pembayaran bunga dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam laporan APBN Kita edisi Agustus 2025, rata-rata yield SBN 10 tahun tercatat 6,80% year-to-date (ytd), sedangkan di bulan Agustus turun menjadi 6,28%. Kini, posisinya di pasar sekunder sudah turun lebih dalam ke 6,115%, memperkuat potensi efisiensi fiskal di sisa tahun berjalan.
Laporan semester I 2025 menunjukkan bahwa realisasi pembayaran bunga utang telah mencapai 46,5% dari pagu APBN, atau naik 7,13% dibandingkan tahun lalu.
Namun, penurunan yield berpotensi menahan laju kenaikan tersebut di semester II, terutama karena penerbitan surat utang baru dapat dilakukan dengan biaya bunga yang lebih murah.
Rinciannya, bunga utang dalam negeri tercatat Rp235,15 triliun (naik 7,89% yoy), sementara bunga utang luar negeri turun tipis menjadi Rp21,9 triliun.
Investor Masih Antusias di Lelang SBN
Minat investor juga tercermin dari hasil lelang pemerintah. Pada lelang 7 Oktober 2025, misalnya, total penawaran mencapai Rp126,16 triliun, jauh di atas target penerbitan Rp28 triliun.
Fenomena ini menegaskan bahwa pasar obligasi Indonesia masih menjadi primadona, bahkan di tengah ketidakpastian global.
Menang Tipis dari Malaysia
Dari sisi regional, posisi Indonesia cukup kompetitif. Secara year-to-date, yield SBN tenor 10 tahun Indonesia turun dari 7,01% ke 6,11%, atau terkoreksi 91 bps.
Penurunan ini lebih besar dibandingkan Malaysia (−35 bps ke 3,48%), India (−27 bps ke 6,52%), dan Afrika Selatan (−80 bps ke 9,12%).
Meski masih kalah dari Brasil yang mencatat koreksi tajam hingga −108 bps, performa Indonesia menunjukkan daya tarik yang terus menguat di mata investor global.






