CMI News — Nama Ustaz Yusuf Mansur kembali menjadi perbincangan publik setelah sebuah video lawas yang menampilkan dirinya menawarkan “jasa doa online berbayar” kembali viral di media sosial. Dalam video tersebut, Yusuf Mansur tampak menyebutkan tarif doa yang disebut-sebut mencapai puluhan juta rupiah, memicu pro dan kontra di kalangan netizen.

Namun, ketika dikonfirmasi, Yusuf Mansur menegaskan bahwa video tersebut tidak menggambarkan fakta sebenarnya. Ia menjelaskan bahwa video itu rekaman lama, diambil sekitar tahun 2014 hingga 2016, dan konteksnya adalah candaan semata.

“Itu video lama, dan saya memang suka bercanda,” ujar Yusuf Mansur, dikutip Selasa (14/10/2025).

Konteks Sebenarnya di Balik Video Viral

Menurut penuturan Yusuf Mansur, saat itu ia sedang mengetes fitur transfer antar pengguna dengan nominal Rp1 dalam sebuah aplikasi. Dalam suasana santai tersebut, ia sempat melontarkan candaan mengenai doa sebagai bentuk interaksi spontan.

“Waktu itu kerangkanya lagi ngetes fitur transfer Rp1 antar pengguna. Jadi saya bilang, ‘yang transfernya lebih dari Rp1, nanti saya doain.’ Itu cuma bercanda, nggak serius sama sekali,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa selama ini dirinya tidak pernah meminta bayaran untuk doa atau ajakan ibadah dalam bentuk apa pun. Candaan seperti itu, menurutnya, kerap ia lontarkan di berbagai kesempatan sebagai bagian dari gaya komunikasinya yang santai dan humoris.

Klarifikasi: Tidak Pernah Jual Doa

Yusuf Mansur, yang juga dikenal sebagai pimpinan Pesantren Daarul Qur’an, berharap masyarakat tidak menilai secara sepotong-sepotong dan bisa melihat konteks utuh dari video tersebut. Ia mengingatkan bahwa potongan video di media sosial sering kali diambil tanpa konteks lengkap, sehingga mudah menimbulkan salah paham.

“Saya nggak pernah minta-minta duit untuk doa. Itu cuma candaan. Jadi jangan disalahartikan,” tegasnya.

Fenomena Viral dan Tantangan Literasi Digital

Kasus viral ini kembali menunjukkan bagaimana konten lama dapat memunculkan persepsi baru di era digital. Dalam konteks ekonomi digital dan komunikasi publik, fenomena seperti ini juga menjadi pengingat pentingnya literasi digital dan manajemen reputasi bagi tokoh publik.

Bagi publik, penting pula untuk memeriksa konteks dan sumber informasi sebelum menarik kesimpulan, terutama terkait isu yang melibatkan figur keagamaan atau publik. Dalam ekosistem media sosial yang cepat menyebar, klarifikasi seperti yang dilakukan Yusuf Mansur menjadi langkah krusial untuk meredam kesalahpahaman.