
PEMALANG – Upaya keras tim SAR gabungan dalam mencari korban tanah longsor di Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, mulai membuahkan hasil. Pada Senin (26/1/2026), petugas berhasil menemukan satu dari dua korban yang tertimbun material longsor dalam kondisi meninggal dunia.
Korban teridentifikasi bernama Aksinudin (40). Jasadnya ditemukan di bawah tumpukan material tanah dan lumpur yang menutup area persawahan di Dusun Siranti. Setelah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian, jenazah korban langsung dibawa untuk diserahkan kepada pihak keluarga guna proses pemakaman.
Staf Operasi Kantor SAR Semarang, Handhika, mengonfirmasi kabar penemuan tersebut. “Iya, benar sudah ditemukan satu korban atas nama Aksinudin. Setelah evakuasi, jenazah langsung diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan,” ujarnya kepada awak media.
Misi Pencarian Berlanjut: Mencari Sang Ayah
Meski satu korban telah ditemukan, tugas Tim SAR Gabungan masih jauh dari kata usai. Petugas kini memfokuskan seluruh kekuatan untuk menemukan satu korban lainnya, yaitu Hamim (60). Berdasarkan informasi dari perangkat desa setempat, Hamim merupakan ayah kandung dari Aksinudin.
Tragedi ini bermula pada Minggu (25/1) pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu, bapak dan anak tersebut tengah beraktivitas di lahan pertanian mereka yang terletak di kawasan perbukitan Perhutani. Naas, hujan deras yang mengguyur wilayah selatan Pemalang sejak sehari sebelumnya memicu longsoran besar dari perbukitan yang langsung menimbun area persawahan tempat keduanya bekerja.
Proses pencarian di hari kedua ini tidak berjalan mudah. Sejak Senin pagi, wilayah Watukumpul terus diliputi mendung tebal disertai hujan ringan hingga sedang. Kondisi ini membuat material longsoran menjadi sangat lembek dan licin, sehingga membahayakan pergerakan personel di lapangan.

Selain faktor cuaca, luasnya area terdampak yang mencapai satu hektare serta lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk—sekitar satu kilometer—menjadi tantangan logistik tersendiri. Keterbatasan akses alat berat memaksa tim yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan tetap mengandalkan metode manual di titik-titik tertentu.
“Kami terus melakukan penyisiran dengan tetap mengutamakan keselamatan personel. Mengingat curah hujan masih tinggi, potensi longsor susulan harus selalu diwaspadai,” tambah Handhika.
Pihak kepolisian dan BPBD setempat terus menghimbau warga agar menjauhi lokasi bencana dan lereng-lereng perbukitan yang rawan pergeseran tanah. Partisipasi masyarakat dalam memberikan informasi tanda-tanda alam sangat diharapkan demi mencegah jatuhnya korban tambahan di tengah cuaca ekstrem yang masih melanda wilayah Pemalang dan sekitarnya.
Hingga berita ini diturunkan, sekitar 100 personel gabungan masih bersiaga dan terus berupaya menyisir tumpukan material tanah demi menemukan Hamim agar dapat segera dikembalikan ke pihak keluarga.






