
CMI News — Saham emiten properti PT Esta Multi Usaha Tbk. (ESTA) tengah mencuri perhatian pelaku pasar. Dalam beberapa pekan terakhir, harga saham ESTA melesat tajam hingga 167,53% secara year to date, memicu spekulasi dan sorotan dari otoritas bursa.
Menanggapi lonjakan tersebut, manajemen ESTA akhirnya buka suara. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur ESTA Andaru Surya Gautama menjelaskan bahwa perusahaan tidak memiliki informasi material yang dapat memengaruhi pergerakan saham. Namun, ia mengakui adanya pembicaraan mengenai potensi akuisisi saham perusahaan oleh pihak eksternal.
“Saat ini Perseroan sedang berdiskusi mengenai potensi akuisisi saham. Pemegang saham pengendali tengah berkomunikasi dengan calon pembeli prospektif. Namun, belum ada perjanjian yang mengikat dan prosesnya masih bersifat rahasia,” ujar Andaru, dikutip, Selasa (14/10/2025).
Tahapan Proses dan Kepatuhan Regulasi
Andaru menegaskan bahwa apabila pembicaraan tersebut berkembang menjadi kesepakatan formal, ESTA akan mematuhi ketentuan POJK No. 9/POJK.04/2018 terkait pengambilalihan perusahaan terbuka. Pihaknya berkomitmen untuk segera melakukan keterbukaan informasi kepada publik sesuai ketentuan pasar modal.

Sementara itu, BEI sebelumnya sempat melakukan suspensi (penghentian sementara) perdagangan saham ESTA pada 2 Oktober 2025 sebagai langkah “cooling down” untuk melindungi investor dan memberikan waktu bagi pasar mencerna perkembangan informasi secara rasional. Suspensi tersebut dibuka kembali pada 6 Oktober, namun diterapkan lagi pada 9 Oktober 2025 setelah volatilitas harga dinilai masih tinggi.
Kenaikan Saham yang Signifikan
Menurut data dari Stockbit, saham ESTA kini berada di level Rp206 per saham, naik tajam dibanding awal tahun. Lonjakan signifikan ini mencerminkan meningkatnya minat investor, sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai potensi aksi korporasi di baliknya.
Pasar kerap menafsirkan rumor akuisisi sebagai sinyal positif, karena biasanya disertai dengan potensi perbaikan struktur permodalan atau ekspansi bisnis baru. Namun, di sisi lain, tanpa konfirmasi resmi, pergerakan harga yang ekstrem juga dapat meningkatkan risiko spekulatif bagi investor.






