CMI News — Nilai tukar rupiah menutup perdagangan tanpa perubahan berarti. Di tengah tekanan global dan menurunnya tensi dolar AS, rupiah justru bergerak terbatas dan masih bertahan di sekitar Rp16.655 per dolar AS.

Data Refinitiv menunjukkan, sepanjang sesi perdagangan rupiah bergerak tipis di rentang Rp16.640–Rp16.670 per dolar AS, mencerminkan minimnya katalis yang dapat mendorong penguatan lebih lanjut.

Dolar AS Melemah, Tapi Rupiah Belum Bisa Manfaatkan Momentum

Indeks dolar (DXY) tercatat melemah tipis 0,07% ke posisi 99,39 pada pukul 15.00 WIB. Secara teori, pelemahan dolar AS biasanya membuka ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang. Namun, pelaku pasar tampak berhati-hati menjelang sejumlah agenda besar di akhir tahun.

Ekspektasi bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga 25 bps pekan depan menjadi salah satu faktor yang menekan dolar. Selain itu, rumor bahwa Kevin Hassett, ekonom yang dikenal dovish, menjadi kandidat kuat pengganti Jerome Powell menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.

Sentimen ini membuat investor global menahan diri sambil menunggu data ketenagakerjaan AS dan konfirmasi rencana kebijakan moneter awal 2026.

Inflasi Stabil & Surplus Dagang Terjaga

Dari dalam negeri, rilis data makro hari ini memberikan gambaran kondisi fundamental Indonesia yang masih solid.

Inflasi November 2025: 0,17% (mtm) dan 2,72% (yoy)

Inflasi year-to-date: 2,27% — masih di dalam target Bank Indonesia

Surplus neraca perdagangan Oktober: US$2,4 miliar
(turun dari US$4,34 miliar di September, namun menandai surplus ke-66 bulan berturut-turut)

Stabilnya inflasi dan berlanjutnya surplus perdagangan menjadi penopang penting rupiah. Namun, faktor global masih menjadi penentu utama arah pergerakan jangka pendek.

Pasar Masih Menahan Diri

Meski tekanan dolar mereda, rupiah belum menunjukkan penguatan berarti. Investor cenderung menunggu:

1. Agenda FOMC – potensi pemangkasan suku bunga terakhir di 2025

2. Penunjukan Ketua The Fed baru

3. Rilis data ketenagakerjaan AS

4. Respons pasar terhadap arah kebijakan moneter di awal 2026.