
DOGIYAI, CMI News — Musibah kebakaran melanda keluarga Matias Tagi, warga Kampung Kigamani, Distrik Dogiyai, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, Senin (14/9/2026) sekitar pukul 11.00 WIT.
Kebakaran yang diduga berawal dari pembakaran lahan hutan seluas kurang lebih 7 hektare tersebut menghanguskan dua rumah beserta seluruh harta benda milik keluarga Matias Tagi. Tidak ada satu pun barang berharga yang berhasil diselamatkan.
Menurut keterangan Matias kepada awak media, saat kebakaran terjadi dirinya sedang berada di hutan yang lokasinya cukup jauh dari rumah untuk mencincang pagar. Sementara istrinya sejak pagi berada di kebun untuk mencari sayur yang rencananya akan dijual pada sore hari.
Tanpa sepengetahuan mereka, api kemudian merembet hingga ke kawasan rumah dan menghanguskan seluruh bangunan beserta isinya.
Kerugian yang dialami keluarga Matias bukan hanya kehilangan tempat tinggal. Uang tunai sebesar Rp121 juta yang telah disiapkan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya ikut terbakar.

Selain itu, uang sebesar Rp17 juta milik gereja yang berada di rumah tersebut juga ikut menjadi korban kebakaran.
Jika kedua nominal tersebut dijumlahkan, sedikitnya Rp138 juta uang tunai ikut hangus dalam peristiwa tersebut.
Tidak hanya uang, sejumlah dokumen pendidikan yang sangat penting bagi masa depan anak-anak Matias juga ikut terbakar. Di antaranya ijazah SD, SMP, dan SMA milik empat orang anaknya serta satu ijazah sarjana milik salah seorang anaknya.
Belasan meter kubik pagar hasil cincangan, kebun yang telah ditanami sayuran, buah-buahan dan berbagai tanaman umbi-umbian juga ikut musnah.
Matias Tagi yang kini berusia 68 tahun mengaku sangat terpukul melihat seluruh hasil jerih payah yang dikumpulkannya sejak usia muda musnah dalam sekejap.
“Sekarang saya harus bagaimana melihat kenyataan ini? Seluruh harta yang saya sudah kumpulkan sejak usia muda sampai saat ini, umur saya sudah 68 tahun, sungguh saya tidak sanggup menerimanya,” ungkap Matias.
Kesedihan Matias semakin mendalam ketika mengingat ijazah anak-anaknya yang ikut terbakar.
“Apalagi terbakarnya ijazah-ijazah milik anak-anak saya. Saya akan bilang apa kepada mereka apabila mendengar kejadian ini? Ke depannya mereka akan jadi apa? Tentu mereka juga akan kembali seperti saya menjadi petani,” katanya.
Matias mengatakan dirinya akan berusaha mencari tahu penyebab dan pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut berdasarkan dugaan serta informasi yang diperolehnya.
“Tuhan yang tahu kejadian ini. Saya akan cari tahu pelakunya berdasarkan dugaan yang ada,” ujarnya.
Kepala Kampung Kigamani, Daud Tebai, turut menyampaikan keprihatinannya atas musibah yang dialami keluarga Matias Tagi.
Menurut Daud, kerugian yang dialami korban sangat besar dan pihak kampung memiliki keterbatasan untuk memberikan penggantian atas seluruh harta yang hilang.
Ia menjelaskan bahwa anggaran dana kampung tahun ini telah disusun dan diprogram untuk berbagai kebutuhan pembangunan serta pelayanan masyarakat.
Karena itu, Daud berharap pemerintah dapat memberikan perhatian dan bantuan kepada keluarga korban.
“Saya sangat berempati atas semua harta yang lenyap dari kepemilikan keluarga korban. Saya tidak bisa membantu menggantikan harta sebanyak itu, apalagi anggaran dana kampung yang dikucurkan tahun ini semuanya sudah terencana dan terprogram,” tutur Daud.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Dogiyai, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, maupun Pemerintah Pusat dapat hadir membantu keluarga Matias Tagi sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku terkait penanganan korban bencana.
Peristiwa tersebut kini menyisakan duka mendalam bagi keluarga Matias Tagi. Dua rumah tempat mereka menjalani kehidupan, uang yang dipersiapkan untuk pendidikan anak-anak, dokumen pendidikan, serta berbagai harta benda yang dikumpulkan selama puluhan tahun, semuanya musnah dilalap api.
Masyarakat setempat berharap penyebab kebakaran dapat segera diketahui dan apabila ditemukan unsur kesengajaan maupun pihak yang bertanggung jawab, proses penanganannya dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.






