
PEMALANG — Calon Kepala Desa Randudongkal, Walis Erlangga Firera, menunjukkan sikap ksatria dengan memilih untuk terbuka mengenai perjalanan masa lalunya kepada masyarakat. Ia menegaskan tidak pernah berniat menutupi catatan masa kelam yang pernah dialaminya, serta menyatakan telah sepenuhnya menjalani proses hukum dan hukuman yang dijatuhkan kepadanya.
Keterbukaan tersebut bukanlah strategi yang baru dimunculkan menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Walis mengaku telah berkali-kali menyampaikan secara jujur kepada warga dalam berbagai kesempatan tatap muka bahwa ia memiliki masa lalu yang tidak sempurna.
“Saya tidak pernah mengatakan kepada masyarakat bahwa saya tidak punya masa lalu. Saya punya masa lalu, saya punya masa kelam, dan saya tidak menutupinya. Apa yang menjadi proses hukum sudah saya jalani dan saya pertanggungjawabkan,” ujar Walis.
Walis menyampaikan bahwa dirinya sangat menghormati proses hukum yang telah dilaluinya. Oleh karena itu, ketika panitia Pilkades meminta adanya pernyataan terbuka terkait riwayat hukum tersebut, ia langsung menyatakan kesiapannya untuk transparan di hadapan publik.
“Saya menghormati panitia dan seluruh ketentuan yang berlaku. Kalau memang masyarakat perlu mengetahui perjalanan masa lalu saya, saya siap menyampaikannya secara terbuka. Saya tidak ingin ada yang saya tutup-tutupi,” tegasnya.
Bagi Walis, masa lalu merupakan bagian dari lembaran hidup yang tidak bisa dihapus. Kendati demikian, ia meyakini bahwa setiap manusia berhak dan harus diberi ruang untuk memperbaiki diri setelah bertanggung jawab atas perbuatannya.

“Yang sudah terjadi tidak mungkin saya putar kembali. Yang bisa saya lakukan adalah bertanggung jawab, menjalani proses yang harus saya jalani, kemudian belajar dari semuanya dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik,” tuturnya.
Di tengah kontestasi politik desa, Walis berpesan agar isu masa lalunya tidak dijadikan alat untuk memecah belah kerukunan antarwarga Randudongkal. Ia mengajak seluruh pendukung maupun masyarakat luas untuk menjaga keamanan, menghormati perbedaan pilihan, serta menghindari tindakan atau informasi yang berpotensi memicu konflik.
“Saya tidak ingin Pilkades ini membuat masyarakat terpecah. Berbeda pilihan adalah hal yang biasa dalam demokrasi. Mari kita sama-sama menjaga Randudongkal agar tetap aman, damai, dan kondusif,” imbaunya.
Pada akhirnya, Walis menyerahkan sepenuhnya penilaian kepada masyarakat sesuai dengan hati nurani dan aturan yang berlaku. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya telah siap melangkah ke depan demi membawa perubahan positif bagi desanya.
“Saya tidak meminta masyarakat melupakan masa lalu saya. Saya hanya ingin masyarakat mengetahui bahwa saya tidak lari dari masa lalu itu. Saya sudah menjalani proses hukum yang harus saya jalani. Sekarang saya ingin melangkah ke depan dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya. (red)






