PEMALANG – Tragedi memilukan melanda pusat ekonomi rakyat di Kabupaten Pemalang. Komplek Kios Baju Pasar Pagi Pemalang, Kelurahan Mulyoharjo, rata dengan tanah setelah diterjang amukan si jago merah pada Selasa sore (23/12/2025). Api yang berkobar hebat tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga melumat habis modal usaha para pedagang yang ditaksir mencapai Rp5 miliar.

Insiden bermula saat aktivitas pasar masih berlangsung normal sekira pukul 17.30 WIB. Secara mengejutkan, kepulan asap hitam pekat tiba-tiba menyeruak dari bagian tengah komplek kios baju.

Wanto (40), salah satu pedagang yang berada di lokasi, menceritakan momen kepanikan tersebut. “Asap tebal langsung muncul dari tengah. Kami semua syok, suasana langsung kacau karena orang-orang berhamburan menyelamatkan diri,” ungkapnya dengan nada bergetar.

Hanya dalam hitungan menit, api yang diduga berasal dari korsleting listrik tersebut langsung membesar. Ribuan helai pakaian yang memenuhi kios-kios pedagang seolah menjadi bahan bakar yang membuat api kian beringas.

Meski armada Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Pemalang sudah tiba di lokasi sepuluh menit setelah kejadian (pukul 17.40 WIB), namun besarnya energi api membuat petugas harus bekerja ekstra keras. Butuh waktu sekitar 90 menit hingga akhirnya tim Damkar berhasil menaklukkan api pada pukul 19.00 WIB.

Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa berdarah dingin ini, kerugian ekonomi yang diderita para pedagang sangat fantastis. Berdasarkan data yang dihimpun, seluruh komplek kios baju terbakar habis tanpa menyisakan barang dagangan.

“Estimasi kerugian diperkirakan mencapai Rp5 Miliar. Seluruh bangunan dan barang milik pedagang ludes terbakar,” kata kepla BPBD Pemalang saat dikonfirmasi CMI News.

Hingga malam ini, petugas keamanan masih bersiaga di lokasi untuk mensterilkan Tempat Kejadian Perkara (TKP). Warga dilarang mendekat demi menghindari risiko bangunan runtuh maupun sisa hawa panas. Unit intelijen juga terus memantau situasi untuk memastikan kondisi pasca-kebakaran tetap kondusif dan mencegah isu-isu liar yang berkembang.

Kini, para pedagang hanya bisa terpaku melihat tempat mereka mencari nafkah telah berubah menjadi puing dan arang.