Banjarnegara, cminews.co.id : Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) terus memperluas kontribusinya terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui penguatan pendidikan berkualitas, kemitraan, dan internasionalisasi pendidikan. Salah satunya diwujudkan Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) UMP melalui kolaborasi dengan Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (PP MBS) Wanayasa, Banjarnegara.

Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam kegiatan bertajuk “Penguatan Kelas Bilingual pada Pembelajaran Bahasa Terintegrasi dengan Budaya Karakter Islami” yang dilaksanakan di PP MBS Wanayasa, Selasa (4/8/).

Program yang menjadi implementasi Memorandum of Understanding (MoU) antara Magister PAI UMP dan PP MBS Wanayasa itu menghadirkan tiga mahasiswa internasional UMP dari tiga negara untuk berinteraksi langsung dengan para santri.

Mereka adalah Samara, mahasiswa Magister PAI Fakultas Agama Islam UMP asal Palestina; Jibril, mahasiswa Pendidikan Agama Islam S1 UMP asal Mali; serta Ahmed Fawzi, mahasiswa Teknik Sipil UMP asal Sudan.

Kehadiran ketiganya membuat pembelajaran bahasa tidak lagi terbatas pada teori di ruang kelas. Para santri memperoleh pengalaman berkomunikasi secara langsung dengan mahasiswa internasional melalui percakapan, tanya jawab, permainan edukatif, aktivitas kelompok, serta berbagai praktik komunikasi sederhana.

Model pembelajaran tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan lintas budaya. Santri tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga mengenal kehidupan dan kebudayaan masyarakat dari berbagai negara.

Dukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Ketua Program Studi Magister PAI UMP, Assoc. Prof. Dr. Darodjat, M.Ag., mengatakan program tersebut menjadi bentuk konkret pengembangan pembelajaran bahasa yang mengintegrasikan kompetensi global dengan pembentukan karakter Islami.

“Pembelajaran bahasa tidak cukup hanya dengan menghafalkan kosakata dan memahami tata bahasa. Santri perlu memiliki kesempatan menggunakan bahasa dalam situasi nyata. Ketika mereka berinteraksi langsung dengan Samara dari Palestina, Jibril dari Mali, dan Ahmed Fawzi dari Sudan, mereka belajar bahasa sekaligus belajar tentang kehidupan, budaya, persaudaraan, dan keberagaman umat Islam di dunia,” ungkap Darodjat.

Program tersebut sejalan dengan semangat SDG 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas, terutama dalam menghadirkan kesempatan belajar yang relevan, inklusif, dan mampu membekali peserta didik dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan global.

Menurut Darodjat, kelas bilingual di pesantren memiliki posisi strategis untuk mempersiapkan generasi santri yang memiliki kemampuan komunikasi global tanpa kehilangan identitas keislamannya.

“Target kita bukan sekadar santri mampu berbahasa asing, tetapi mampu menjadi pribadi yang percaya diri, terbuka terhadap dunia, memiliki karakter Islami, dan tetap kuat dengan identitas sebagai santri. Jadi, global competence dan Islamic character harus tumbuh bersama,” tegasnya.

Internasionalisasi UMP Hadir hingga Pesantren

Darodjat menambahkan, internasionalisasi pendidikan tidak selalu harus diwujudkan dengan mengirim mahasiswa atau pelajar ke luar negeri. Perguruan tinggi juga dapat menghadirkan pengalaman internasional secara langsung kepada masyarakat dan lembaga pendidikan di daerah.

“Internasionalisasi tidak harus selalu berarti mahasiswa pergi ke luar negeri. Dunia internasional juga dapat kita hadirkan ke ruang kelas melalui interaksi dengan mahasiswa dari berbagai negara. Hari ini, santri PP MBS Wanayasa dapat merasakan pengalaman internasional melalui Samara, Jibril, dan Ahmed Fawzi. Ini adalah bentuk nyata bagaimana UMP menghadirkan internasionalisasi pendidikan sampai ke pesantren,” jelasnya.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya UMP memperluas manfaat keberadaan mahasiswa internasional. Interaksi mahasiswa dari berbagai negara tidak hanya berlangsung di lingkungan kampus, tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran bagi sekolah, pesantren, dan masyarakat.

Melalui program tersebut, mahasiswa internasional sekaligus menjadi jembatan pertukaran pengetahuan dan budaya antara UMP dengan masyarakat.

Perkuat SDG 17 melalui Kemitraan Perguruan Tinggi-Pesantren

Selain mendukung pendidikan berkualitas, kolaborasi Magister PAI UMP dan PP MBS Wanayasa juga relevan dengan SDG 17: Partnerships for the Goals atau Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Implementasi MoU menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dan pesantren dapat membangun kemitraan yang menghasilkan kegiatan nyata dan memberikan manfaat langsung kepada peserta didik.

Mudir Ma’had PP MBS Wanayasa, Al-Ustadz KH. Wahyudin, S.Ag., M.S.I., mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, interaksi dengan mahasiswa dari Palestina, Mali, dan Sudan memberikan pengalaman yang sulit diperoleh santri melalui pembelajaran konvensional.

“Kami sangat mengapresiasi program ini. Anak-anak mendapatkan pengalaman yang luar biasa karena bisa berinteraksi langsung dengan mahasiswa internasional dari Palestina, Mali, dan Sudan. Ini pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di dalam buku, tetapi benar-benar mereka alami,” ujarnya.

Menurut Wahyudin, kemampuan bahasa dan wawasan internasional kini menjadi kebutuhan penting bagi santri. Namun, keterampilan tersebut tetap harus dibangun dengan fondasi akhlak dan nilai-nilai Islam.

“Santri perlu memiliki kemampuan bahasa dan wawasan global, tetapi pada saat yang sama mereka harus tetap memiliki akhlak, adab, dan karakter Islami yang kuat. Kami ingin santri MBS Wanayasa mampu bergaul dengan siapa saja, memahami perbedaan, tetapi tetap memiliki identitas sebagai seorang muslim,” tambahnya.

Dari Wanayasa Menuju Pergaulan Global

Antusiasme terlihat ketika para santri mulai berkomunikasi dengan mahasiswa internasional UMP. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mencoba berbicara, mengikuti permainan, serta terlibat dalam aktivitas kelompok.

Bagi sebagian santri, kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertama berkomunikasi secara langsung dengan warga negara asing.

“Biasanya belajar bahasa di kelas menggunakan buku. Sekarang kami bisa langsung berbicara dengan orang dari negara lain. Awalnya sedikit malu dan takut salah, tetapi lama-lama menjadi berani,” ungkap salah seorang santri.

Interaksi tersebut tidak hanya mengembangkan kemampuan bahasa, tetapi juga melatih keberanian, kepercayaan diri, keterbukaan terhadap perbedaan, dan kemampuan berkomunikasi lintas budaya.

Kehadiran mahasiswa dari Palestina, Mali, dan Sudan juga memperlihatkan kepada para santri bahwa masyarakat Muslim dunia memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang beragam, tetapi dipersatukan oleh nilai persaudaraan dan kemanusiaan.

Kolaborasi tersebut sekaligus memperkuat komitmen UMP dalam membawa agenda SDGs ke dalam kegiatan pendidikan dan pengabdian yang konkret. Setidaknya, program tersebut bersinggungan kuat dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, serta turut menumbuhkan pemahaman lintas budaya yang mendukung semangat masyarakat yang inklusif.

Bagi Magister PAI UMP, kerja sama dengan PP MBS Wanayasa menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi Muhammadiyah dalam mengembangkan model pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan global.

Sementara bagi PP MBS Wanayasa, kegiatan tersebut memperkuat ekosistem pembelajaran bilingual yang tidak semata-mata language-oriented, tetapi juga character-oriented.

Dari ruang kelas pesantren di Wanayasa, para santri mendapatkan kesempatan mengenal dunia. UMP menghadirkan pengalaman global lebih dekat kepada mereka, dengan kemampuan bahasa sebagai jembatan dan karakter Islami sebagai fondasinya. (*)