Demak, cminews.co.id — Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 33 Desa Margohayu menggelar penyuluhan Budikdalon (Budidaya Ikan dalam Galon) dengan tema “KKN UPGRIS Mengabdi: Sinergi Program Budikdalon dalam Rangka Pemenuhan Gizi Rumah Tangga, Pencegahan Stunting, dan Ketahanan Pangan” di GOR Serbaguna Desa Margohayu, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Selasa (18/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak Arief Sudaryanto, S.Sos., M.Si., Camat Karangawen Masdari, S.IP., M.M., Kepala Desa Margohayu Ahmad Sokheh, perangkat desa, kader PKK, kader Posyandu, Ketua Perpustakaan Desa Mulia Margohayu, serta masyarakat Desa Margohayu.

Program Budikdalon tersebut sejalan dengan program unggulan UPGRIS, khususnya Gerakan Mahasiswa Peduli Stunting (Mahasiswa Penting), penguatan ketahanan pangan lokal, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui kewirausahaan.

Camat Karangawen Masdari mengatakan, program tersebut dapat menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat sekaligus membantu menekan kebutuhan rumah tangga.

Mahasiswa KKN UPGRIS secara simbolis menyerahkan Budikdalon kepada Camat Karangawen. (foto: tim KKN UPGRIS 33)

“Ini salah satu langkah pemberdayaan dan mengurangi, menekan kebutuhan keluarga,” ujar Masdari.

Dalam penyuluhan tersebut, peserta memperoleh penjelasan dari Rofiqoh Nur Su’udiyah, S.Pi., M.M., Penyuluh Perikanan KKP Wilker Kabupaten Demak dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak. Materi yang diberikan meliputi teknik sederhana budidaya ikan menggunakan galon serta pemanfaatannya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Rofiqoh menjelaskan, Budikdalon dapat menjadi salah satu cara bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dengan memanfaatkan lahan terbatas. Budidaya ikan juga dapat dipadukan dengan tanaman sayuran di bagian atas wadah.

“Sekarang digaungkan ketahanan pangan dalam rumah tangga itu sendiri. Jadi kita tidak perlu beli di pasar. Dengan kita bisa membudidayakan sendiri lele yang mungkin di atasnya dikasih tanaman seperti kangkung atau sawi, itu minimal bisa menyediakan bahan pangan untuk keluarga,” jelas Rofiqoh.

Ia juga menambahkan, selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, hasil budidaya juga berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi masyarakat. Menurutnya, ikan yang dipanen tidak hanya dapat dijual dalam kondisi segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk pangan sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Foto bersama tamu undangan peserta penyuluhan Budikdalon. (foto:tim kkn upgris 33)

Rofiqoh juga melihat adanya peluang pengembangan Budikdalon secara lebih luas di Desa Margohayu. Menurutnya, apabila masyarakat dapat menerapkan budidaya ikan dan sayuran di lingkungan rumah masing-masing, konsep tersebut berpotensi menjadi bagian dari daya tarik desa.

“Harapan jangka panjangnya di desa ini akan menjadi, bisa dibilang desa pariwisata. Desa pariwisata yang di masing-masing rumah masyarakatnya itu nantinya akan ada Budikdalon dan sayuran di atasnya,” ungkap Rofiqoh.

Menurut Rofiqoh, gagasan tersebut menunjukkan bahwa program sederhana yang digagas mahasiswa KKN dapat berkembang apabila diterapkan dan dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Ahmad, perangkat Desa Margohayu juga berharap program Budikdalon dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi langkah awal menuju kemandirian desa.

“Semoga program ini membawa manfaat, membawa berkah bagi masyarakat dan menjadi langkah kecil menuju desa yang lebih mandiri,” ujarnya.

Kegiatan penyuluhan ini menjadi salah satu langkah awal KKN UPGRIS Kelompok 33 dalam mendorong pemanfaatan lahan terbatas untuk budidaya pangan, pemenuhan gizi keluarga, serta membuka peluang ekonomi berbasis potensi masyarakat Desa Margohayu. (tim/upgris/kkn/33).