JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan tindakan tegas terhadap kepala daerah. Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang (ADK), resmi ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan suap proyek pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi. Kasus ini menjadi sorotan publik bukan hanya karena nilai suapnya yang fantastis, melainkan juga keterlibatan ayah kandung sang Bupati dalam skandal tersebut.

Operasi Tangkap Tangan (OTT) ini dilancarkan pada Kamis (18/12/2025). Plt Deputi Penindakan KPK, Asep Guntur Rahayu, mengungkapkan bahwa operasi ini berawal dari laporan valid masyarakat mengenai adanya penyerahan uang dari pihak swasta kepada penyelenggara negara.

Setelah melakukan pengintaian, tim KPK berhasil mengamankan uang tunai senilai Rp200 juta di kediaman ADK. Uang tersebut diduga merupakan sisa dari rangkaian setoran panjang yang telah berlangsung sepanjang tahun.

Penyidikan KPK mengungkap modus klasik namun terorganisir, yakni “ijon” proyek. Segera setelah terpilih menjadi Bupati Bekasi periode 2024–2029, ADK diduga langsung menjalin komunikasi dengan Sarjan (SRJ), seorang kontraktor penyedia paket proyek.

Menariknya, dalam melancarkan aksinya, ADK tidak bergerak sendiri. Ia diduga melibatkan ayah kandungnya, H.M. Kunang (HMK), yang menjabat sebagai Kepala Desa Sukadami. HMK berperan sebagai perantara strategis untuk menerima aliran dana dari SRJ guna menyamarkan jejak sang anak.

“Dari komunikasi itu, ADK diduga rutin meminta ‘ijon’ proyek kepada SRJ melalui perantara, termasuk ayah kandungnya sendiri, HMK,” ujar Asep Guntur dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Sabtu (20/12/2025).

Berdasarkan data awal KPK, total uang yang mengalir dari kontraktor SRJ kepada Bupati Bekasi mencapai Rp9,5 miliar yang dilakukan melalui empat kali tahap penyerahan.

Namun, temuan KPK tidak berhenti di situ. Penyidik juga menemukan bukti adanya penerimaan lain yang masuk ke kantong ADK selama tahun 2025.

  • Suap Ijon Proyek (dari SRJ): Rp9,5 Miliar

  • Penerimaan Gratifikasi Lainnya: Rp4,7 Miliar

  • Total Dugaan Penerimaan: Rp14,2 Miliar

Setelah menjalani pemeriksaan intensif, KPK resmi menetapkan tiga orang sebagai tersangka:

  1. Ade Kuswara Kunang (ADK) sebagai penerima suap.

  2. H.M. Kunang (HMK) sebagai perantara suap.

  3. Sarjan (SRJ) sebagai pemberi suap.

Ketiganya kini ditahan selama 20 hari pertama untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut di Gedung Merah Putih KPK. Kasus ini menjadi pengingat keras akan tingginya risiko praktik nepotisme dalam pusaran korupsi birokrasi.