
Pemalang, CMI News – Kebijakan nonton bareng (nobar) film Buku Harianku yang dicanangkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pemalang melalui surat edaran berada dalam sorotan publik.
Kegiatan yang bertujuan memperkuat pendidikan karakter melalui media film ini menuai kritik dari berbagai kalangan karena dinilai memberatkan sebagian orangtua siswa secara ekonomi.
Kabid Sekolah Dasar Dindikbud Pemalang, Sokhaeron, memberikan tanggapan tegas terhadap polemik ini. Ia menyatakan bahwa pelaksanaan kegiatan nobar di sekolah-sekolah yang terimbas kebijakan ini dapat dihentikan jika situasi di lapangan tidak kondusif, ujarnya saat dikonfirmasi tim awak media.
Sokhaeron menegaskan bahwa arahan tersebut sebenarnya hanya bersifat imbauan, bukan kewajiban, dan disampaikan kepada kepala sekolah yang hadir dalam rapat dinas sebelumnya.
“Jika kegiatan ini dirasa memberatkan atau menimbulkan masalah di lapangan, saya sudah meminta agar segera dihentikan. Siswa tetap dapat menonton film menggunakan fasilitas sekolah, seperti proyektor, tanpa perlu biaya tambahan,” ujar Sokhaeron melalui pesan singkat kepada tim media pada Rabu (15/1/2025) malam.

Saat dikonfirmasi awak media kembali mengkonfirmasi, bahwa pihak Kabid akan menghentikan kegiatan tersebut, dengan mengeluarkan surat edaran. Ujar Sokhaeron, Kamis (16/1/2025) siang.
Ditambahkan Sekda Kabupaten Pemalang, Heriyanto saat di konfirmasi CMI News, pihaknya akan menindaklanjuti terkait hal ini.
“Saya konfirmasi ke disdik mas, jawab Sekda pada CMI News saat dihubungi melalui pesan WhatsApp. Kamis (16/1/2025).
Biaya Jadi Polemik dalam surat edaran No. 400.3.5/140/Dindikbud tertanggal 6 Januari 2025. Dalam kegiatan nobar tersebut, hingga akhirnya para siswa direncanakan dengan biaya Rp30.000 hingga Rp40.000 per siswa, yang mencakup tiket masuk dan transportasi.
Namun, biaya ini dinilai memberatkan bagi sejumlah keluarga, khususnya dari kalangan kurang mampu, di tengah situasi ekonomi yang belum pulih pascapandemi.
Salah satunya, kegiatan yang diduga akan direncanakan di SD Negeri 01 Pedurungan. Mereka para siswa-siswi akan nonton bareng film “Buku Harianku” dengan biaya yang dibebankan sekitar Rp. 40.000, – / siswa.
Seorang orangtua siswa, yang tidak ingin disebutkan namanya, menyatakan keberatannya. “Kami setuju dengan tujuan kegiatan ini untuk pendidikan anak, tetapi biaya seperti ini terlalu besar bagi kami. Pengeluaran untuk kebutuhan sekolah saja sudah cukup banyak,” ujarnya.
Respons Masyarakat dan Ormas
Kritik juga datang dari organisasi masyarakat. Ketua Ormas 234 SC Pemalang, Yogo Darminto, S.H., mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini seharusnya tidak menjadi beban tambahan bagi orangtua. Ia menyarankan agar pemerintah daerah mencari solusi alternatif.
“Pemerintah daerah seharusnya bisa memberikan subsidi atau memanfaatkan fasilitas sekolah untuk memutar film, sehingga siswa tetap mendapatkan manfaat pendidikan karakter tanpa biaya tambahan,” tutur Yogo.
Dengan demikian, langkah penghentian kegiatan nobar menjadi solusi sementara yang diharapkan dapat mengakomodasi aspirasi masyarakat sekaligus tetap menjaga esensi dari pendidikan karakter bagi para siswa.







