
CMI News — Tekanan jual di pasar saham domestik kembali menguat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,19% ke level 8.051,18, setelah sempat terkoreksi lebih dari 1% di sesi awal.
Meski penurunan berhasil ditekan, arus dana asing menunjukkan sinyal negatif yang patut diwaspadai pelaku pasar. Data bursa mencatat investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp1,4 triliun di seluruh pasar. Sebagian besar aksi jual terjadi di pasar reguler dengan nilai Rp1,43 triliun, sedangkan pembelian bersih hanya tercatat Rp29,86 miliar di pasar negosiasi dan tunai.
Nilai transaksi perdagangan hari itu mencapai Rp29,96 triliun, dengan total volume 36,16 miliar saham dari 2,69 juta kali transaksi. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 449 saham melemah, 232 menguat, dan 122 stagnan.
10 Saham Paling Banyak Dilepas Asing
Mengutip data Stockbit, berikut daftar saham yang menjadi target penjualan investor asing:

1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) – Rp542,92 miliar
2. PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) – Rp446,72 miliar
3. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) – Rp200,76 miliar
4. PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) – Rp138,01 miliar
5. PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) – Rp116,79 miliar
6. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) – Rp111,26 miliar
7. PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) – Rp82,19 miliar
8. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) – Rp60,47 miliar
9. PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) – Rp55,56 miliar
10. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) – Rp53,19 miliar
Analisis: Aksi Ambil Untung atau Rotasi Sektor?
Aksi jual besar-besaran investor asing ini menimbulkan pertanyaan: apakah ini sinyal profit taking atau indikasi pergeseran strategi investasi?
Sejumlah analis menilai, aksi lepas saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA kemungkinan merupakan bagian dari portfolio rebalancing. Investor global cenderung berhati-hati di tengah ketidakpastian eksternal, termasuk tekanan geopolitik dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
Saham sektor digital dan energi seperti WIFI serta ENRG juga ikut terkena imbas. Padahal, sektor-sektor ini sebelumnya sempat menjadi primadona karena prospek pertumbuhan jangka panjang.
Sementara itu, tekanan jual pada saham ritel seperti AMRT bisa jadi disebabkan oleh rotasi ke saham-saham berbasis komoditas atau infrastruktur yang dinilai lebih defensif dalam kondisi pasar yang tidak pasti.
Prospek IHSG ke Depan
Meski investor asing masih menunjukkan sikap hati-hati, analis memprediksi IHSG berpotensi bergerak stabil dalam jangka menengah, dengan dukungan dari fundamental ekonomi domestik yang kuat dan optimisme kinerja emiten kuartal IV-2025.
Kunci utama bagi pemulihan pasar adalah stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga Bank Indonesia, serta arah arus modal asing menjelang akhir tahun fiskal.






