Senada dengan Firman, Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Moga, Abdul Hadi, juga mengakui bahwa masyarakat sudah merasa diabaikan. Ia membenarkan bahwa BPD sudah berkali-kali mengusulkan perbaikan jalan kepada pemerintah desa sejak tahun 2024. “Kami sering mengkritik pemdes dengan keras, namun hingga saat ini belum ada realisasinya,” ungkap Hadi. Ia juga menambahkan bahwa jalan ini sangat vital karena merupakan penghubung tiga desa, sehingga perbaikannya sangat mendesak.
Aksi penanaman pohon pisang di jalanan rusak ini bukanlah hal baru di Indonesia, namun selalu berhasil menarik perhatian. Tindakan ini merupakan simbol protes yang kuat, menunjukkan bahwa di tengah kemeriahan perayaan kemerdekaan, masih ada warga yang merasa belum “merdeka” dari masalah infrastruktur dasar. Warga berharap, dengan aksi ini, suara mereka didengar dan pemerintah desa segera mengambil tindakan nyata.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















