PEMALANG, JAWA TENGAH – Warga Desa Kramat, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, melampiaskan kekesalan mereka terhadap kondisi jalan yang rusak parah dengan memasang sejumlah spanduk protes di berbagai titik strategis. Aksi ini merupakan puncak dari kegelisahan warga atas seringnya terjadi kecelakaan dan sulitnya akses akibat infrastruktur yang memprihatinkan. Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah beroperasinya PT. Longwell, sebuah pabrik elit yang disebut-sebut turut berkontribusi terhadap kerusakan jalan.
Spanduk-spanduk yang membentang mulai dari gapura masuk desa ini menyuarakan kritik pedas. Beberapa di antaranya berbunyi, “Untuk Pejabat desa Kramat Mohon di usahankan Perbaikan jalan sementara untuk antisipasi kecelakaan dan demi kenyamanan berkendara.”
Ada pula ungkapan satir seperti “Wayahe rendeng Cebruk wayahe ketiga ngebul” (Musim hujan becek, musim kemarau berdebu), “Lobang Tak Bernyawa,” dan “Jalan Ini Sedang Diperbaiki Tapi Boong.” Bahkan, ada yang menyebut jalur ini sebagai “Wisata Seribu Lubang”, serta menyoroti kontrasnya dengan keberadaan pabrik besar: “Pabrik Elit Jalan Sulit.”
Kondisi jalan yang sudah parah ini diperparah dengan tingginya intensitas lalu lintas, terutama saat jam sibuk pagi dan sore hari ketika karyawan PT. Longwell berangkat dan pulang kerja. Tak hanya itu, mobil-mobil truk berukuran besar yang melintas menuju pabrik juga disinyalir diduga menjadi faktor utama yang mempercepat kerusakan jalan. Warga merasa keselamatan mereka terancam setiap kali melintasi jalan tersebut.
Hingga berita ini diunggah, Kepala Desa Kramat belum memberikan klarifikasi atau tanggapan resmi terkait aksi protes yang dilakukan warganya ini. Ketiadaan respons dari pihak desa semakin memicu kekecewaan masyarakat yang mendambakan jalan layak dan aman.
Aksi ini menjadi pengingat keras bagi pihak berwenang dan perusahaan terkait untuk segera mencari solusi. Warga Kramat berharap suara mereka didengar dan ada langkah konkret untuk perbaikan infrastruktur yang telah lama mereka dambakan. Akankah protes ini membuka mata para pemangku kebijakan untuk bertindak?



















