
PEMALANG — Di tengah euforia perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-80, warga Dusun Kalibuntu, Desa Moga, Kecamatan Moga, mengambil langkah berani untuk menyuarakan protes mereka. Sebagai bentuk kekecewaan terhadap jalan yang rusak selama hampir 10 tahun, mereka menanam puluhan pohon pisang di sepanjang Jalan Kalibuntu Gendoang yang terbengkalai.
Aksi ini adalah puncak dari keputusasaan warga. Firman, seorang pemuda desa, menjelaskan bahwa mereka sudah berulang kali mengusulkan perbaikan jalan melalui Musyawarah Dusun (Musdus), Musyawarah Desa (Musdes), hingga Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Namun, semua upaya tersebut tidak membuahkan hasil. “Kami sudah merasa diabaikan,” ucapnya. Firman menegaskan bahwa aksi ini murni protes warga dan tidak ada kaitannya dengan politik.
Senada dengan Firman, Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Moga, Abdul Hadi, juga mengakui bahwa masyarakat sudah merasa diabaikan. Ia membenarkan bahwa BPD sudah berkali-kali mengusulkan perbaikan jalan kepada pemerintah desa sejak tahun 2024. “Kami sering mengkritik pemdes dengan keras, namun hingga saat ini belum ada realisasinya,” ungkap Hadi. Ia juga menambahkan bahwa jalan ini sangat vital karena merupakan penghubung tiga desa, sehingga perbaikannya sangat mendesak.
Aksi penanaman pohon pisang di jalanan rusak ini bukanlah hal baru di Indonesia, namun selalu berhasil menarik perhatian. Tindakan ini merupakan simbol protes yang kuat, menunjukkan bahwa di tengah kemeriahan perayaan kemerdekaan, masih ada warga yang merasa belum “merdeka” dari masalah infrastruktur dasar. Warga berharap, dengan aksi ini, suara mereka didengar dan pemerintah desa segera mengambil tindakan nyata.
Akankah aksi warga ini menggugah kesadaran pemerintah desa untuk segera memperbaiki jalan yang sudah lama meresahkan? Hanya waktu yang akan menjawab.








