Data produksi menunjukkan arah pergeseran bisnis HRUM. Produksi dan penjualan batu bara turun 9% yoy menjadi 2,9 juta MT dengan ASP yang merosot ke US$ 83,2/ton. Sementara itu, volume penjualan nikel justru naik signifikan 49% yoy menjadi 33.385 ton, meskipun ASP hanya turun tipis ke US$ 12.050/ton.
Kondisi ini mencerminkan strategi HRUM untuk mengandalkan nikel sebagai sumber pertumbuhan baru, sejalan dengan tren global menuju transisi energi.
Valuasi Saham Masih Menarik
Di lantai bursa, saham HRUM diperdagangkan dengan valuasi forward P/E sekitar 12 kali dan PBV 0,8 kali. Angka ini masih tergolong murah dibanding rata-rata sektoral. Dengan asumsi target P/E sebesar 13 kali (rata-rata 5 tahun) dan estimasi EPS Rp 72,56, nilai wajar saham HRUM diproyeksikan berada di kisaran Rp 1.180 per saham.
Namun, investor perlu mencermati sejumlah risiko, mulai dari volatilitas harga komoditas, pelemahan permintaan ekspor, tekanan biaya dan margin, perubahan regulasi, hingga potensi underperformance dari operasi smelter nikel.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.













