
CMI News — Harga emas dunia kembali menorehkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya, logam mulia ini menembus level psikologis US$4.200 per troy ons, menandai reli terpanjang dalam beberapa dekade terakhir dan mencerminkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Pada perdagangan Rabu (15/10/2025) waktu New York, harga emas naik 1,59% ke level US$4.207,51 per troy ons, dan hingga Kamis pagi (16/10) pukul 06.30 WIB, harga emas di pasar spot masih menguat tipis ke US$4.208,49 per troy ons.
Kenaikan ini bukan hanya rekor baru, tapi juga sinyal kuat bahwa investor dunia kini mencari perlindungan dari risiko pasar — mulai dari ketegangan geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), hingga melemahnya dolar AS.
Dari Spekulasi Suku Bunga ke Lonjakan Safe Haven
Analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menilai reli emas kali ini didorong oleh dua faktor besar: meningkatnya kekhawatiran geopolitik dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

“Logam ini sedang naik daun dan tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Dengan tensi perdagangan AS–China kembali memanas, investor punya alasan kuat untuk memindahkan sebagian aset mereka ke emas,” jelas Razaqzada.
Tahun ini saja, harga emas telah melonjak lebih dari 60%, didorong oleh kombinasi:
Pembelian besar-besaran oleh bank sentral dunia,
Arus masuk dana ke ETF berbasis emas,
Proses dedolarisasi di beberapa negara berkembang, dan
Kekhawatiran terhadap inflasi global.
Dengan jarak ke level US$5.000 per troy ons kini tinggal sekitar US$800, sejumlah analis memperkirakan kenaikan masih mungkin berlanjut, meskipun koreksi jangka pendek tak bisa dihindari.
The Fed Dovish, Dolar Melemah
Nada dovish dari Ketua The Fed Jerome Powell menjadi katalis lain di balik penguatan emas. Powell menyebut pasar tenaga kerja AS masih menghadapi kelesuan perekrutan dan rendahnya tingkat pemecatan, sehingga ruang untuk penurunan suku bunga terbuka lebar.
Pasar kini memproyeksikan kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober dengan probabilitas 98%, diikuti penurunan lanjutan pada Desember yang hampir pasti terjadi.
Dalam kondisi seperti ini, emas menjadi lebih menarik — terutama karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, namun tetap menjadi lindung nilai alami terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Ketegangan Global Menambah Daya Dorong
Situasi geopolitik turut menambah sentimen bullish. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menyatakan kemungkinan memutus sebagian hubungan dagang dengan China, setelah kedua negara saling memberlakukan tarif pelabuhan.
Sementara itu, ancaman penutupan pemerintah (shutdown) AS memperburuk ketidakpastian. Dengan data ekonomi yang tertahan dan kebijakan fiskal yang terhambat, pelaku pasar semakin sulit membaca arah ekonomi Amerika — dan emas pun menjadi tempat berlindung yang rasional.






