
CMI News – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan ketahanannya di tengah ketidakpastian global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (10/10/2025) dengan kenaikan tipis 0,08% atau 6,92 poin ke posisi 8.257,86, yang sekaligus mencatatkan all time high baru di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Meskipun penguatan terlihat moderat, di baliknya tersimpan aksi beli asing yang cukup masif. Berdasarkan data BEI, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp2,68 triliun sepanjang pekan lalu — terdiri dari Rp2,65 triliun di pasar reguler dan Rp5,34 miliar di pasar negosiasi dan tunai. Nilai transaksi harian pun tetap tinggi, mencapai Rp24,06 triliun dengan volume lebih dari 47,7 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,45 juta transaksi.
Asing Kembali Serbu Saham Blue Chip & Energi
Data RTI Business menunjukkan, investor asing cenderung fokus mengoleksi saham-saham dengan fundamental kuat dan prospek jangka panjang yang solid. Berikut daftar 10 saham paling banyak diborong asing selama sepekan terakhir:
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) – Rp337,6 miliar

PT Astra International Tbk (ASII) – Rp244,7 miliar
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) – Rp235,7 miliar
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) – Rp223,3 miliar
PT Timah Tbk (TINS) – Rp160,7 miliar
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) – Rp152,9 miliar
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) – Rp96,3 miliar
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) – Rp96 miliar
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) – Rp77,3 miliar
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) – Rp58,1 miliar
Analisis: Keyakinan Asing terhadap Fundamenta RI
Penguatan IHSG di tengah tekanan global menandakan keyakinan investor terhadap daya tahan ekonomi domestik. Aksi beli asing yang terfokus pada sektor energi, pertambangan, dan konsumsi menandakan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang Indonesia sebagai pemain kunci komoditas global dan pasar konsumen besar di Asia Tenggara.
Menurut sejumlah analis pasar, sentimen positif juga didukung oleh stabilitas makroekonomi Indonesia, termasuk nilai tukar rupiah yang relatif terjaga serta potensi penurunan suku bunga global pada kuartal IV 2025. Faktor-faktor tersebut memberi ruang bagi investor asing untuk kembali meningkatkan eksposur pada aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
IHSG Menuju Level Baru?
Beberapa lembaga riset bahkan memproyeksikan IHSG masih memiliki ruang untuk melanjutkan reli hingga akhir tahun. Dengan asumsi pertumbuhan laba emiten dan stabilitas politik pasca-Pemilu, target IHSG di kisaran 8.400–8.600 dinilai masih realistis.
Namun, pelaku pasar diimbau tetap berhati-hati terhadap potensi aksi ambil untung (profit taking) setelah reli panjang. Sektor perbankan, energi, dan infrastruktur diperkirakan masih menjadi penopang utama indeks dalam jangka menengah.






