Perusahaan kini mencari kandidat yang mampu menulis prompt AI, memahami literasi AI, berkolaborasi dengan AI, dan menguasai aplikasi AI khusus industri.
Di sisi lain, perusahaan juga lebih menghargai kemampuan komunikasi dan pengambilan keputusan karena AI belum bisa sepenuhnya menggantikan interaksi sosial manusia.
Profesor Srinivasan mendorong perusahaan agar fokus melatih ulang karyawan yang pekerjaannya rentan tergeser otomatisasi.
Ia juga meminta perusahaan terus meningkatkan kemampuan AI tenaga kerja agar teknologi bisa memperkuat produktivitas manusia, bukan sekadar memangkas biaya operasional.
Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini masih berfokus pada dampak jangka pendek di pasar tenaga kerja Amerika Serikat.
Dampak jangka panjang AI terhadap dunia kerja global masih terus berkembang seiring cepatnya evolusi teknologi generatif.













