Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Cerpen

PERTEMUAN DUA HATI

×

PERTEMUAN DUA HATI

Sebarkan artikel ini

Rani terus berjalan di pinggiran toko serta warung yang ada di sekitar area pasar. Siang itu ramai banyak orang sibuk untuk mencari dan membeli semua kebutuhan. Rani terus menawarkan dagangannya yang masih belum laku terjual. Ada beberapa helai kain batik dibawanya, tapi tak satupun yang laku. Rani hanya bisa berharap dagangannya hari itu bisa habis terjual.

Di teras toko, Rani duduk menyenderkan punggungnya di dinding tembok yang terlihat kusam. Ia menghela nafas dalam-dalam sambil memandangi keramaian jalan yang dilalui kendaraan serta orang-orang yang lalu lalang. “Perutku lapar lagi,” ucap Rani sambil memegang kain yang diletakkan di sampingnya. Ia terus mencari-cari di celana berharap menemukan uang di sakunya. Beberapa lembar uang ribuan dan uang koin yang ada di tangannya. “Ahh… tak cukup buat untuk membeli nasi,” ujarnya sambil tangannya menggenggam uang tersebut. “Hanya tersisa tiga ribu rupiah,” gumam Rani.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Ia terus duduk mengamati sekelilingnya melihat orang-orang dan berharap jualan kain batik hari itu bisa laku. “Ya Allah mudahkanlah…” doanya lirih. Rani bangkit dari duduknya dan kembali berjalan di teras warung dan pertokoan.

“Mbak, sebentar!” Rani berbalik badan dan berdiri sambil melihat seorang wanita yang memanggil dirinya. “Saya bu?!” sapa Rani sambil tangannya menunjuk ke arah dirinya.

“Iya, sini,” kata wanita itu sambil terus melambaikan tangannya. Rani mendekat sambil memperhatikan wanita itu yang masih duduk di dalam mobil berwarna putih. “Iya bu,” kembali Rani menyapa. “Kamu bawa apa? Kamu jualan?” tanyanya lagi.

“Iya bu,” jawab Rani sambil tersenyum. “Coba lihat,” kata ibu tersebut sambil meminta kain batik yang Rani bawa. “Ooh, kamu jualan kain batik. Berapa harganya mbak?” tanya si ibu sambil membuka-buka kain batik tersebut.

“Seratus ribu bu,” jawab Rani berharap ibu itu mau membelinya.

“Berapa semuanya, maksud ibu ada berapa itu semua mbak?” Dengan agak gugup Rani menjawab, “Ada sepuluh kain bu.”

“Ok, ibu beli semua,” kata ibu itu. “Dibeli semua bu!” jawab Rani terkejut hampir teriak. “Iya,” ibu itu kembali menjawab.

Kemudian Rani memberikan bungkusan yang berisi kain itu dan si ibu menghitung lalu membayarnya. “Kalau kamu butuh pekerjaan hubungi ibu ya?!” sambil memberikan sejumlah uang lalu si ibu itu memberikan kartu nama.

“Iya bu,” jawab Rani girang, “Nanti saya akan menghubungi ibu,” jawabnya lagi. Mobil putih itu segera berlalu meninggalkan Rani yang masih berdiri, seakan tak percaya hari itu dagangannya laku semua. “Terimakasih ya Allah Alhamdulillah…” ucapnya senang. Kemudian Rani segera pergi dari tempat itu dan langsung berjalan ke arah warung. Ranipun segera memesan makanan dan langsung menyantapnya.

Setelah selesai makan, Rani lalu membeli dua bungkus lagi untuk dibawa ke rumah. Tak lama ia keluar dari warung makan dan berjalan ke arah selatan di mana biasanya mobil-mobil angkutan yang masih mengetem di area-area parkiran.

Setelah sampai di rumah, Rani segera masuk dan membuka pintu. “Assalamualaikum, bu,” ucap Rani dengan suara lembut. “Waalaikumsalam,” jawab ibunya yang masih berbaring di kamarnya. Rani lalu mengambil piring serta gelas yang ada di rak belakang dapur. Kemudian Rani meletakkan bungkusan yang berisi nasi yang tadi dibeli di warung dan menaruhnya di atas piring.

“Makan dulu, bu,” ujar Rani sambil mengangkat bahu ibunya. “Ini airnya, diminum dulu.”

“Iya,” ucap ibunya sambil menerima air putih dari tangan Rani. “Ayah kemana, bu?” tanya Rani. “Entahlah, Ayah kamu tadi keluar katanya mau ke rumah pak Warjio. Mau membeli singkong katanya,” jawab ibu Rani.

Rani hanya mengangguk lalu tersenyum mendengar jawaban ibunya, kemudian ibunya Rani mulai makan dengan perlahan. Tak lama Ayahnya Ranipun datang sambil membawa bungkusan yang berisi singkong.

“Kamu sudah pulang, Ran…?” tanya Ayah Rani. “Iya, ayah,” jawab Rani. “Ini makan dulu, yah,” kata Rani sambil memberikan bungkusan yang berisi nasi. “Iya, nak, terimakasih,” lalu ayah Rani pun segera makan. “Aku akan ke rumah ibu Uyun dulu, bu,” jawab Rani, kemudian keluar meninggalkan Ayah dan ibunya.

Di tengah jalan, Rani sempat teringat dengan kartu nama yang dikasih oleh ibu yang membeli semua kain batiknya itu. Sambil berjalan, Rani mengamati kartu nama itu, lalu membaca tulisan yang tertera di kartu itu. “Melisa,” hanya itu yang Rani baca, kemudian dimasukkan lagi ke dalam sakunya.

Setelah sampai di rumah ibu Uyun, Rani kemudian mengetuk pintunya. “Tok! Tok! Tok!..” “Eeh, kamu Rani, sini masuk,” sapa ibu Uyun sambil tersenyum ramah. “Ini, bu, hasil jualan yang sudah tiga hari ini sudah habis,” ujar Rani, sambil memberikan uangnya. “Oh, iya, kamu sudah ambil sisanya, Ran?” tanya ibu Uyun. “Sudah, bu,” jawab Rani. “Oh, iya, sudah, kapan kamu mau bawa lagi, Ran?” tanya ibu Uyun. “Nanti aja, bu, saya mau ajak ibu saya ke dokter dulu.” “Ibu kamu sakit?!” tanya ibu Uyun sambil memandangi wajah Rani. “Iya bu,” jawab Rani sambil berdiri dari tempat duduknya, lalu pamit permisi pulang.

Setelah keluar rumah Rani terus berjalan, sambil sesekali menghela nafasnya dalam. “Hemm…”, Rani terus berlalu. Malam itu, Rani kembali membuka buku-bukunya, mencari kartu nama yang ia taruh di dalamnya. Dilihatnya, dibaca lagi kartu nama itu. Rani hanya terdiam, dan kembali mengingat sosok ibu itu.

“Kelihatannya baik orang itu,” ucap Rani yang terus membayangkan sosok wanita itu. “Kalau nanti aku kerja, aku pasti harus meninggalkan rumah,” fikir Rani. Terdengar suara batuk dari dalam kamar ibunya. Rani hanya menghela nafas kembali lalu bangkit dan menuju ke kamar ibunya. “Buu…?” ucap Rani sambil masuk ke kamar ibunya.

Sebenarnya Rani tak berani untuk mengatakan kepada ibunya, apalagi melihat kondisi ibunya yang sedang sakit serta ayahnya, yang sudah semakin tua. “Bu, ini diminum dulu air putihnya,” kata Rani sambil memberikan gelas kepada ibunya. “Iya,” jawab ibunya. Rani hanya bisa diam dan memandangi ibunya.

“Bu?” “Iya, ada apa Ran?” jawab ibunya pelan. “Begini bu,” Rani terdiam sebentar lalu meneruskan kata-katanya, kembali menceritakan apa yang terjadi di saat dirinya berjualan dan bertemu dengan seorang wanita yang menawarkan dan mengajaknya untuk bekerja dengannya. “Begitu bu ceritanya?” Lalu Rani terdiam lagi.

Ibunya Rani terdiam mendengarkan apa yang dikatakan anaknya. Ayah Rani yang sedari tadi bangun masih berdiri di pintu ikut mendengarkan. “Kenapa kamu mau pergi, nak?” tanya ibunya Rani dengan suara lembut. Rani menundukkan kepalanya, tidak tahu bagaimana harus menjawab. “Saya ingin membantu ayah dan ibu,” ujar Rani pelan.

Ayah Rani mendekati ibunya dan duduk di samping keduanya. “Kamu tidak perlu pergi, nak,” kata ayahnya. “Kami masih bisa mencari uang?!” tegasnya.

“Tapi Rani mengerti ayah,” ucap Rani sambil memegang tangan ayahnya. “Rani tidak mungkin membiarkan ayahnya bekerja keras seperti dulu. Ayah sudah terlalu tua,” ujar Rani kembali. “Apalagi Ibu, yang terkadang sering sakit. Makanya Rani akan bekerja walaupun itu harus keluar kota, dan meninggalkan kedua orang tuanya. Tapi Rani harus bekerja dan hasilnya untuk ayah, ibunya.” Itu tekad Rani.

Rani lalu menjelaskan niatnya kepada ibu dan ayahnya. Keinginan dia untuk menemui ibu Melisa di kota besar. Ayah dan ibunya Rani hanya terdiam, memandangi wajah anaknya. Ibunya kemudian mengusap rambut anak satu-satunya itu dan memeluknya.

“Pergilah nak, bila sudah menjadi tekadmu, ibu merestui. Cari pekerjaan yang baik dan jangan lupa jaga diri,” ucap ibunya dengan suara lembut sambil terus memeluk anaknya dan mengusap-usap kembali rambutnya. Ada air mata yang berlinang di sudut kelopak mata ibunya. “Ibu selalu berdoa untukmu nak,” katanya dengan suara bergetar. Tak kuasa menahan semua perasaan itu. Ayah Rani hanya bisa pasrah mendengar apa yang dikatakan ibunya kepada Rani.

Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Seiring malam yang semakin sunyi dan mulai larut dalam keheningan malam. Selarut suasana hati Rani dan ibunya yang hanya bisa mampu terdiam dalam pelukan sang ibu. Menghantarkan keduanya tidur malam dipenuhi suasana penuh haru. Bersama sang ibu yang terus memeluk anak tercintanya. Dalam hati sebenarnya Rani takut kehilangan, karena nanti jauh terpisah dari ibu dan ayahnya. Rani berharap akan baik-baik saja. Doanya mengiringi tidur malamnya.

Pagi menjelang, Ranipun sudah ada di terminal kota yang mulai sibuk dan ramai. Bus-bus yang siap mengantarkan para penumpangnya ke tujuannya siap diberangkatkan. Rani menaiki salah satu bus itu. Baru pertama kali Rani ke kota besar. Bus mulai berangkat meninggalkan terminal dan terus melaju di tengah keramaian jalan yang dilintasinya untuk menuju ke kota besar.

Perjalanan yang ditempuh melewati beberapa kota dan desa memakan waktu yang panjang. Satu hari perjalanan dari terminal sampai ke tujuan. Rani duduk di antara para penumpang. Melihat-lihat pemandangan dari kaca jendela, Rani menatap jauh di sana terlihat perbukitan di antara rimbun pepohonan. Sawah yang luas menghijau membentang menambah keindahan. Tak terasa waktu terus berlalu meninggalkan sisa-sisa perjalanan.

Hingga pada akhirnya tampaklah gedung-gedung tinggi menjulang menandakan bus mulai memasuki wilayah perkotaan. Bus besar itupun mulai pelan berjalan masuk di gerbang di sebuah terminal di kota besar. “Akhirnya sampai juga di kota,” ucap Rani dalam hati.

Dengan wajah yang penuh keringat, Rani turun dari dalam bus dan sesekali menanyakan kepada setiap orang tentang alamat rumah yang tertera di kartu nama itu. Tidak begitu lama setelah menaiki angkutan umum yang nanti akan melewati ke perumahan indah tersebut, Ranipun turun dari angkot dan langsung menuju ke area perumahan dengan berjalan. Melewati sebuah pos satpam dan pangkalan ojek. Rani berhenti sejenak untuk menanyakan kepada salah satu tukang ojek itu. “Oh iya, mbak, kita cari rumahnya,” kata tukang ojek tersebut.

Rani membonceng motor tukang ojek itu sambil mengelilingi area perumahan yang cukup luas. Dan dari bangunan-bangunan rumah yang tampak megah itu, akhirnya tukang ojek itupun berhenti di salah satu bangunan rumah yang cukup luas dan mewah. “Sepertinya rumahnya ini mbak,” kata si tukang ojek. “Iya mas,” jawab Rani sambil memberikan uang untuk ongkos ojek. “Terima kasih ya mas,” kata Rani sambil melihat lagi bangunan rumah megah di depan matanya. Tampak pintu gerbang yang masih terkunci rapat dengan pagar yang tinggi.

Rani masih berdiri mematung di depan pintu pagar itu. Matanya terus memandangi rumah itu; luas dan besar. Dengan sedikit keraguan Rani berjalan mendekat ke pintu pagar. Rani coba ketok pintu tersebut. “Tok! Tok! Tok!” Namun tak ada jawaban. Rani kembali mengetoknya. Namun masih sama, sepi. “Jangan-jangan salah rumah,” fikirnya. Kembali Rani mengetuk untuk memastikan. Tetapi sama tak ada jawaban. Rani mulai bingung dan dia hanya berdiri di depan pintu pagar sambil tengak-tengok di sekitar tempat itu.

Setelah agak lama, Ranipun memutuskan meninggalkan rumah besar itu. Belum sampai beberapa meter langkah Rani berhenti setelah mendengar ada seseorang yang memanggil. “Mbak!” panggilnya. Rani seketika membalikkan badan dan dari kaca mobil yang terbuka, ibu Melisa melambaikan tangannya. “Sini,” panggil ibu Melisa.

Rani segera mendekat setelah tahu orang yang baru saja memanggilnya. “Ayo masuk mbak, Ibu kira si mbak nggak datang kesini,” ucap ibu Melisa sambil tersenyum ramah. “Jangan malu-malu, ayo,” ucapnya kembali. Ranipun masuk dan mengikuti mobil itu masuk ke dalam halaman rumah setelah pintu gerbang dibuka oleh dua orang pembantu.

“Mari silahkan masuk mbak,” kata pembantunya. Rani pun duduk di sofa di depan teras rumah besar itu. Rani masih merasa malu, dia hanya memandangi di sekitar tempat itu. Ada decak kagum di bibir Rani melihat indah dan segar di depan teras itu. Sungguh tempat yang megah, kata Rani dalam hatinya. “Monggo silahkan diminum mbak,” kata pembantu itu mengejutkan lamunan Rani. “Iya bi, terima kasih,” ucap Rani.

Ibu Melisa keluar dari dalam kamar setelah berganti pakaian dan langsung mengajak Rani masuk ke ruangan tengah. “Ayo, kita makan dulu, mbak,” sapa ibu Melisa masih tetap ramah.

“Nama saya Rani, bu,” kata Rani memperkenalkan diri. “Oh, iya, ibu lupa, aku Melisa,” kata si ibu itu. “Iya,” Rani hanya menganggukkan kepalanya. “Sebaiknya kita makan dulu ya,” lanjut ibu Melisa mempersilahkan Rani untuk duduk.

Ibu Melisa dan Rani duduk di meja makan. Keduanya duduk berhadapan, dua orang pembantunya datang mempersiapkan hidangan makanannya. Banyak sekali makanan yang dihidangkan di meja itu. Rani hanya terdiam memandangi semua hidangan itu. Rani teringat Ayah serta ibunya di rumah. “Apakah ayah sama ibu sudah makan di rumah?” fikir Rani.

“Ayo kita makan dulu,” ucap ibu Melisa mengagetkan Rani. “Kenapa melamun?” kata Ibu Melisa, “Ada apa?” tanyanya lagi. Rani yang terdiam masih tertegun. “Kenapaaa…?” tanya ibu Melisa lembut sambil menyentuh tangan Rani.

Rani hanya tertunduk, diam lalu menangis. Rani mengusap air matanya yang mengalir di pipi. Kemudian Rani bercerita kepada ibu Melisa tentang keadaan rumahnya, Ayahnya dan ibunya. Mereka sering tidak makan karena tidak adanya uang untuk membeli beras. Terkadang hanya singkong rebus yang bisa dimakan. Hidup yang kekurangan menjadikan Rani mau bekerja untuk membantu kedua orang tuanya.

Ibu Melisa memandangi wajah Rani dan mendengarkan semua cerita dari Rani. “Sabar,” hanya kata itu yang terucap dari ibu Melisa. “Nanti setelah kita makan, ibu akan kasih kamu uang dan boleh kamu kirim besok ke rumah kamu ya?!”

Rani mengangguk dan mulai makan dengan ibu Melisa. Baru kali ini makan bersama di rumah yang sebesar ini. Rani merasa bahwa makanan ini adalah yang paling enak, karena di rumah Rani tidak pernah merasakannya. “Makanan ini sangat enak dan lezat, bu,” kata Rani kepada ibu Melisa. Ibu Melisa hanya tersenyum memandang wajah Rani. “Makanlah nak,” ucap Ibu Melisa pelan.

“Ini kamar kamu, Rani, untuk kamu istirahat,” ucap ibu Melisa sambil membuka pintu kamar yang bersih, ruangan segar ber-AC. “Iya, bu terima kasih,” jawab Rani pelan. “Ibu mau ke tempat arisan dulu dan mampir butik. Kamu sebaiknya istirahat dulu ya?” ibu Melisa menjelaskan lalu pergi.

Rani hanya mengangguk memandangi ibu Melisa berlalu dari kamarnya. Rani merasa bahwa ibu Melisa itu orang baik. Rani berjalan ke arah kaca jendela kamar dan membuka melihat ke luar, kemudian Rani melihat ke arah langit yang cerah dengan warna biru. “Terimakasih tuhan,” ucapnya dalam hati. “Pemandangan kota yang indah,” lirihnya.

Siang itu cuaca sangat panas terik matahari menyengat tubuh. Rani nyaman di dalam rumah itu yang dilengkapi dengan udara yang dingin, AC. Rani berjalan di depan teras rumah melihat suasana di luar, sementara fikirannya selalu ingat kedua orang tuanya di desa. “Sedang apa mereka sekarang?” ucap Rani dalam hati.

Waktu berlalu siang berganti sore, Rani duduk di dekat kolam ikan di samping tanaman bunga dan rumput yang tertata rapi rumah itu. Tak ada yang banyak dilakukan kecuali melihat sekelilingnya. Desiran angin dan kicauan suara burung seakan ikut menyambut kedatangan Rani di perumahan itu. Rani tersenyum bahagia berada di rumah itu. Satu hari berada di kota itu, banyak sekali yang menjadi semangat untuk menjalani kehidupan di lingkungan yang baru.

Jam di dinding menunjukkan pukul 17.00 sore. Terdengar suara mobil datang memasuki halaman dan masuk ke dalam garasi. Rani segera beranjak dari duduknya, keluar menuju ke teras depan menyambut Ibu Melisa yang baru datang. “Gimana Ran.. kamu sudah kerasan tinggal di sini?” ujar ibu Meli. “Aku lihat sekarang kamu lebih merasa nyaman Rani?” tanya ibu Melisa kepada Rani. Rani hanya tersenyum sambil membawakan tasnya, kemudian mengikuti dari belakang. Seorang pembantu membawa air putih untuk ibu Meli dan Rani. “Terima kasih bi…” ucap ibu Meli sambil menerima minumannya.

Rani dan ibu Meli berbincang di ruangan tengah sambil sesekali bercanda menambah keakraban di antara keduanya, sehingga Rani sudah tidak canggung lagi kepada ibu Meli. Malam mulai menjelang seiring mentari senja yang tampak tenggelam di barat. Terdengar kumandang suara adzan maghrib di masjid wilayah perumahan mewah itu.

Rani mengambil air wudhu dan bergegas melaksanakan salat maghrib. Dengan khusyuk serta rasa syukur, Rani bersujud memohon perlindungan kepada sang khalik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan mengangkat kedua tangannya, doa-doa dipanjatkan dari bibir Rani, hingga tak terasa air mata kian menetes di pipi. Rani teringat sekali dengan kedua orang tuanya. “Rindu pulang,” desah Rani dalam hati.

Hingga tak sadar Rani terlelap tidur di sajadahnya, mimpi bertemu ibu. Pintu kamar Rani yang belum terkunci terlihat terbuka. Ibu Meli menatap Rani yang tertidur di atas sajadahnya. Ibu Meli hanya tersenyum melihat diri Rani yang begitu baik. “Kalau putrinya dulu masih hidup mungkin akan sebesar Rani,” kata ibu Meli dalam hati. Ibu Meli segera pergi setelah menutup pintu kamar dan kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan tugasnya.

Malam-malam yang indah kini dirasakan oleh Rani. Rani merasa kini lebih baik, tinggal menanti hari esok untuk berjuang bekerja di tempat ibu Melisa. Senyum mengembang dari mimpi malam yang terasa panjang.

Pagi itu, ibu Meli sudah siap berangkat ke kantornya dan menyempatkan diri untuk mampir ke butiknya. Rani ikut ke dalam mobil, duduk di belakang, ibu Meli duduk di depan sambil menyetir. Mobil keluar dari garasi, menuju pintu gerbang, lalu terus melaju meninggalkan rumah yang besar itu.

Suasana butik di pagi itu sangat ramai. Banyak sekali pengunjung yang datang untuk membeli, ada pula yang cuma melihat-lihat; kain songket, batik, kebaya, gamis, terpampang di tempat itu. “Banyak sekali pengunjung hari ini,” ucap ibu Meli kepada Rani. “Iya bu, ramai sekali,” ucap Rani pula. “Kamu nanti bisa kerja di sini Rani.” “Iya, bu,” jawab Rani sambil ikut masuk ke dalam butik. Ada beberapa karyawan yang masih sibuk dengan kerjanya.

Ibu Meli memanggil mereka semua setelah jam istirahat. Tak lama, mereka berkumpul di ruangan belakang. Semua karyawan dikenalkan dengan Rani. “Semua karyawan nanti menjadi anak buah Rani.” Rani lebih bersemangat lagi untuk bekerja di butik itu. “Semoga Rani betah kerja di tempatku,” gumam Ibu Meli. “Pekerjaan ini baik untuk Rani,” fikirnya. Rani langsung memegang kendali dan diangkat sebagai pengganti ibu Meli.

Rumah itu berlantai dua, sangat luas dan mewah. “Griya Indah Perumahan Permai.” Rani duduk santai di teras sambil membaca sebuah buku. Ibu Meli masih di kantor hingga sampai sore, tak seperti biasanya pulang terlambat. Mungkin masih sibuk atau di jalan macet. Rani masih menunggu namun tak kunjung tiba. Rani mulai merasa panik dan segera memanggil kedua pembantunya.

“Bibi apakah ibu sering telat pulang seperti ini?!” tanya Rani kepada pembantunya. “Maaf non, ibu tidak pernah pulang terlambat,” jawab bibi. Kemudian Rani menelpon teman-teman arisan, ternyata ibu tidak ada di sana. Rani mencoba menelpon ke kantornya.

“Halo?” “Ada yang bisa kami bantu,” terdengar jawaban dari arah telepon. “Maaf, apakah ibu Meli sudah pulang dari kantor?” tanya Rani kepada pegawai kantor. “Iya, sudah bu,” jawabnya lagi.

Rani menutup gagang teleponnya setelah mendapat informasi dari kantor. Sebentar Rani terdiam, lalu Rani memanggil kedua asisten ibu Meli. “Bibi, bi…?” “Iya, non, ada apa?” jawab pembantu itu. Rani kemudian berbicara dengan kedua asistennya. “Iya, non, ibu biasanya pulang tepat waktu, tapi hari ini memang agak telat.” Bunyi telepon rumah terdengar. “Kring! Kring! Kring!…” Buru-buru Rani mengangkatnya. “Iya, halo?”

“Ini dari rumah sakit Medika Raya, mohon ibu segera datang. Dari keluarga ibu atas nama Melisa kecelakaan.” “Hah!” “Iya, iya, pak, kami segera kesana.” Rani bergegas berangkat ke rumah sakit yang dimaksud bersama Pak Waluyo, sopir pribadi.

Di dalam mobil, Rani terlihat sangat panik, takut terjadi apa-apa dengan ibu Meli. Di depan lobi rumah sakit, tampak begitu ramai dan sangat sibuk. Rani terus masuk ke dalam rumah sakit dan menemui petugas jaga, dan menanyakan pasien atas nama ibu Melisa yang sudah dirawat dari kecelakaan di rumah sakit tersebut. Seorang petugas jaga mempersilahkan masuk ke salah satu ruangan dan diantar oleh satu perawat.

“Buu…!” jerit Rani sambil memeluk ibu Melisa. Ibu Melisa terbaring di ranjangnya. Terlihat ibu Melisa masih lemas terkulai. Untungnya tidak begitu parah, sehingga hanya luka kecil yang dialaminya. Ibu Melisa masih terdiam, kedua matanya terpejam. Rani hanya terduduk lemas di samping ranjang.

“Sebentar ya bu…?” “Pasien mau diperiksa dulu,” tegur salah satu dokter wanita yang baru saja datang. Rani hanya mengangguk sambil menggeser kursi yang ia duduki. Tak lama, dokter itupun mulai memeriksa keadaan ibu Meli. Rani menunggu di luar sambil terus mengawasi dokter wanita itu lalu berbicara dengan dua perawatnya. “Apakah mba dari pihak keluarganya?!”

Suara itu mengejutkan Rani, kemudian Rani berdiri dan memandang wajah dokter itu. “Ka… kamu, Septi?!!” pekik Rani sambil menatap wajah dokter itu. “Siapa kamu, Rani?!” “Iya?! kamu, Rani?!?” Untuk kedua kalinya, Dokter Septi memastikan. “Iya! Aku, Rani, Septi…” Septi dan Rani saling berpelukan sangat erat, mereka tak menyangka akan bertemu di rumah sakit.

Ibu Meli sudah sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasa. Hari minggu libur, ibu Meli hanya di rumah dengan kegiatannya menyiram tanaman serta bunga yang ada di depan rumahnya. Suara mobil menderu di depan pintu gerbang, ibu Meli langsung memanggil pak Waluyo. “Pak Waluyo, itu ada tamu, tolong pintu gerbang dibuka?!” “Iya, nyonya,” ujar pak Waluyo kemudian berlari ke arah pintu gerbang.

Pintu gerbang terbuka lebar, mobil pun masuk ke dalam. Turunlah dokter Septi dari dalam mobilnya, lalu berjalan menghampiri ibu Meli yang masih asyik menyirami tanamannya. “Oh, dokter Septi, kamu datang,” tegur ibu Meli. “Mari, mari silahkan masuk,” ibu Meli menyambutnya. Kedua wanita itu pun masuk ke dalam dan duduk di depan teras rumah. “Gimana keadaan ibu sekarang?” tanya dokter Septi. “Oh, alhamdulillah sudah membaik dan sudah sehat,” jawab ibu Meli. “Syukurlah, bu,” ujar dokter Septi.

“Oh, iya, bu Meli, saya mau tanya sama ibu. Putri ibu kemana, ya…?” Ibu Meli sempat tertegun mendengar dokter Septi menanyakan tentang anaknya. Ibu Meli sesaat terdiam, lalu menceritakan kejadian di sebuah pedesaan. Dulu ibu Meli juga lahir dari desa, punya anak seorang putri dari hasil pernikahannya dengan mantan suaminya. Dokter Septi terus mendengarkan cerita dari ibu Meli.

“Kalau Rani itu ketemu di mana, bu?” “Ohh, Rani, dia anak yang baik, ibu bertemu saat dia sedang berjualan di kotanya. Secara kebetulan kami ketemu…” Namun sebelum ibu Meli menceritakan lebih lanjut, tiba-tiba Rani datang dari depan pintu. “Assalamualaikum…?” “Waalaikumsalam, wr wb…,” ibu Meli dan dokter Septi menjawab berbarengan.

Septi kembali memeluk Rani. “Kamu sudah lama di sini, Sep?” tanya Rani sambil tersenyum senang. “Iya, belum lama,” ujar Septi. Ibu Meli tertegun dan terbengong melihat keakraban Rani dan dokter Septi. “Lahh, lahh, rupanya kalian sudah saling kenal?” tanya ibu Meli kepada keduanya.

Septi dan Rani saling tertawa, lalu menjawab. “Iya, bu, kami teman satu kelas dulu,” jawab Rani juga Septi bergantian. “Oalaahhh… syukur deh, ibu ikut seneng mendengarnya,” jawab ibu Meli. Sambil berdiri, ibu Meli meninggalkan Septi dan Rani yang sedang mengobrol. Ibu Meli sesekali melihat keduanya, sambil terus menyirami bunga-bunga kesayangannya. Ibu Meli hanya tersenyum, ada sesuatu yang masih tersimpan jauh di relung hatinya. “Kapan kita bisa bertemu lagi, nak? Ibu percaya kalau kamu masih hidup,” gumam ibu Meli. Ada raut kesedihan tergambar di wajahnya.

Malam itu Rani masih mengerjakan tugasnya. Sesekali ada rasa kantuk yang mendera, namun Rani tepiskan, ia berusaha untuk merinci kembali semua jumlah keuntungan selama satu bulan di butiknya. Setelah selesai, ia akan langsung menyerahkannya kepada ibu Meli. Malam semakin larut, Rani masih tetap di tempatnya. Di ruangan yang cukup luas, ia duduk sendiri, terkadang bibi Lasmi ikut menemaninya. “Bi?” “Iya, non, ada apa?” jawab bibi Lasmi. “Sebaiknya bibi istirahat, biar Rani sendiri, ya?” “Iya, non,” kata bibi Lasmi sambil berbalik meninggalkan Rani, pergi ke kamarnya.

Tiba-tiba Rani teringat akan kedua sahabat-sahabatnya. “Di mana kamu sekarang, Evina, Unul?” desis Rani lirih. “Baik-baik sajakah kalian?” “Aku sudah bertemu Septi, tapi aku belum bertemu kalian…?” Dengan suara serak, Rani berbicara sendiri. Dan kantuk pun mulai menghinggapi, tanpa sadar Rani tertidur di atas meja, terlelap dengan pulasnya.

Pagi yang cerah, Rani terbangun dari tidurnya setelah bibi Lasmi membangunkannya. Dengan kantuk yang masih terasa di kedua matanya, Rani berjalan ke kamarnya setelah merapikan berkas-berkasnya. Hari ini Rani berniat pulang ke kampung halamannya. Bersama ibu Meli, ia akan berangkat bersama. Segala keperluan sudah disiapkan, dimasukkan di belakang bagasi mobil putihnya.

“Ayo, Ran… kita berangkat,” tegur ibu Meli. “Iya, bu,” jawab Rani. Mobil putih itu meluncur meninggalkan rumahnya, satu demi satu terlintas dari dalam jendela kaca putihnya. Mobil terus melaju, melewati gedung-gedung tinggi di area perkotaan. Sinar mentari tampak menyinari, udara panas menyengat menandakan waktu terus berjalan.

Hingga terlihat di ufuk timur, sang mentari masih tetap menyinari. Tak terasa waktu sore telah tiba, mobil pun berhenti di sebuah warung makan di salah satu kota kecil itu. “Sebentar lagi kita sampai, Ran…,” ucap ibu Meli. “Sebaiknya kita makan dulu sambil melepaskan rasa penat, kita istirahat,” kata ibu Meli melanjutkan. “Iya, kita sudah sampai di kota kecil, tinggal beberapa menit lagi untuk menuju ke desaku,” ucap Rani.

Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju ke sebuah warung makan yang cukup luas dan besar dan terlihat sangat ramai. Ketiga orang itu berjalan setelah mobil di parkiran. Saat ketiganya mau menyeberang jalan, tiba-tiba dari arah depan, tiga orang datang dan langsung menodongkan pisau ke arah mereka. Seketika ibu Meli teriak. “Jangan!!” Teriak ibu Meli ketika tas di tangannya terlepas dan diambil oleh salah satu orang tersebut yang terus mengancam sambil menodongkan pisaunya ke arah mereka.

Dengan sigap Rani maju melindungi ibu Meli yang hampir jatuh. Sedangkan pak Waluyo tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya melangkah mundur. Rani mencoba melawan dengan merebut kembali tas ibu Meli. Perkelahian yang tak seimbang, satu lawan tiga membuat Rani semakin terdesak, beberapa pukulan keras mengenai punggungnya.

Dalam keadaan yang sangat genting itu, tiba-tiba datang dari arah mana, dua orang wanita langsung menghajar mereka. “Heaatt, heaatt…”, suara wanita itu terdengar sambil melakukan serangan kepada kedua preman itu. “Braakk!!” Tendangan demi tendangan mengenai mereka. Rani tak tinggal diam, ia maju ke depan dan memberi pukulan telak ke arah wajah preman itu. Ibu Meli hanya berdiri tertegun dan kaget yang masih dirasa. Ketiga preman itu mundur berbarengan. “Hai!” “Siapa kalian!! Ikut campur?!”

Ketiga cewek itu pun sama mundur beberapa langkah. “Rani!” teriak Unul. “Evina!” Ranipun sama berteriak kepada keduanya. Seketika mereka bersatu. “Kita lawan preman-preman ini?!” ujar Unul. “Ayo!!” Dengan satu gertakan, kembali Unul, Rani, dan Evina menyerang ketiga preman-preman pasar itu.

Perkelahian semakin sengit; pukulan, hantaman, tendangan, terdengar sangat kuat. “Heeaattt…”, teriak Evina memberi pukulan telak ke arah ulu hati, dan… “Brraakk…!” jatuh satu, tersungkur tak bergerak lagi. Rani masih melawan dengan pukulannya. Dan satu tamparan yang sangat kuat dipenuhi tenaga dalam telak menghantam dagu laki-laki preman itu, tak ayal jatuh dan pingsan. Tinggal Unul dengan tenang meladeni laki-laki cebol itu. Diplintirnya kepala orang itu, diputar-putar sampai limbung. “Mumet koen!” “Puyeng puyeng..!!” teriak Unul sambil terus memegang leher serta kepala terus diputar hingga ambruk laki-laki cebol itu.

“Laahhh… kelengerr…?” Rani serta Evina melihat tingkah Unul sampai ketawa menahan geli karena ulah dengan preman itu. Ketiga preman itu kemudian dibawa ke pos satpam untuk diserahkan ke pihak yang berwajib. Ibu Meli yang masih merasa syok hanya bisa memandangi ketiga preman itu setelah ditangkap petugas satpam. Setelah semua kejadian itu selesai, semua orang yang menyaksikan perkelahian itu pun bubar. Unul mengambil tas yang masih tergeletak di tanah, memungutnya, lalu memberikan kepada ibu Meli. Ibu Meli sempat terkejut melihat wajah Unul, dan ada rasa yang menyesakkan di dada ibu Meli.

Degup jantung yang terasa kuat dan juga sama halnya dengan Unul. Sambil mengembalikan tasnya, Unul merasa ada getaran di dadanya sehingga tanpa sadar tangannya gemetar. “Ini tas ibu, ya?” ujar Unul sambil tersenyum. “Iya,” hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir ibu Meli. Rani, Evina mendekati Unul dan ibu Meli. “Ayo, sekarang kita makan dulu,” ajak Rani.

Mereka semua berjalan memasuki warung lesehan yang sangat ramai, pak Waluyo mengikuti dari belakang sesekali tengak-tengok melihat keadaan. Rani, Evina, Unul juga ibu Meli mengambil tempat di sudut pojok sebelah kaca jendela yang terbuat dari rotan. “Tempat yang nyaman,” ujar ibu Meli. Mereka menikmati semua hidangan hingga selesai. Sambil mengobrol, ketiga gadis remaja itu banyak sekali bercerita, sehingga ibu Meli terheran takjub dibuatnya. Persahabatan mereka begitu kuat saling membantu satu sama lainnya. Ibu Meli hanya bisa kagum pada ketiga remaja itu.

“Oh, jadi kalian 4 sekawan, termasuk dokter Septi juga?” “Iya, bu,” kata Rani sambil terus menjelaskan. “Wahhh?!!” “Ibu sangat salut pada kalian,” puji ibu Meli sambil tersenyum seraya mengacungkan kedua jempolnya. Pertemuan mereka berlanjut hingga ibu Meli mengajak ikut serta Evina dan Unul. Mobil berwarna putih itu berangkat mengarah ke jalur jalan pedesaan. Di gang terdapat tulisan jl: Semboyan. Mobil putih itu terus menyusuri jalan desa yang masih terjal dan berbatu.

“Desaku,” ucap Rani dalam hati. Rumah kecil yang berada di ujung jalan mulai terlihat. Rani merasa bahagia bisa melihat rumahnya. Tepat di depan rumah itu, mobil putih itu pun berhenti. Rani, Evina, serta Unul keluar dari pintu mobil. Dan ketiganya langsung masuk teras rumah diikuti ibu Meli dan juga sopir pribadinya. “Assalamualaikum…?” Terdengar jawaban dari dalam rumah. Ayah Rani pun keluar membukakan pintu.

“Waalaikumsalam…”, jawab ayahnya Rani. Pintu terbuka lebar, ayah Rani sangat terkejut melihat yang berdiri di depannya. “Rani…”, ayahnya langsung memeluk Rani, seketika suara tangisan terdengar lirih. Ayah Rani kemudian menyapa Evina, Unul mempersilahkan masuk. Ibu Meli masih berdiri memberi salam kepada Ayahnya Rani. “Pak Rakim?!!” “Ini pak Rakim betul?” sapa ibu Meli berkali-kali, sambil terus menatap wajah Pak Rakim ayahnya Rani.

Seketika ayah Rani terkejut bukan kepalang, tatapannya nanar. Kembali ayahnya Rani memandang lebih seksama kepada ibu Meli. “Non Meli?!!” “Betul ini kamu non…?!” “Iya, pak, ini saya Meli,” Melisa, istri dari mas Kuntoro. Mendengar itu semua, tak ayal lagi, Ayah Rani jatuh terkulai lemah lalu pingsan. Mendengar suara gaduh, Rani dan Evina segera keluar. “Ayah!” “Kenapa, Yah?” Rani memeluk ayahnya sambil menangis.

Setelah siuman dan tersadar, ayahnya Rani kembali bangun lalu duduk di bangku dipan. “Muyah?” panggil ayahnya Rani kepada istrinya. “Kamu lihat baik-baik itu siapa yang datang?” ucap ayahnya Rani. Seketika itu juga ibunya Rani langsung menangis menghampiri ibu Meli seraya memeluknya. “Maafkan saya, non…”, ucap ibunya Rani. “Maafkan saya,” sekali lagi ibunya Rani meminta maaf sambil terus menangis.

Ibu Meli juga ikut menangis penuh keharuan setelah cukup lama bisa dipertemukan kembali dengan ayah dan ibunya Rani yang dulu pernah menjadi pembantunya. Suasana yang begitu sedih atas semua pertemuan itu. Akhirnya di dalam rumah, ibunya Rani mulai menceritakan perihal dan peristiwa yang sesungguhnya atas kejadian kebakaran yang hebat di pabriknya dulu, hingga menewaskan majikannya pak Kuntoro suami dari ibu Meli.

“Apakah betul bu suami dan anak putri saya juga mati dari kebakaran itu?” tanya ibu Meli. “Iya, betul non, pak Kuntoro meninggal juga anak putri non Meli…?” “Ini putri non Meli?!!” Ayahnya Rani lalu kemudian menuntun Unul yang sedari tadi mendengarkan dari balik pintu dan mata Unul tak lepas dari tatapannya kepada ibu Meli. Unul sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang telah menjadi cerita nasibnya.

“Benarkah dia anak putri saya?!” jawab ibu Meli sambil mendekati Unul yang masih terlihat bingung. “Iya, non… Unul anak putri non Meli,” tegas ibunya Rani sambil terus mencucurkan air mata. Ibunya Rani menghampiri Unul dan mengatakan yang sebenarnya. “Unul, dia ibu kamu. Dulu aku dan ayah Rani yang telah membawa kamu dari kebakaran itu, lalu aku titipkan kamu pada uwa yang ada di desamu.”

Dengan mata berkaca-kaca, Unul mendengarkan cerita dari ibunya Rani. “Betul, bu…?” Ibunya Rani hanya mengangguk. Kemudian Unul menatap wajah ibu Meli, seraya memanggil “Mamaaa…!!!!” teriaknya. Seketika Unul berlari memeluk erat ibu Meli. “Unul, anakku,” ucap ibu Meli memeluknya lebih erat. Debar jantung makin dirasa oleh keduanya, hingga meluruhkan segala perasaan mereka. Dalam pelukan keduanya hanya bisa menangis menahan kerinduan yang teramat dalam. Cinta yang dulu pernah hilang, kini telah terobati dengan pertemuan dua hati, dua orang yang tak akan lagi terpisahkan.

Seminggu sudah berlalu, Ibu Meli dan Unul akhirnya bersiap-siap untuk pulang ke kota. Di rumah keluarganya Rani, Unul dan ibunya banyak sekali mendapatkan penjelasan dari orang-orang yang datang, yang dulu ikut membantu di saat peristiwa kebakaran. Itu cerita mereka. Dari yang pernah mengasuhnya juga sangat senang mereka bisa bertemu lagi antara ibu dan anak.

Rani hanya bisa tersenyum bahagia, dia terus memandangi Unul, dan keduanya saling berpelukan. “Kamu sudah menemukan kebahagiaan hidupmu bersama ibumu,” kata Rani dengan suara lembut. “Bersenang-senanglah di sana, jangan sedih ya?” Unul hanya mengangguk. “Tapi, inyong ora lagi ngimpi, kan? (tapi, saya tidak sedang bermimpi kan?)” tanya Unul lirih. “Ora?! (nggak?!)” Hanya itu yang bisa Rani katakan. Mobil putih itu pun pergi meninggalkan keluarga Ayah dan ibunya Rani.

Rani terus berdiri sambil melambaikan tangannya bersama Ayah dan ibunya yang terus memandangi mobil putih itu hingga di kejauhan. Rani merasakan bahagia bisa berkumpul kembali bersama Ayahnya dan ibunya. “Rani akan selalu menemani ayah dan ibu,” kata Rani sambil memeluk keduanya. Ayah dan ibu Rani tersenyum, memeluk Rani dengan erat. Mereka tahu bahwa Rani telah menemukan kebahagiaan yang sebenarnya, dan mereka akan selalu bersama.

Hari itu, matahari terbenam dengan indah menyinari wajah-wajah bahagia di rumah Rani. Mereka tahu bahwa kebahagiaan itu tidak akan pernah berakhir, karena mereka telah menemukan satu sama lain.

TAMAT









error:
Verified by MonsterInsights