Pelita Sunyi – Pagi itu Akira tetap berangkat menuju kesekolah, meskipun hujan turun lebat disertai suara petir yang bergemuruh di tengah–tengah atas langit. Sementara Ayah Akira memanaskan motor tuanya, Akira mempersiapkan buku-buku yang akan dibawa ke sekolah. Tak selang berapa lama Ayah Akira pun memanggil. ”Akira, ayo kita segera berangkat,” Kata Ayah, seraya tersenyum. ” Iya, Ayah,” Jawab Akira sambil mendekat ke Ibunya untuk berpamitan.

Deru suara motor menerobos di tengah hujan, sambil melambaikan tangan nya ke Ibu. Seketika motor pun tak terlihat karena melaju dengan cepat dan mengarah ke jalan besar. Dalam perjalanan, Akira hanya diam membisu, hanya mata memandang ke arah depan.

Tak lama kemudian, hujan pun mulai mereda, dan sampailah Akira di depan pintu gerbang sekolah. Akira turun dari motor, Ayahnya tersenyum dan berkata “semoga hari-hari mu menyenangkan ya, Nak.” Akira hanya mengangguk dan langsung mencium tangan Ayahnya untuk berpamitan, lalu melangkah masuk ke gerbang sekolah. Saat melangkah, dia melihat ke arah lapangan sekolah yang masih basah karena hujan. Tiba–tiba, dia teringat sesuatu dan berhenti sejenak. ”Astaghfiruallah, hari ini kan aku mau kerja kelompok, kenapa aku lupa memberitahu hal ini kepada Ayahku?” Gumam Akira. Lalu dia bergegas untuk masuk ke kelas kerena bel masuk sudah berbunyi.

Senja mulai merayap di ufuk barat. Semilir suara angin berhembus mengiringi malam yang mulai terasa gelap. Nan jauh di sana terdengar suara azan berkumandang. Akira beranjak dari tempat duduknya menuju ke dalam rumah. ”Akira..?” Panggil Ibu. “Iya,Bu,” Jawab Akira pelan. “Salat, Nak…” “Iya, Bu,” Akira segera ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudu. Mereka pun salat bersama, menjalankan kewajiban perintah Tuhan. Suasana yang tenang dalam zikir panjang, seraya doa yang dipanjatkan. Kembali Akira masuk ke dalam kamar, dia hanya duduk di tempat tidur, sembari memandang jauh lewat kaca jendela kamar. Sebentar ia menatap, Sebentar ia hembuskan nafas dalam-dalam. Sesaat Akira terdiam membisu, sambil mengingat sesuatu. ”Ada apa Akira? malah melamun, kurang baik malam-malam bengong sendiri, ayo sini, makan dulu” Ucap ibu. Akira langsung menuju ruang tengah untuk makan malam bersama.

Ayah Akira duduk di teras rumah “Ayah” Kata Akira sambil duduk di samping ayah. “Iya nak, ada apa?” Jawab Ayah Akira dengan senyuman. “Yah, besok sepulang dari sekolah aku mau kerja kelompok di rumah temen ku, kira-kira Ayah besok bisa ngga ya jemput di rumah temen ku?” Tanya Akira.

“Iya, nanti ayah jemput jam berapa?” Tanya Ayah Akira. “Jam 5 sore yah” Jawab Akira.

Lihat Juga:

“Ya udah, sekarang kamu belajar dulu kalo udah selesai langsung tidur biar besok ngga kesiangan.” Suruhan ayah akira. “Iya yah” Kata Akira sambil berlalu. Waktu menunjukan pukul 20, terdengar jam dinding berbunyi. Akira pun segera merebahkan diri. Rasa lelah yang menghinggapi di seluruh tubuh, ia pun mulai terlelap dalam tidur malam mimpi yang indah menyongsong hari esok.

Pagi ini Akira berangkat lebih awal, dan langsung masuk keruang kelas untuk mengerjakan tugas piket harian, ia pun langsung membersikan ruang kelasnya. Lina,tiyas,khusnul,fina mulai terlihat masuk kedalam kelas. Mereka pun saling menyapa. “Hai lin nanti kita pulang bareng ya, terus kita langsung kerumah tias untuk kerja kelompok.”

“Gimana Yas?’ celetuk Fina.

“Oke?!” Jawab Tiyas sambil mengacungkan jempol.

Jam menunjukan pukul 07.00. Bel sekolah berbunyi, terdengar suara riuh anak-anak masuk ke kelas masing-masing di ikuti oleh para guru untuk segera memulai pelaran. Terdengar riuh rendah suara anak-anak di kelas masing-masing saat doa di panjatkan. Suara hening pun mulai mengiringi di saat mata pelajaran dimulai. Terlihat sinar matahari mulai memancarkan cahaya yang hangat memberikan suasana semakin tenang.

Jalan yang berkelok menurun itu pun terlihat ramai. Hilir mudik kendaraan saling berpapasan. Sore itu suasana begitu cerah. Terlihat jelas gunung yang jauh di sana mengeluarkan asap putih nya. Bersih dan sungguh indah di pandang mata. Akira pun terus menatap sambil tersenyum kepuncak gunung itu.

Begitu tinggi menjulang kokoh tiada goyah walau hempasan angin yang besar. Begitu pun akira terlihat lebih tenang setelah apa yang telah dia lakukan untuk mengingat semua yang selama ini dilakukan. Lina yang begitu baik yang terus memberikan semangat dan motivasi dan Pak Rudi yang selalu memberikan dukungan kepada Akira yang akhirnya dia bisa merubah tentang arti makna hidup yang sesungguh nya.

Tatapan mata Akira yang sedikit sayu. Dan tanpa sadar Akira pun meneteskan air mata. Lama dia terdiam dan menghela nafas terucap lirih “Terimakasih tuhan engkau telah memberikan karunia, nikmat hidup, yang selama ini belum pernah aku rasakan.

Terimakasih tuhan.” Ucap Akira lirih sembari terus memandangi langit yang cerah di sore itu di iringi senja yang mulai menampakan diri untuk menemani malam hari,esok hari akan berganti Menyongsong hari-hari yang penuh ceria.

SELESAI

Baca Juga: “PELITA SUNYI” BAB 1