Dalam sebuah surat yang dibaca kantor berita Associated Press kepada koordinator perwakilan PBB, Direktur Sementara Pusat Bencana Nasional Papua Nugini, Luseta Laso Mana, menyatakan bahwa tanah longsor tersebut “mengubur lebih dari 2.000 orang hidup-hidup” dan menyebabkan “kehancuran parah” di desa Yambali, provinsi Enga.
Kepala Misi Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) di Papua Nugini, Serhan Aktoprak, mengungkapkan, “Masalahnya, tanahnya sangat dalam. Sangat sulit untuk menemukan jenazah di bawah reruntuhan yang berat. Tanahnya pun masih terus bergeser. Bebatuan terus berjatuhan.”
Ia menambahkan, beberapa penduduk setempat enggan menerima alat berat untuk menyingkirkan puing-puing, demi menjaga keutuhan jenazah.
“Lebih parahnya lagi, ada air yang mengalir di bawah puing-puing dan lantai, tanah, permukaan di mana puing-puing itu berada. Jadi, kami khawatir lumpur ini dapat menyebabkan longsor (susulan),” jelas Aktoprak.













