
Pemalang, CMI News – Masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Pemalang, berencana akan melakukan audiensi untuk menolak keberadaan salah satu seorang guru BK di Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah di Kabupaten Pemalang.
Hal itu dikarenakan, adanya guru BK SMAN 3 Pekalongan yang tersandung kasus dugaan pelecehan seksual secara verbal terhadap sejumlah siswinya, yang kini di pindahkan ke SMAN 1 Bantarbolang, Kabupaten Pemalang.
Menanggapi hal itu, Aliansi Pemalang bergerak bertujuan untuk menolak agar kejadian tersebut tidak terulang kembali terutama di lingkungan Sekolah yang ada di Kabupaten Pemalang.
Kabar audensi yang akan dilakukan Aliansi Pemalang tersebut, telah beredar surat pemberitahuan aundesi yang tersebar di media sosial.
Guna mengetahui kebenarannya, media CMI News berusaha konfirmasi untuk menghubungi melalui pesan WhatsApp (WA) pengurus Aliansi Pemalang.

Mereka membenarkan adanya surat audensi yang beredar tersebut, dan akan dilaksanakan pada hari yang sudah ditentukan.
” Kami aliansi Pemalang Usir Predator bermaksud beraudiensi dengan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah yang ada di Kabupaten Pemalang terkait pemindahan Guru BK Predator Sex dari SMAN 3 Pekalongan Ke SMAN 1 Bantarbolang”. Tulis isi surat audensi Aliansi Pemalang tersebut.

Mereka akan melakukan audiensi di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah yang ada di Pemalang, pada Kamis, (17/10/2024) pukul 13.00 WIB.
“Audiensi ini merupakan wujud nyata penolakan terhadap kebijakan kami nilai konyol yang dibuat oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jateng, yang dengan mudahnya membuang Predator Sex di wilayah Kab.Pemalang. Ujar Ronggo Warsito selaku ketua koordinator
“Insyaallah walaupun ini ranahnya baru audiensi saya yakin yang hadir pasti juga banyak karena permasalahan ini merupakan permasalahan sosial mendasar dan paling banyak yang ada di Kab.Pemalang” katanya
Kalau memang Kepala dinas Pendidikan Provinsi tidak segera mengevaluasi keputusan tersebut. Maka kami pastikan setelah Perhelatan Pilkada 27 November besok, kami akan aksi Demonstrasi besar-besaran. Tegas Ronggo
Hal ini merupakan wujud kepedulian terhadap penerus bangsa terutama di lingkungan Sekolah, rasa kekhawatiran mereka menganggap hal ini bisa saja dapat terulang kembali. Imbuhnya
Sebelumnya, dilansir dari detikjateng, sejumlah siswa SMAN 3 Kota Pekalongan menggelar aksi demo di sekolah pada Rabu (2/10). Mereka menuntut sekolah memberi sanksi pada oknum guru Bimbingan Konseling (BK) yang berinisial S. S dituding telah melakukan pelecehan seksual secara verbal ke puluhan siswi.
Saat aksi demo para murid ini, oknum guru BK tersebut tidak tampak di sekolahan. Saat mediasi, para korban yang didampingi lembaga bantuan hukum, ditemui pihak sekolah, komite sekolah dan petugas kepolisian.
Tim bantuan hukum dari LBH Adiyaksa, Imammul Abror, menjelaskan dari puluhan siswa yang menjadi pelecehan seksual verbal, baru 20 siswi yang mengadukan ke pihaknya.
“Dari data yang kami dapatkan, ini korban dipilih secara acak, mungkin sesuai dengan selera atau sesuai dengan kelas, dibawa ke dalam ruangan diinterview dengan pertanyaan-pertanyaan menuju ke arah seksual,” kata Imam.
Menurut Imam, interview pada para siswi yang dipilih oknum guru BK ini hanya sebagai modus.
“Sebenarnya bukan mencari keterangan, jadi banyak yang dari korban ini merasa ini bukan interview (yang wajar), ini kok seakan aku dihakimi, aku dilecehkan. Ini disampaikan ke orang tua, orang tua akhirnya datang ke kami untuk memberikan kuasa,” ungkapnya.
“Sementara ini ada 20 orang (mengadu). Kemungkinan akan bertambah, ya siswi semua (perempuan),” katanya.







