Ketergantungan Energi Masih Tinggi
Namun, implementasi desakan Trump bukan perkara mudah. Data dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menunjukkan bahwa beberapa anggota NATO masih bergantung pada minyak Rusia. Turki, misalnya, tercatat sebagai pembeli terbesar ketiga setelah China dan India. Sementara itu, negara seperti Hongaria dan Slovakia juga masih aktif mengimpor.
Analis dari Atlantic Council, Daniel Fried, menilai sikap Trump sebagai bentuk “ultimatum lama” yang kembali diulang.
“Menghentikan minyak Rusia sepenuhnya sulit dilakukan karena ketergantungan energi yang masih tinggi pada beberapa anggota NATO,” ujarnya.
Dampak pada Stabilitas Energi Global
Jika NATO benar-benar mengikuti arahan Trump, pasar energi global bisa mengalami gejolak baru. Embargo penuh akan mempersempit pasokan minyak, berpotensi mendorong harga energi dunia kembali naik. Kondisi ini tentu berimplikasi pada inflasi, biaya produksi industri, hingga kestabilan keuangan negara-negara berkembang.














