Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Berita

Tekanan Harga Global, Sejumlah Smelter Nikel RI Hentikan Produksi Sementara

×

Tekanan Harga Global, Sejumlah Smelter Nikel RI Hentikan Produksi Sementara

Sebarkan artikel ini

Cikarang, CMI News — Industri smelter nikel di Indonesia tengah menghadapi tekanan berat. Sejumlah fasilitas pemurnian logam ini dilaporkan menghentikan sebagian atau seluruh lini produksinya, akibat anjloknya harga nikel global dan margin usaha yang terus tergerus.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai, kondisi ini lebih dipicu oleh pelemahan harga nikel dunia yang hingga kini belum menunjukkan pemulihan signifikan. Harga nikel yang pada masa jayanya sempat menyentuh US$28.000/ton, kini tertahan di level sekitar US$14.000–15.000/ton.

“Dinamika harga nikel inilah yang mendorong beberapa perusahaan akhirnya mengambil langkah shutdown,” ujar Dirjen Mineral dan Batu Bara (Minerba) ESDM, Tri Winarno, dalam konferensi pers di KPK, Kamis (24/7/2025).

Menurut Tri, meskipun tekanan harga mengganggu operasional jangka pendek, Indonesia tetap memiliki peluang memperpanjang usia cadangan nikel nasional. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan pasokan bijih dari luar negeri.

“Kalau bijih yang diimpor itu benar-benar bahan mentah, bukan hasil olahan, maka justru bisa memperpanjang umur cadangan nikel dalam negeri,” jelasnya.

Pabrik-pabrik Besar Terpukul, Ribuan Pekerja Terdampak

Efek tekanan pasar ini nyata terlihat di lapangan. Berdasarkan catatan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), setidaknya empat perusahaan smelter telah menghentikan sebagian lini produksinya. Di antaranya adalah:

PT Gunbuster Nickel Industry (GNI)

PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS)
(Keduanya beroperasi di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park/IMIP, Sulawesi Tengah)

PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI)

PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI)
(berbasis di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan)

Efek domino dari keputusan ini turut berdampak pada tenaga kerja. Federasi Pertambangan dan Energi (FPE) melaporkan, IMIP sempat melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 3.000 karyawan pada April 2025, meskipun klaim tersebut dibantah oleh manajemen kawasan.

Sementara itu, Serikat Buruh Industri Pertambangan dan Energi (SBIPE) menyebut sekitar 1.200 pekerja dari PT HNAI dan tiga anak usahanya juga telah dirumahkan. Ketiga anak perusahaan tersebut yakni PT Huadi Wuzhou, PT Huadi Yatai, dan PT Huadi Yatai Nickel Industry II.

Harga Nikel Terus Tertekan di Bursa Global

Data terkini dari London Metal Exchange (LME) mencatat harga nikel berada di level US$15.465/ton, turun 0,69% dibandingkan hari sebelumnya. Harga ini mencerminkan tekanan berkelanjutan sejak awal tahun.

Menurut laporan riset BMI, anak usaha Fitch Solutions, harga nikel sempat diproyeksikan menyentuh US$20.000/ton di 2024. Namun, kenyataannya anjlok menjadi rerata US$18.000/ton bahkan sempat menyentuh titik terendah empat tahun terakhir.

Kemerosotan harga nikel sejatinya sudah mulai terasa sejak 2023, saat rerata harga turun ke level US$21.688/ton—terjun bebas 15,3% dibanding 2022.

Analis menilai, over-supply dari produsen utama seperti Indonesia dan Filipina, ditambah melemahnya permintaan global, khususnya dari sektor baja nirkarat di China, menjadi pemicu utama tren bearish ini.

Impor Bijih Nikel Jadi Opsi Penyeimbang

Di tengah tekanan ini, Indonesia justru mencatatkan peningkatan impor bijih nikel dari Filipina. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total impor bijih nikel sepanjang Januari–Mei 2025 mencapai 2,77 juta ton.

Sepanjang 2024, Indonesia telah mengimpor 10,18 juta ton bijih nikel dari Filipina, dengan sebagian besar pengiriman melalui pelabuhan di Morowali (Sulawesi Tengah) dan Teluk Weda (Maluku Utara).


Eksplorasi konten lain dari CMI News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





















banner
error:

Verified by MonsterInsights