TIMIKA, CMI News — Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, menegaskan bahwa seorang diakon harus siap diutus ke mana saja, hidup disiplin, terbuka terhadap pembinaan, serta rela berkorban dalam pelayanan Gereja. Penegasan itu disampaikan dalam homili Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon di Gereja Paroki Emanuel Mapurujaya, Rabu (28/10/2026).

Dalam perayaan yang dimulai pukul 16.00 WIT tersebut, Mgr. Bernardus menahbiskan tiga frater Keuskupan Timika menjadi diakon, yakni Frater Butuma Vidorianus T. Edowai, Frater Yulianto Murib, dan Frater Laurensius Was.

“Harus siap ditempatkan di mana saja. Kalau tidak mau, lebih baik keluar dan kawin saja,” tegas Uskup Bernardus di hadapan ketiga diakon yang baru ditahbiskan.

Menurut dia, tahbisan diakon bukanlah akhir perjalanan panggilan, melainkan jembatan menuju tahbisan imamat. Karena itu, masa diakonat, baik enam bulan maupun satu tahun, harus dimanfaatkan sebagai masa refleksi dan pembinaan diri sebelum seseorang menerima tanggung jawab sebagai imam.

“Masa diakonat adalah retret panjang untuk refleksi supaya betul-betul menjadi imam,” ujarnya.

Ia meminta ketiga diakon menggunakan masa tersebut untuk mengevaluasi kesiapan diri, memperdalam panggilan, serta mengembangkan talenta dan bakat yang telah dianugerahkan Tuhan. Kesungguhan menjalani panggilan, katanya, harus tampak dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam pelaksanaan tugas-tugas gerejawi.

Disiplin Hidup dan Kesetiaan dalam Doa

Uskup Bernardus menekankan bahwa kedisiplinan merupakan fondasi penting dalam kehidupan seorang calon imam. Disiplin itu mencakup pengaturan waktu untuk makan, tidur, berdoa, membaca, dan mempersiapkan pelayanan dengan baik.

Ia mengingatkan agar para diakon tidak menjalani kehidupan secara sembarangan, termasuk dalam mempersiapkan dan merayakan Ekaristi nanti maupun menyampaikan homili.

“Karena itu harus siap selalu dan disiplin. Waktu harus ditata, diatur dengan baik,” tegasnya.

Selain disiplin, ia menempatkan kehidupan doa sebagai unsur mendasar dalam panggilan diakonat dan imamat. Seorang pelayan Gereja harus membangun relasi pribadi dengan Tuhan secara terus-menerus melalui doa pribadi, doa bersama dalam Gereja, doa harian, rekoleksi, dan retret.

Menurut Uskup Bernardus, iman seorang diakon harus berakar pada keyakinan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat sekaligus Gembala Agung yang harus diikuti. Yesus adalah Gembala yang rela berkorban dan memikul salib. Karena itu, para diakon pun harus siap menjalani pengorbanan dalam pelayanan.

Ia mengingatkan bahwa panggilan bukanlah jalan untuk mencari kenyamanan atau menuntut banyak hal, melainkan kesediaan memberikan diri bagi Tuhan dan umat yang dilayani.

Terbuka terhadap Teguran dan Pembinaan

Dalam homilinya, Uskup Bernardus juga menyoroti pentingnya kerendahan hati dan keterbukaan untuk dibina. Seorang diakon harus bersedia dididik, diarahkan, dikoreksi, dan ditegur oleh para pembimbing, termasuk pastor paroki.

Baginya, teguran bukan alasan untuk melawan atau membangkang, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertumbuh dalam kedewasaan panggilan.

“Kalau tidak mau ditegur, tidak usah jadi diakon, tidak usah jadi imam,” ujarnya dengan tegas.

Ia menambahkan bahwa keterbukaan terhadap koreksi perlu disertai kemauan untuk berdialog. Para diakon diharapkan mampu menerima masukan secara dewasa, mengakui kekurangan, dan memperbaiki sikap maupun perilaku yang tidak sesuai dengan panggilan hidup mereka.

Uskup Bernardus juga meminta ketiga diakon meninggalkan kebiasaan dan pola hidup masa lalu yang tidak baik, lalu membangun masa depan yang lebih sesuai dengan kehendak Tuhan.

Ia mengingatkan bahwa tahbisan tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang untuk merasa lebih tinggi, menolak pembinaan, atau bertindak sesuka hati. Kesetiaan terhadap panggilan harus terus dibuktikan melalui sikap hidup dan kesediaan untuk berubah.

Membaca, Menulis, dan Mengembangkan Wawasan

Selain pembinaan rohani dan karakter, Uskup Bernardus menekankan pentingnya budaya membaca dan menulis bagi seorang diakon dan calon imam.

Ia mendorong para diakon untuk tekun membaca Kitab Suci serta menghidupi Sabda Allah dalam keseharian. Kitab Suci merupakan sumber kekayaan iman dan pengetahuan tentang misteri Allah yang tidak pernah habis digali.

Para diakon juga diminta memperluas wawasan melalui buku-buku teologi, spiritualitas, dan berbagai bacaan lainnya. Kebiasaan membaca diperlukan agar mereka memiliki kemampuan berpikir kreatif, analitis, dan kritis dalam memahami persoalan serta melayani umat.

Uskup Bernardus mengingatkan bahwa pelayanan dan pewartaan tidak boleh hanya didasarkan pada dugaan atau spekulasi, tetapi harus ditopang oleh pengetahuan, pemahaman, dan dasar yang kuat.

Ia juga mendorong para diakon membangun kebiasaan menulis sebagai bagian dari pengembangan diri dan pelayanan pewartaan. Kemampuan menulis menjadi sarana untuk mendokumentasikan gagasan, pengalaman, refleksi iman, dan berbagai hal penting yang dapat berguna bagi Gereja.

Masa Pembuktian Panggilan

Uskup Bernardus menegaskan bahwa ketiga diakon harus menjadikan masa diakonat sebagai kesempatan untuk membuktikan kesungguhan dalam menjalani panggilan. Kesiapan diutus, kedisiplinan, kehidupan doa, keterbukaan terhadap pembinaan, pertobatan, serta semangat berkorban harus menjadi bagian nyata dari kehidupan mereka.

Baginya, tujuan pembinaan bukan sekadar mempersiapkan seseorang untuk menerima tahbisan imamat, tetapi membentuk pribadi yang sungguh-sungguh mampu melayani Tuhan dan umat dengan setia.

Tahbisan yang diterima Frater Butuma Vidorianus T. Edowai, Frater Yulianto Murib, dan Frater Laurensius Was menjadi langkah baru dalam perjalanan panggilan mereka. Masa diakonat selanjutnya menjadi kesempatan untuk terus merefleksikan panggilan, memperbaiki diri, dan mempersiapkan hati untuk menjawab panggilan Tuhan secara lebih utuh.