
Cilacap, cminews.co.id – Peringati Hari Bakti Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) ke-2 Tahun 2026 menyalurkan 100 tanki air bersih di Wilayah Kabupaten Cilacap yang terdampak kekeringan, Kamis (28/10/2026).
Sebanyak 100 tanki air bersih bantuan Kemenimipas di Kabupaten Cilacap dibagi pada 17 Kecamatan terdampak, salah satunya bantuan air bersih di distribusikan ke Desa Karangkemiri Kecamatan Jeruklegi sebanyak 20 tanki.
Pendistribusian air bersih di Desa Karangkemiri dilaksanakan secara serentak di beberapa daerah di Indonesia melalui virtual yang dirangkai dengan Sertijab pejabat di lingkungan kemenimipas.
Penyaluran air bersih Hari Bakti Kemenimipas ke-2 disambut antusias warga masyarakat Karangkemiri, mengingat Desa ini salah satu dari 104 Desa terdampak kekeringan di Kabupaten Cilacap.
Koordinator Wilayah (Korwil) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan dan Cilacap sekaligus juga Kalapas Batu Nusakambangan, Irfan, mengatakan, kegiatan ini dalam rangka Hari Bakti Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan ke-2, mendistribusikan air bersih di Kabupaten Cilacap yang di pusatkan di Desa Karangkemiri Kecamatan Jeruklegi sebanyak 100 tanki serta paket sembako.


“Ini bentuk kepedulian kami di Hari Bakti, dari total 100 tanki air bersih akan terbagi untuk 31 Desa di 17 Kecamatan terdampak. Dan untuk Desa Karangkemiri sebanyak 20 tanki secara bertahap per hari ini”, ujarnya.
Ia mengatakan, nantinya pendistribusian air bersih juga akan dibantu BPBD, Camat, dan Kades.
“Dipusatkan di sini, pendistribusian ke desa lainnya akan dibantu dengan koordinasi BPBD, Camat, Kades setempat. Kapasitas tanki 5.000 liter”, imbuhnya.
Irfan berharap, melalui pendistribusian air bersih ini kebutuhan air bisa terpenuhi dengan baik. “Kami dari Kemenimipas turut prihatin dan berbagi dengan saudara kita terdampak kekeringan atau mengalami krisis air bersih, sehingga kebutuhan air bisa terpenuhi”, ucapnya.
Sementara itu salah satu warga, Sutriah warga RT 02 RW.03 Karangkemiri sangat berterima kasih dengan adanya distribusi air bersih dari Kementerian Imipas.

“Seneng rasanya dapat bantuan air bersih, yang akan digunakan untuk memasak, mencuci, mandi dan lainnya”, katanya.
Ia menyebut, bawa 5 jeriken yang hanya bisa untuk sehari, setelahnya nyari di embung atau sungai. Kalau beli per jeriken harganya 5 ribu rupiah, kalau 5 jeriken sudah 25 ribu rupiah per hari.
“Dengan adanya bantuan ini saya sangat bersyukur, terima kasih, bantuan ini sangat membantu kami warga Karangkemiri”, ucapnya.
Kepala Desa Karangkemiri, Kuswadi, kepada wartawan menjelaskan, di desanya yang terdampak kekeringan ada 4 dusun dari jumlah 4 dusun, kekeringan di sini rutin tiap tahun.
“Semua dusun terdampak, sekitar 75 persen jumlah KK atau 840 KK sekitar 3.000 jiwa. Letak geografis desa kami dataran tinggi, otomatis kalau kemarau kekurangan air. Untuk memenuhi kebutuhan air, kami sudah membangun embung yang saat kemarau menjadi satu-satunya sumber air yang dapat dimanfaatkan masyarakat, cuman letaknya di pinggiran desa butuh waktu dan jarak juga jauh”, ucapnya.
Menurutnya, selama 8 bulan terakhir untuk bantuan distribusi air selalu ada tiap minggu rutin bergilir dari instansi pemerintah dalam hal ini BPBD, yayasan, organisasi sosial, serta stakeholder terkait.

“Salah satunya kegiatan ini, distribusi untuk Kabupaten Cilacap yang dipusatkan di Karangkemiri, mengingat desa kami yang benar-benar terdampak, dari total 100 tanki kami dapat 20 tanki yang distribusinya bergilir”, jelasnya.
Beberapa bantuan terkait kekeringan, Kuswadi menjelaskan pernah dapat bantuan dari Kementerian langsung pada tahun 2009 yaitu sumur bor, tetap gagal karena airnya tidak keluar.
Dirinya menekankan, kalau mau membatu ke desa kami saat musim kemarau, lebih baik tanki nya saja, supaya tanki tersebut tepat sasaran bisa buat nganter air ke masyarakat. Teknis operasionalnya di sini ada BUMDes serta Koperasi Merah Putih, bisa di koordinasikan.
“Selama musim kemarau warga hanya tergantung dari bantuan air, jujur saja kasihan warga, waktunya buat kerja mencukupi nafkah keluarga digunakan untuk nyari air. Kalau beli harganya per jeriken 5 ribu rupiah. Sedangkan kebutuhan hidup tak lepas dari air”, tutupnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Taryo, pada kesempatan tersebut membeberkan dampak kekeringan di Kabupaten Cilacap tahun 2026 mencapai 104 desa pada 20 Kecamatan.

“Pemkab Cilacap melalui BPBD, sudah mendistribusikan air bersih, kemarin data yang ada di kita total 2013 tanki air bersih atau setara dengan 10.650.000 liter air untuk 79 ribu jiwa terdampak kekeringan di Kabupaten Cilacap, bebernya.
Walaupun bantuan ini tidak memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, lanjut Taryo, kita berharap setidaknya ini bisa meringankan beban warga dalam mendapatkan air bersih.
Taryo menyebut, untuk musim hujan di Kabupaten Cilacap, menurut BMKG akan terjadi pada pertengahan November, walaupun dibeberapa wilayah di Cilacap sudah turun hujan, tapi belum maksimal, sumur-sumur warga masih kering . “Pada prinsipnya Pemkab Cilacap melalui kami BPBD, kalau masyarakat masih menginginkan air bersih kami siap membantu”, tegasnya.
Terkait mengahadapi musim hujan, imbuh Taryo, pihaknya sudah menghimbau kepada warga masyarakat melalui UPT BPBD, camat serta kades untuk senantiasa hati-hati dalam menghadapi musim hujan.
“Saya minta kepada warga masyarakat yang tinggal di lereng-lereng pegunungan, dimungkinkan terjadi pergerakan tanah atau longsor maka sedini mungkin untuk mengecek masing-masing kalau mungkin disana ada retakan tanah, supaya segera ditutup retakannya dengan kerja bakti. Sehingga saat masuk musim hujan air tidak masuk pada.celah retakan tanah yang berakibat menimbulkan bencana tanah longsor”, pesannya.
Ia juga mengingatkan kepada masyarakat disaat musim penghujan dan mungkin yang disertai cuaca ekstrim angin kencang, apabila di lingkungan rumah ada pohon yang dikawatirkan tumbang atau roboh lebih baik pohon tersebut ditebang saja.
Karena Kabupaten Cilacap kondisi wilayahnya tidak hanya pegunungan, ada juga dataran rendah yang rutin dilanda banjir, agar masyarakat bersama-sama membersihkan saluran, atau sungai dari sampah yang akan menghambat lajunya air saat musim penghujan.
“Jika retakan tanah sudah di tutup, pohon yang mengkhawatirkan roboh sudah ditebang, dan saluran air serta sungai bersih dari sampah, dimungkinkan bencana longsor, ataupun banjir dapat diminimalisir”, pungkasnya. (*)








