Grebeg Suro bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan dan memperkuat identitas budaya masyarakat di Dusun Tamansari.
Tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi, dan menjadi bukti kekentalan budaya yang dimiliki oleh dusun ini. Perlu diketahui, kekentalan masyarakat dusun Tamansari sendiri juga patut sebagai contoh untuk wilayah lain. Penduduknya yang mayoritas berbeda agama, diantaranya Islam dan katolik.
Namun toleransi, keguyuban warga masyarakatnya terlihat sangat kompak dan kental setiap adanya kegiatan di dusun tersebut. Mereka tidak memandang, dari segi perbedaan agama.
Acara Grebeg Suro 2024, dimulai sekitar pukul 15.30 Wib atau badha Ashar. Dengan berkeliling di jalan sekitar dusun Tamansari dan penuntun Desa Banjarmulya, Pemalang.

Tulus Raharjo, selaku Kepala Dusun V Tamansari, Banjarmulya Pemalang. Ia juga menyampaikan ” Asal-usul kegiatan Grebeg Suro ini muncul semula dari warga terutama RT dan RW, dengan menyampaikan aspirasinya kepada kami.” Ungkapnya kepada centermediaindependent.com
Dia menuturkan ” Bahwasa nya Grebeg itu artinya bareng-bareng bersama-sama untuk melakukan penyambutan bulan Suro, menurutnya Suro itu merupakan pergantian tahun.” Imbuh Kadus Tamansari
Di bulan Suro kita agar selalu bergembira, kebersamaan, dan melestarikan budaya tradisi orang jawa.
Kegiatan itu sendiri diadakan sejak tahun 2019 lalu di Tamansari, kata Tulus Raharjo. Sementara untuk persiapan kegiatan mulai dari RT dan RW serta semua tokoh masyarakat, dimana mereka menabung di sebuah klentung.
Bertujuan agar dapat membuat sebuah gunungan dari sayuran, buah-buahan dan lain-lainnya. Tak hanya itu, kegiatan ini juga mempunyai nilai-nilai positif untuk masyarakat.













