
Pemalang || CMI News – Komisi VI DPR RI melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke fasilitas produksi PT Phapros Tbk guna membahas strategi penguatan ketahanan industri farmasi nasional serta percepatan industrialisasi bahan baku obat di Indonesia, Jumat (10/7/2026).
Langkah ini diambil sebagai bagian dari fungsi pengawasan legislatif untuk menekan ketergantungan impor bahan baku obat (BBO) yang hingga kini masih menjadi tantangan besar bagi sektor kesehatan di dalam negeri.
Anggota Komisi VI DPR RI, Rizal Bawazier, menyampaikan bahwa koordinasi lintas sektor sangat krusial untuk menciptakan ekosistem farmasi yang mandiri. Melalui unggahan di akun media sosial resminya, ia menekankan pentingnya sinergi antara regulator dan para pelaku industri strategis demi mencapai kedaulatan kesehatan nasional.
“Kunjungan Kerja Komisi VI ke PT Phapros, bersama Danantara, BP BUMN, Biofarma, dan Kimia Farma — 10 Juli 2026. Pembahasan Strategi Ketahanan Industri Farmasi Nasional dan Industrialisasi Bahan Baku Obat di Indonesia,” tulis Rizal.
Pertemuan strategis yang berlangsung di area fasilitas produksi tersebut berjalan dengan agenda pemaparan kondisi riil industri, peninjauan kapasitas produksi, hingga diskusi interaktif mengenai hambatan regulasi dan permodalan.
Selain jajaran anggota Komisi VI DPR RI, agenda krusial ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Badan Pengelola Investasi Danantara, Badan Pihak Ketiga/BP BUMN, serta jajaran direksi holding BUMN farmasi yang mencakup PT Bio Farma (Persero) dan PT Kimia Farma Tbk. Kehadiran para pemangku kepentingan ini diharapkan dapat merumuskan peta jalan (roadmap) konkret dalam mempercepat kemandirian bahan baku obat lokal.

Sebagai informasi, ketergantungan sektor farmasi Indonesia terhadap bahan baku impor selama ini menjadi fokus perhatian pemerintah dan parlemen. Melalui kunjungan spesifik ini, Komisi VI berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan penguatan industri hulu farmasi agar implementasi industrialisasi dapat berjalan optimal demi kepentingan masyarakat luas.








