
CMI News — Lonjakan jumlah pekerja informal kembali menjadi sorotan. Bank Dunia (World Bank) menilai, fenomena ini tak hanya menekan produktivitas nasional, tapi juga mengancam stabilitas kelas menengah yang selama ini menjadi penopang ekonomi.
Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2025, Bank Dunia mencatat banyak negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik mengalami penurunan kualitas lapangan kerja.
Fenomena ini disebabkan oleh pergeseran tenaga kerja dari sektor produktif, seperti pertanian dan industri, menuju sektor jasa berproduktivitas rendah — termasuk gig economy atau pekerjaan lepas berbasis platform digital.
“Banyak orang meninggalkan sektor pertanian berproduktivitas rendah, bukan menuju industri berproduktivitas tinggi, melainkan ke pekerjaan berproduktivitas rendah di sektor jasa, termasuk di dalamnya gig economy,” kata Aaditya Mattoo, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik.
Bank Dunia menilai, jika tren ini terus berlanjut, maka masyarakat kelas menengah di kawasan ini akan semakin rentan jatuh miskin. Produktivitas nasional pun dikhawatirkan stagnan akibat dominasi pekerjaan informal yang tidak memiliki kepastian penghasilan dan jaminan sosial.

Purbaya: Perlambatan Ekonomi Jadi Pemicu
Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa meningkatnya jumlah pekerja informal di Indonesia tak lepas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi sejak awal tahun.
“Ya karena growth-nya (pertumbuhan ekonomi Indonesia) lambat kan kemarin-kemarin,”
ujar Purbaya.
Menurut Purbaya, kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya menyebabkan perusahaan menahan ekspansi dan rekrutmen tenaga kerja baru. Akibatnya, banyak masyarakat akhirnya beralih ke sektor informal demi bertahan hidup.
Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah tengah berupaya membalik arah pertumbuhan agar lapangan kerja formal kembali tumbuh.
“Itu yang akan kita ubah. Kita sedang coba balikkan arah pertumbuhan kita, karena di sektor informal pendapatan cenderung tidak menentu,” tegasnya.
Tantangan Struktural: Dari Industri ke Jasa
Bank Dunia mencatat, dalam satu dekade terakhir Indonesia mengalami de-industrialisasi dini. Banyak pekerja yang semula berada di sektor manufaktur kini bergeser ke sektor jasa informal — seperti ojek daring, perdagangan kecil, hingga layanan berbasis aplikasi.
“Contohnya di Indonesia, kita melihat peningkatan besar tenaga kerja informal di sektor jasa,” ujar Aaditya Mattoo.
Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi struktural ekonomi Indonesia belum berjalan optimal. Alih-alih memperkuat sektor industri dan manufaktur, pertumbuhan justru bergeser ke arah aktivitas jasa dengan produktivitas rendah.
Dampak bagi Kelas Menengah dan Pertumbuhan Ekonomi
Bank Dunia memperingatkan bahwa semakin banyak masyarakat bekerja di sektor informal berarti semakin besar pula risiko kerentanan sosial ekonomi.
“Banyak individu di kawasan ini bekerja di sektor informal atau dengan produktivitas rendah. Kelompok masyarakat yang rentan jatuh miskin kini lebih besar daripada kelas menengah di sebagian besar negara,” tulis laporan tersebut.
Dengan kata lain, tanpa strategi pertumbuhan yang berfokus pada penciptaan lapangan kerja formal dan peningkatan produktivitas, kelas menengah Indonesia bisa mengalami stagnasi bahkan kemunduran.






