Tujuh jam telah berlalu. Bel sekolah berbunyi dan semua murid keluar, pertanda pelajaran telah selesai. Klara mengajak Sinta untuk pulang bersama.
“Ayo Sin, kita pulang bareng,” ajak Klara.
“Sori ya, nggak level pakai sepeda tua. Aku pulang pakai mobil,” tolak Sinta.
Akhirnya mereka tidak pulang bersama. Klara pulang sendiri sambil mengayuh sepeda ontelnya.
“Seandainya sepeda ini bisa terbang, mungkin aku akan lebih cepat sampai di rumah,” gumam Klara dalam hati. Tanpa ia sadari, kalung yang dipakainya memancarkan sinar terang, namun Klara terus mengayuh tanpa menyadarinya.
Malam sudah sangat larut, entah kenapa mata Klara masih belum terpejam. Rasa kantuknya hilang. Ia mencoba memejamkan mata, namun tetap sulit tertidur. Kemudian Klara bangun dan membuka laci meja kecil tempat ia menaruh kalung itu.
“Kalung apa ini?” tanya Klara dalam hati sambil mengusapnya. Tanpa terasa ia pun tertidur dan bertemu lagi dengan nenek tua itu di dalam mimpi. Nenek itu tersenyum dan berkata, “Tiup benda itu, Nak… tiuplah…”
Klara terkejut lalu terbangun. “Ya Allah, aku bermimpi bertemu dengan nenek itu lagi,” ucapnya. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 05.29 pagi.
Seperti biasa, Klara mempersiapkan alat sekolah dan berpamitan kepada ibunya. Jarak sekolah yang jauh cukup menguras tenaga, apalagi jalannya naik-turun melewati perbukitan kecil yang sepi. Klara teringat mimpinya semalam. Ia berhenti sejenak, mengambil kalung itu dari tas, lalu menempelkannya di bagian depan sepeda.
Entah dari mana, terdengar suara yang menyuruhnya meniup lambang burung itu. Klara mencobanya. Betul saja! Sepeda itu pun terbang. Klara terkejut sekaligus senang sekali. Ia pun melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan terbang.













