Cikarang, CMI News – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup melemah tajam pada perdagangan. Tekanan harga muncul seiring meningkatnya ekspektasi pasokan dalam beberapa bulan mendatang, yang membuat pelaku pasar lebih berhati-hati.

Pergerakan Harga CPO

Berdasarkan data BMD, seluruh kontrak utama CPO bergerak negatif:

September 2025: turun 67 ringgit ke RM 4.308/ton

Oktober 2025: terkoreksi 67 ringgit ke RM 4.347/ton

November 2025: jatuh 69 ringgit ke RM 4.380/ton

Desember 2025: melemah 64 ringgit ke RM 4.408/ton

Januari 2026: turun 58 ringgit ke RM 4.425/ton

Februari 2026: terkoreksi 34 ringgit ke RM 4.417/ton

Pergerakan ini menegaskan tren bearish jangka pendek yang masih membayangi harga CPO.

Faktor Penekan Harga

Mengutip Bernama, analis pasar minyak sawit David Ng menilai sentimen utama masih berasal dari proyeksi peningkatan produksi. Pasokan yang lebih melimpah berpotensi menekan harga jual di tengah ketidakpastian permintaan global.

“Kami melihat level support berada di RM 4.350 per ton dan resistance di sekitar RM 4.500 per ton,” jelas David Ng.

Selain faktor produksi, harga CPO juga kerap dipengaruhi pergerakan minyak nabati lain seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari. Jika harga komoditas substitusi tersebut melemah, tekanan biasanya ikut menular ke CPO.

Implikasi Bagi Pasar dan Pelaku Usaha

Bagi eksportir, tren pelemahan harga CPO bisa menekan margin keuntungan, terutama di tengah kompetisi ketat dengan minyak nabati lain di pasar internasional. Sementara bagi konsumen industri makanan, oleokimia, hingga energi (biodiesel), harga yang lebih rendah bisa menjadi peluang menekan biaya produksi.

Di sisi lain, investor di pasar saham juga mencermati tren ini. Emiten sawit di Bursa Malaysia maupun Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi terimbas oleh fluktuasi harga CPO, terutama yang memiliki eksposur besar pada ekspor.

Prospek ke Depan

Ke depan, dinamika harga CPO akan banyak dipengaruhi oleh:

1. Outlook produksi sawit di Indonesia dan Malaysia, dua produsen terbesar dunia.

2. Permintaan global, khususnya dari India, Tiongkok, dan Uni Eropa.

3. Kebijakan energi hijau, termasuk pemanfaatan CPO untuk biodiesel.

4. Pergerakan harga minyak nabati lain yang menjadi substitusi di pasar internasional.

Jika proyeksi produksi benar meningkat, harga CPO berpotensi tetap tertekan dalam jangka pendek. Namun, dukungan dari program biodiesel di Indonesia dan Malaysia bisa menjadi faktor penahan pelemahan lebih dalam.