Cikarang, CMI News – SKK Migas meluncurkan langkah strategis dalam pengelolaan gas nasional yang memadukan efisiensi, ketahanan energi domestik, dan komitmen ekspor. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengumumkan mekanisme pertukaran aliran gas (gas swab) antara Natuna dan Sumatra, yang dimaksimalkan produksinya hingga tambahan 27 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Sebagai kompensasi, aliran gas dari Sumatra ke Singapura dikurangi dengan volume yang sama, sehingga pasokan ekspor tetap terjaga.

Tiga Manfaat Strategis

Djoko menyebutkan tiga keuntungan utama dari strategi ini:

1. Pasokan domestik meningkat: Sumatra hingga Batam menerima tambahan gas, sehingga kekurangan energi dapat diatasi.

2. Ekspor tetap stabil: Singapura tetap menerima jumlah gas yang sama, menjaga kepercayaan mitra internasional.

3. Pendapatan negara bertambah: Lifting gas yang meningkat berimplikasi positif pada penerimaan negara dari sektor energi.

Ide Cemerlang dari Momen Sederhana

Inspirasi strategi swab gas ini muncul dari momen sederhana. Pada Maret lalu, Djoko bercerita bahwa saat buka puasa bersama alumni Teknik Minyak ITB di Energy Building, Jakarta, ia diajak meninjau ruang kontrol operasi Medco di Natuna.

“Dalam obrolan ringan selepas salat Magrib, saya menanyakan kapasitas maksimum gas yang bisa diserap. Dijawab sekitar 30 MMSCFD. Dari situ lahir ide swab gas. Kesepakatan akhirnya ditandatangani di acara IPA kemarin, dan pagi ini gasnya resmi mengalir,” kenang Djoko.

Kolaborasi yang Kuat

Djoko juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat, termasuk SKK Migas, Medco, dan pembeli gas di Singapura, Sembgas serta GSPL.

“Bersama kita bisa memastikan kebutuhan gas dalam negeri terpenuhi tanpa mengorbankan komitmen ekspor. Terima kasih untuk semua pihak yang memahami situasi ini,” ujarnya.