Pembina Asrama sekaligus guru SMP YPPK Emanuel Mapurujaya, Vinsensius Narang, mengatakan bahwa kehidupan di asrama dirancang untuk membentuk pribadi yang disiplin, mandiri, dan beriman.
Setiap hari, anak-anak memulai aktivitas dengan bangun pagi dan mengikuti Perayaan Ekaristi pada pukul 05.00 WIT. Setelah sarapan, mereka mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Sepulang sekolah, mereka memasak dan makan siang bersama, kemudian beristirahat.
Memasuki sore hari, para penghuni asrama mengikuti berbagai kegiatan seperti olahraga, kerja bakti, berkebun, dan aktivitas lainnya yang melatih tanggung jawab serta semangat kebersamaan. Setelah mandi dan makan malam, mereka melanjutkan belajar mandiri yang juga diisi dengan pembinaan rohani oleh pastor maupun frater. Tepat pukul 22.00 WIT, seluruh kegiatan ditutup dengan doa malam sebelum beristirahat.
Yang menarik, seluruh pelayanan di sekolah maupun asrama diberikan tanpa dipungut biaya. Kebijakan ini menjadi bentuk keberpihakan Gereja kepada anak-anak dari keluarga sederhana agar mereka memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan.
Di balik rutinitas yang disiplin, tersimpan cerita sederhana dari anak-anak yang kini menjadikan Asrama Emanuel sebagai rumah kedua mereka.
Anakletus Nekeyau, siswa kelas I SMP YPPK Emanuel Mapurujaya, mengaku senang tinggal di asrama. Baginya, kehidupan bersama teman-teman, belajar dengan teratur, dan didampingi para pembina menjadi pengalaman baru yang membahagiakan.
”Saya senang tinggal di asrama. Di sini kami bangun pagi, ikut misa, sekolah, belajar bersama, dan banyak teman. Saya mau rajin belajar supaya bisa membanggakan orang tua,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Isak Yohanes Iri, siswa kelas I lainnya. Ia mengaku memilih tinggal di asrama karena mengikuti jejak kakaknya yang lebih dahulu menetap di sana.
”Saya ikut kakak yang sudah tinggal lebih dulu di asrama. Di sini saya merasa senang karena banyak teman, bisa sekolah dengan baik, dan setiap hari kami juga diajarkan untuk berdoa dan hidup disiplin,” ujar Isak.
Bagi kedua siswa ini, asrama bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang untuk bertumbuh dalam persaudaraan, pendidikan, dan kehidupan iman.


















