
CMI News — Di tengah perdebatan soal subsidi energi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara soal harga asli Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite. Ia menegaskan, harga jual Rp10.000 per liter yang dinikmati masyarakat saat ini tidak mencerminkan harga keekonomian sesungguhnya.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Purbaya menjelaskan bahwa selisih harga tersebut ditanggung pemerintah melalui subsidi energi dan kompensasi non-energi yang diberikan kepada PT Pertamina (Persero).
“Selama ini pemerintah menanggung selisih antara harga keekonomian dan harga jual di masyarakat melalui mekanisme subsidi,” ujar Purbaya di kompleks DPR, Jakarta.
Harga Keekonomian Pertalite Rp11.700 per Liter
Menurut Purbaya, jika mengacu pada harga keekonomian, Pertalite seharusnya dijual di kisaran Rp11.700 per liter. Dengan demikian, pemerintah menanggung beban sekitar Rp1.700 per liter agar masyarakat tetap membeli BBM ini di harga Rp10.000.

Kebijakan subsidi ini menjadi instrumen penting pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi dan fluktuasi harga minyak global. Namun di sisi lain, beban fiskal subsidi energi terus meningkat dan menjadi tantangan dalam menjaga defisit anggaran tetap terkendali.
Harga BBM Non-Subsidi Oktober 2025
Sejak 1 Oktober 2025, Pertamina telah memperbarui harga BBM non-subsidi di seluruh SPBU.
Berikut daftar harga terbarunya:
Pertamax (RON 92): Rp12.200 per liter (tidak berubah)
Pertamax Turbo: Rp13.100 per liter (tetap)
Pertamina Dex: naik menjadi Rp14.000 per liter dari Rp13.850
Dexlite: naik tipis Rp100 menjadi Rp13.700 per liter
Penyesuaian harga ini dilakukan mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.






