CMI News – Kondisi mulut kering sering dianggap sepele, padahal dalam banyak kasus bisa menjadi sinyal awal dari gangguan kesehatan serius.

Menurut pakar kesehatan gigi dan mulut dari Universitas Indonesia (UI), drg. Febrina Rahmayanti, Sp.PM, Subsp. Inf.Im, berkurangnya produksi air liur atau kondisi yang dikenal dengan istilah xerostomia, kerap kali menjadi gejala pendamping dari berbagai penyakit sistemik.

Air liur, yang sering diremehkan fungsinya, sesungguhnya memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan mikroorganisme di rongga mulut. Ketika produksinya menurun, keseimbangan tersebut terganggu dan memicu disbiosis, yaitu kondisi di mana mikroba baik kalah oleh mikroba patogen.

“Disbiosis ini bisa meningkatkan risiko infeksi virus, bakteri, hingga jamur di rongga mulut,” jelas Febrina dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (13/11/2025).

Dari Mulut Menuju Organ Vital

Masalah di area mulut tidak berhenti di sana. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan seperti infeksi gusi, gigi berlubang, hingga luka di mukosa mulut dapat memicu reaksi berantai yang berdampak ke organ tubuh lain.

Kondisi tersebut diketahui meningkatkan risiko penyakit jantung, radang sendi (rheumatoid arthritis), osteoporosis, diabetes, gangguan pencernaan, hingga bahkan stunting pada anak.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa kesehatan mulut memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan sistemik. Dengan kata lain, perawatan gigi bukan hanya tentang estetika, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Perlu Kolaborasi Lintas Disiplin

Febrina menilai sistem kesehatan di Indonesia masih perlu memperkuat pendekatan kolaboratif antarprofesi agar penanganan pasien lebih komprehensif.

“Kesehatan mulut merupakan bagian dari target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga: kehidupan sehat dan sejahtera. Karena itu, kolaborasi antara dokter gigi, dokter umum, tenaga kesehatan, hingga pembuat kebijakan sangat diperlukan,” ujarnya.

Selain aktif mengembangkan riset di bidang infeksi imunologi dan penyakit mulut, Febrina juga konsisten melakukan edukasi publik tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut sejak dini. Ia menyoroti keterkaitan kesehatan mulut dengan kebiasaan merokok, anemia, defisiensi vitamin D, serta kesehatan pasien dengan gangguan mental di rumah sakit jiwa nasional.

Mengubah Pola Pikir Masyarakat

Masih banyak masyarakat yang menganggap mulut kering hanyalah efek sementara dari stres, konsumsi obat, atau dehidrasi. Padahal, bila berlangsung lama, kondisi ini bisa menjadi indikator gangguan pada sistem kekebalan tubuh, kelenjar ludah, hingga metabolisme. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin ke dokter gigi seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup preventif, bukan hanya dilakukan ketika sudah sakit.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan fisik, menjaga kesehatan mulut menjadi bagian tak terpisahkan dari investasi kesehatan jangka panjang.