PEMALANG – Ada yang berbeda dan terasa jauh lebih sakral pada ritus tahunan penjamasan pusaka Kadipaten Pemalang tahun ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya prosesi pembersihan benda bersejarah ini lazimnya digelar pada pagi hari di lingkungan Garasi Rumah Dinas Bupati, kali ini Pemerintah Kabupaten Pemalang menyuguhkan atmosfer yang sama sekali baru.

Tepat pada Rabu malam, 24 Juni 2026 (bertepatan dengan 9 Muharram 1448 H), tradisi jamasan dikemas dengan konsep yang lebih intim, penuh pendar estetika leluhur, dan dipusatkan di Bangunan Cagar Budaya Ndalem Notonagoro, Jalan Kyai Makmur, Kelurahan Kebondalem. Pergeseran waktu dan tempat ini sukses membawa angin segar sekaligus memperkuat aura magis dan khidmat dari warisan budaya Pemalang.

Daya tarik utama dari “wajah baru” jamasan tahun ini dimulai bahkan sebelum inti prosesi dilakukan. Keheningan malam di sekitar Pendopo Kabupaten mendadak pecah oleh barisan pawai yang sunyi namun berwibawa.

Hanya bermandikan cahaya temaram dari puluhan obor, Bupati Pemalang Anom Widiyantoro beserta istri, Wakil Bupati Nurkholes beserta istri, serta jajaran Kepala Perangkat Daerah melaksanakan kirab budaya. Dengan berjalan kaki membelah malam, rombongan pengombyong (pengiring) mengawal jalannya prosesi menuju Ndalem Notonagoro. Kehadiran cahaya obor ini tidak sekadar menjadi alat penerang jalan, melainkan simbol tuntunan, kehangatan, dan semangat yang terus menyala dalam kegelapan.

Setibanya di Ndalem Notonagoro, nuansa Jawa yang adiluhung kian terasa kental. Seluruh rangkaian acara formal malam itu disajikan secara penuh menggunakan bahasa Jawa—mulai dari doa bersama, laporan penyelenggara, hingga sambutan utama dari Bupati. Penggunaan bahasa ibu ini seolah menarik kembali ingatan kolektif masyarakat yang hadir ke era kejayaan Kadipaten Pemalang masa lalu.

Puncak acara ditandai dengan pembersihan benda-benda pusaka kedayangan. Bupati Anom Widiyantoro, yang didampingi oleh KRAT Purwanto Condro Nagoro, memimpin langsung penjamasan pusaka Kadipaten Pemalang, dilanjutkan dengan pembersihan Kereta Kencana Kyai Seto Mraman. Di saat yang sama, Wakil Bupati Nurkholes bertugas menjamas Kereta Kencana Kyai Turangga Jati.

Sebelum prosesi malam yang magis ini, rangkaian kegiatan sebenarnya telah dimulai sejak pagi hari (pukul 07.30–11.30 WIB) yang diisi dengan agenda boyong kereta kencana serta pertunjukan beber ringgit wacucal (wayang kulit).

Bukan Sekadar Ritual, Tapi Refleksi Gotong Royong

Wajah Baru Tradisi Jamasan Pusaka Pemalang 2026
Wajah Baru Tradisi Jamasan Pusaka Pemalang 2026

Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, dalam wejangannya menekankan bahwa merawat pusaka peninggalan leluhur merupakan salah satu bentuk penghormatan tertinggi terhadap sejarah dan kebesaran bangsa.

“Pusaka bukan sekadar benda warisan, tetapi juga menyimpan sejarah dan menjadi saksi perjalanan waktu. Pusaka menjadi pengingat bahwa sebelum kita hidup pada masa sekarang, telah ada para leluhur yang berjuang dan berkarya demi kemajuan serta kemuliaan daerah,” ujar Bupati Anom.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa esensi dari jamasan ini bukan hanya membersihkan kereta kencana secara fisik agar terawat, melainkan menyucikan hati dan merawat nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, persatuan, dan sikap rendah hati atas setiap keberhasilan yang dicapai.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Fera Djokosusanto, menambahkan bahwa pengemasan baru ini sengaja dirancang untuk meningkatkan daya pikat budaya lokal. Di tengah gempuran zaman modern, tradisi ini diharapkan mampu memicu rasa memiliki (rasa memiliki) yang kuat di kalangan generasi muda Pemalang terhadap akar sejarah mereka.

Malam itu, di bawah atap Ndalem Notonagoro dan disaksikan oleh para seniman, budayawan, serta tokoh masyarakat, tradisi Jamasan Pusaka Pemalang sukses bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar menjadi ritual rutin tahunan, melainkan sebuah refleksi budaya yang hidup, relevan, dan memikat hati siapa saja yang menyaksikannya. Rangkaian acara malam itu pun ditutup dengan penuh rasa syukur lewat prosesi pemotongan tumpeng oleh Bupati.