Akibatnya, file berukuran di atas 128 KB tidak terenkripsi secara sempurna. Malware tersebut justru menimpa file dengan data acak yang tidak dapat dipulihkan. Kondisi ini membuat korban kehilangan data sepenuhnya, bukan sekadar kehilangan akses sementara.
Peneliti Check Point menilai Vect 2.0 lebih berfungsi sebagai “data wiper” daripada ransomware biasa karena malware ini langsung menghancurkan data korban.
Bahkan ketika korban membayar tebusan kepada pelaku, sistem tetap gagal memulihkan file karena Vect 2.0 sudah lebih dulu merusak data secara permanen.
Serangan ini berpotensi menimbulkan dampak besar bagi perusahaan maupun organisasi. Vect 2.0 mampu merusak berbagai jenis file penting seperti dokumen kerja, spreadsheet, hingga database operasional. Jika menyerang sistem perusahaan, malware tersebut bisa menghentikan aktivitas bisnis hanya dalam waktu singkat.
Ransomware ini juga mendukung banyak platform, termasuk Windows, Linux, dan sistem virtualisasi ESXi.













