CMI News – Di pasar modal, istilah saham gorengan sudah lama jadi peringatan bagi investor, khususnya pemula. Saham jenis ini kerap mengalami lonjakan harga ekstrem akibat permainan bandar atau manipulasi pasar, tanpa ditopang oleh fundamental perusahaan.

Bagi trader berpengalaman, saham gorengan bisa menjadi peluang meraih cuan dalam waktu singkat. Namun, bagi investor ritel yang minim pengalaman, saham ini sering berakhir menjadi jebakan yang menimbulkan kerugian besar. Kasus korupsi dana investasi di PT Asabri (Persero) dan PT Jiwasraya (Persero) adalah contoh nyata bagaimana manipulasi perdagangan saham bisa menimbulkan kerugian sistemik.

Lantas, bagaimana cara mengenali saham gorengan? Berikut ciri-cirinya:

1. Masuk Daftar UMA

Salah satu tanda utama adalah munculnya saham tersebut dalam daftar Unusual Market Activity (UMA) yang diumumkan Bursa Efek Indonesia (BEI). Biasanya, saham itu mengalami kenaikan harga ekstrem selama lebih dari dua hari.

Saham di atas Rp5.000/saham: batas auto reject atas (ARA) 20%.

Saham Rp200–Rp5.000/saham: batas ARA 25%.

Saham Rp50–Rp200/saham: batas ARA 35%.

Jika kenaikan harga terlalu cepat dan tak wajar, investor perlu waspada karena bisa jadi ada permainan bandar di baliknya.

2. Volume & Nilai Transaksi Tak Seimbang

Saham gorengan umumnya berasal dari perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil (lapis dua atau tiga). Namun, transaksi hariannya justru melonjak sangat tinggi, bahkan bisa menyaingi saham unggulan (blue chip).

Kondisi ini menunjukkan ada pihak yang sengaja mengerek harga, memanfaatkan jumlah saham beredar yang relatif kecil sehingga mudah dikendalikan.

3. Bid dan Offer yang Janggal

Ciri lain terlihat pada antrian beli (bid) dan jual (offer) saham. Pada saham gorengan, jumlah lot di setiap harga biasanya sangat tipis, kadang hanya 1 lot. Pola ini memudahkan bandar untuk menggerakkan harga sesuai kepentingannya.

4. Harga Tak Sejalan dengan Kinerja Perusahaan

Kenaikan harga saham gorengan sering tidak didukung laporan keuangan maupun aksi korporasi. Misalnya, ketika kinerja laba turun drastis tetapi harga saham justru meroket. Ketidaksesuaian ini menjadi sinyal kuat bahwa kenaikan harga bukan cerminan fundamental.

5. Sulit Dianalisis secara Fundamental

Valuasi saham gorengan biasanya jauh di atas wajar. Misalnya, ketika rata-rata price to book value (PBV) industri berada di level 1,5x, saham gorengan bisa melambung hingga 20x bahkan 100x. Dengan kondisi ini, saham praktis tidak bisa dianalisis menggunakan pendekatan fundamental.

Selain itu, pola pergerakan teknikal juga kerap tidak konsisten—terlalu fluktuatif atau malah jarang diperdagangkan—sehingga membuat analisis teknikal kurang relevan.

Fenomena saham gorengan menunjukkan sisi lain dinamika pasar modal Indonesia. Di satu sisi, praktik ini bisa memberikan keuntungan instan bagi spekulan. Namun, di sisi lain, risiko kerugian bagi investor pemula sangat besar.

Otoritas bursa memang rutin mengeluarkan peringatan melalui daftar UMA. Tetapi, pada akhirnya, literasi dan kehati-hatian investor menjadi kunci. Prinsipnya sederhana: jika harga saham melonjak tanpa alasan jelas dan valuasinya jauh dari wajar, sebaiknya hindari.