
CMI News — Stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2020 menunjukkan lebih dari 357 ribu warga Indonesia meninggal akibat stroke setiap tahun, atau sekitar 21% dari seluruh kematian nasional. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi ke-11 dunia dengan kasus kematian stroke tertinggi.
Tingginya angka ini bukan hanya disebabkan faktor medis, tetapi juga karena banyak pasien datang terlambat ke rumah sakit. Gejala awal stroke sering dianggap sepele—sekadar pusing, kelelahan, atau kurang tidur—padahal kondisi tersebut dapat menjadi tanda awal kerusakan otak.
Golden Period: Waktu Kritis Kurang dari 4,5 Jam
Menurut dr. Riski Amanda, Sp.N, FINA, Spesialis Neurologi Neurointervensi dari Primaya Hospital PGI Cikini, penanganan stroke memiliki batas waktu emas atau golden period.
“Setiap menit sangat penting bagi pasien stroke. Bila datang ke fasilitas kesehatan dalam waktu kurang dari 4,5 jam sejak gejala muncul, peluang pulih tanpa kecacatan jauh lebih besar,” ujar dr. Riski dalam keterangan resmi (1/12/2025).

Stroke dapat menyerang siapa saja. Meski risikonya meningkat pada usia lanjut atau mereka yang memiliki riwayat keluarga, faktor paling berpengaruh justru datang dari kebiasaan sehari-hari: hipertensi, kolesterol tinggi, merokok, diabetes, obesitas, hingga pola makan yang buruk.
Gejala Stroke yang Sering Dianggap Remeh
Sebagian besar gejala stroke muncul tiba-tiba, antara lain:
Mati rasa atau kelemahan pada wajah, lengan, atau kaki
Bicara pelo atau sulit memahami orang lain
Penglihatan kabur
Hilang keseimbangan
Sakit kepala hebat tanpa penyebab jelas
Untuk mempermudah pengenalan, masyarakat disarankan mengingat metode FAST:
Face – Wajah mencong
Arms – Lengan lemas
Speech – Bicara kacau
Time – Segera ke IGD
Menurut dr. Riski, kondisi pasien dapat memburuk hanya dalam hitungan menit. Aliran darah ke otak yang terhenti—baik karena sumbatan (stroke iskemik) maupun pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik)—akan membuat jutaan sel otak mati secara cepat.
“Pada kasus iskemik, dokter bisa memberikan obat penghancur bekuan atau melakukan trombektomi bila pasien tiba di golden period,” jelasnya.
Perawatan Jangka Panjang Tetap Diperlukan
Pasien yang berhasil melewati fase akut masih membutuhkan rehabilitasi panjang, mulai dari fisioterapi, terapi okupasi, hingga terapi wicara. Aspek mental juga menjadi tantangan yang tidak kalah besar.
“Banyak pasien mengalami depresi karena merasa kehilangan fungsi. Dukungan keluarga dan terapi rutin sangat membantu proses pemulihan,” tambah dr. Riski.
Pencegahan: Dimulai dari Kebiasaan Harian
Stroke pada dasarnya bisa dicegah. Mayoritas faktor pemicunya berkaitan dengan pola hidup yang dapat dikendalikan.
Beberapa langkah penting untuk menurunkan risiko antara lain:
Mengontrol tekanan darah
Menjaga gula darah dan kolesterol
Berhenti merokok
Mengatur pola makan
Aktif berolahraga
Pemeriksaan kesehatan rutin terutama bagi usia di atas 40 tahun
“Stroke bukan takdir. Sebagian besar penyebabnya berasal dari kebiasaan yang dapat diubah,” tegas dr. Riski.






