CMI News – Raksasa kopi dunia, Starbucks, mengumumkan rencana restrukturisasi bisnis besar-besaran senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp16,7 triliun. Langkah ini mencakup penutupan sejumlah gerai di Amerika Utara serta pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawan, sebagai bagian dari strategi transformasi di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol.

Gelombang PHK dan Penutupan Gerai

Dalam laporan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), Starbucks menyebut jumlah gerai yang beroperasi di Amerika Utara akan turun sekitar 1% pada tahun fiskal 2025. Menurut perkiraan TD Cowen, angka tersebut setara dengan 500 penutupan bruto.

Selain itu, Starbucks juga mengumumkan PHK terhadap 900 karyawan non-ritel pada 26 September 2025. Biaya restrukturisasi akan dialokasikan sebesar US$150 juta untuk pesangon dan US$850 juta untuk biaya terkait penutupan gerai.

Meski melakukan efisiensi, Starbucks tetap akan menutup tahun fiskal 2025 dengan hampir 18.300 lokasi di Amerika Utara. Perluasan jaringan baru diproyeksikan kembali pada 2026.

Respons CEO: Fokus ke Pelanggan

Niccol menegaskan bahwa restrukturisasi ini bertujuan mengembalikan fokus perusahaan ke “inti bisnis” yang dekat dengan pelanggan. Penjualan di gerai Starbucks diketahui melemah selama enam kuartal berturut-turut, tertekan persaingan ketat dan tren konsumen yang semakin sensitif terhadap harga.

“Langkah ini penting untuk membangun Starbucks yang lebih kuat, tangguh, dan berkelanjutan. Kami ingin memperdalam dampak positif kepada mitra, pemasok, dan komunitas yang kami layani,” tulis Niccol dalam surat internal kepada karyawan.

Restrukturisasi ini juga menjadi gelombang kedua PHK di bawah kepemimpinannya, setelah 1.100 karyawan diberhentikan pada awal 2025.

Investasi Layanan & Operasional

Selain efisiensi, Starbucks tetap menyiapkan investasi jangka panjang. Pada Juli lalu, perusahaan mengumumkan program “Green Apron Service” senilai US$500 juta, difokuskan pada peningkatan standar ketenagakerjaan dan jam kerja di kafe milik perusahaan.

Niccol juga menyebut ambisinya menjadikan Starbucks sebagai “perusahaan layanan pelanggan terbaik di dunia”. Salah satu strateginya adalah memperlambat pembukaan gerai baru, sambil memperbarui lokasi yang ada agar kembali menjadi “third place”—ruang sosial di luar rumah dan kantor.

Dampak ke Pekerja & Serikat Buruh

Starbucks menyatakan barista dari gerai yang ditutup akan dipindahkan ke lokasi lain. Namun, bila tidak memungkinkan, pekerja akan menerima kompensasi pesangon.

Sementara itu, serikat pekerja Starbucks Workers United, yang mewakili 12.000 barista di lebih dari 650 gerai, menegaskan akan menuntut negosiasi resmi atas dampak penutupan.

“Kami ingin memastikan pekerja bisa ditempatkan sesuai preferensi mereka,” ujar perwakilan serikat dalam pernyataan resmi.

Sentimen Pasar

Pengumuman restrukturisasi ini membuat saham Starbucks turun tipis kurang dari 1% pada perdagangan sore (26/9). Namun secara tahunan, saham perusahaan sudah melemah lebih dari 8% sepanjang 2025.

Niccol sendiri juga merombak jajaran eksekutif, dengan merekrut CFO Cathy Smith, Global Chief Brand Officer Tressie Lieberman, dan COO Mike Grams—nama-nama yang sebelumnya bekerja bersamanya di Chipotle dan Yum Brands.