CMI News – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan awal pekan ini dengan catatan positif. Pada Senin (29/9/2025), rupiah dibuka menguat di level Rp16.640 per dolar AS, terapresiasi 0,51% dibanding penutupan akhir pekan lalu di Rp16.725 per dolar AS.

Data Refinitiv mencatat penguatan ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang kembali merosot ke 98,003 atau turun 0,15% pada pukul 09.00 WIB. Sebelumnya, pada Jumat (26/9), DXY juga terkoreksi 0,41% ke 98,152.

Faktor Pendorong Penguatan Rupiah

Rupiah sempat tertekan sepanjang pekan lalu dengan pelemahan kumulatif 0,84%. Namun, peluang rebound muncul setelah dolar AS kehilangan momentum penguatannya.

Beberapa faktor utama yang menekan greenback antara lain:

1. Data Inflasi PCE Inti AS

Laporan inflasi inti PCE Agustus—indikator acuan The Federal Reserve—keluar sesuai ekspektasi pasar. Hal ini memperkuat pandangan bahwa The Fed memiliki ruang untuk melanjutkan kebijakan moneter longgar, sehingga menurunkan minat investor terhadap dolar AS.

2. Sentimen Konsumen AS Melemah

Indeks sentimen konsumen Universitas Michigan untuk September direvisi turun ke titik terendah empat bulan. Revisi ini menimbulkan kekhawatiran soal daya beli rumah tangga dan prospek pertumbuhan ekonomi AS, sehingga memicu arus keluar dari dolar.

Implikasi bagi Rupiah

Melemahnya dolar AS memberi ruang bagi rupiah untuk bernapas setelah tekanan pekan lalu. Jika tren pelemahan greenback berlanjut, rupiah berpotensi mempertahankan momentum positif dalam jangka pendek.

Namun, arah rupiah selanjutnya tetap bergantung pada sentimen global, termasuk rilis data ekonomi AS berikutnya dan arah kebijakan moneter The Fed. Selain itu, faktor domestik seperti neraca perdagangan dan aliran modal asing juga akan menentukan kestabilan rupiah.