
CMI News – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan perlawanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (23/9/2025), rupiah dibuka menguat 0,18% ke posisi Rp16.570 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya sempat melemah tipis di level Rp16.600.
Data Refinitiv mencatat, penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,14% ke 97,209 pada pukul 09.00 WIB. Koreksi ini mematahkan tren penguatan DXY selama tiga hari beruntun, yang sebelumnya mendapat dorongan dari keputusan The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga pekan lalu.
The Fed Mulai Kehilangan Momentum
Penguatan dolar AS sempat menguat setelah langkah pemangkasan suku bunga diumumkan. Namun, momentum itu kini mereda. Hal ini terkait dengan perbedaan pandangan di internal The Fed.
Stephen Miran, Gubernur baru The Fed, bersikap dovish dan menilai suku bunga ideal sebaiknya berada di kisaran 2–2,5%. Bahkan, ia sempat mendorong pemangkasan lebih agresif.

Sebaliknya, Alberto Musalem, Presiden The Fed St. Louis, lebih berhati-hati karena inflasi masih di atas target 2%.
Perbedaan sikap ini memicu ketidakpastian pasar, sehingga banyak investor memilih menunggu arah kebijakan yang lebih jelas.
Faktor Domestik dan Peran BI
Dari sisi dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, melainkan juga sentimen domestik. Meski demikian, ia optimistis tren rupiah ke depan akan lebih stabil dan berpotensi menguat.
“Stabilitas rupiah akan terus terjaga sejalan dengan komitmen BI dalam menjaga nilai tukar, didukung imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali, serta prospek ekonomi Indonesia yang positif,” ujar Perry.
Untuk menjaga stabilitas, BI aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui mekanisme spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.






