
Cikarang, CMI News – Rupiah menutup pekan perdagangan dengan catatan positif. Meski sempat berfluktuasi cukup tajam, rupiah berhasil menguat 0,49% ke posisi Rp16.375 per dolar AS pada Jumat (12/9). Dalam sepekan, penguatan rupiah tercatat 0,24%, menjadikannya salah satu mata uang Asia yang mampu bertahan di tengah guncangan global.
Dinamika Rupiah Sepanjang Pekan
Perjalanan rupiah pekan ini cukup berliku.
Awal pekan, Senin (8/9), rupiah sempat melesat 0,70% ke level Rp16.300 per dolar.
Namun sehari berselang, tekanan besar datang hingga membuat rupiah anjlok lebih dari 1% ke Rp16.485 per dolar.

Baru menjelang akhir pekan, rupiah mampu kembali pulih dan ditutup di zona hijau.
Kinerja ini menunjukkan volatilitas tinggi, tapi juga ketahanan rupiah di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.
Posisi Rupiah di Antara Mata Uang Asia
Jika dibandingkan dengan mata uang Asia lain, rupiah memang bukan yang paling unggul, tapi tetap masuk jajaran kuat.
Baht Thailand memimpin dengan lonjakan 1,25% ke THB 31,64 per dolar.
Dolar Taiwan menguat 0,63% ke TWD 30,285 per dolar.
Ringgit Malaysia naik 0,47% ke MYR 4,200 per dolar, tepat satu tingkat di atas rupiah.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia justru melemah:
Peso Filipina menjadi yang terburuk dengan pelemahan 0,79%.
Won Korea turun 0,47%, disusul yen Jepang (-0,19%) dan rupee India (-0,12%).
Faktor Pendorong Penguatan Rupiah
Pergerakan mata uang Asia, termasuk rupiah, erat kaitannya dengan dinamika indeks dolar AS (DXY) yang melemah 0,22% sepanjang pekan ke level 97,550. DXY mencatat pelemahan mingguan kedua berturut-turut.
Ada beberapa faktor utama yang menekan dolar AS:
1. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 17 September mendatang.
2. Pelemahan data tenaga kerja AS, termasuk revisi yang menghapus lebih dari 900 ribu lapangan kerja dari catatan sebelumnya.
3. Turunnya sentimen konsumen AS yang menambah kekhawatiran perlambatan ekonomi.
Menurut Tom Simons, Kepala Ekonom AS di Jefferies, jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga dan memberi sinyal lanjutan, dunia usaha bisa melihat peluang untuk memulihkan margin serta meningkatkan perekrutan tenaga kerja.






