
CMI News – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa pagi. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,09% ke posisi Rp16.650/US$, melanjutkan penguatan 0,36% pada penutupan Senin di level Rp16.665/US$.
Meski indeks dolar AS (DXY) sempat terkoreksi 0,25% pada perdagangan kemarin, pagi ini justru sedikit rebound ke level 97,99 atau naik 0,09% per pukul 09.00 WIB.
Sentimen Utama: Ancaman Shutdown Pemerintah AS
Fokus investor global tertuju pada meningkatnya kemungkinan shutdown pemerintah AS. Perselisihan politik anggaran antara Presiden Donald Trump dan oposisi Demokrat membuat risiko penghentian sementara layanan pemerintah semakin besar.
Jika kebuntuan anggaran berlanjut, publikasi data ekonomi AS—seperti laporan ketenagakerjaan pekan ini—bisa tertunda. Hal ini berpotensi mempersulit The Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter karena kehilangan salah satu acuan utama.

Dampak ke Rupiah: Antara Dukungan dan Volatilitas
Situasi politik di AS mendorong pelemahan dolar, yang secara tidak langsung menjadi penopang bagi rupiah. Namun, para analis menilai penguatan rupiah masih rapuh.
Menurut Rully Arya Wibisono, Ekonom Mirae Asset Sekuritas, arah rupiah dalam jangka pendek sangat dipengaruhi oleh seberapa agresif The Fed memangkas suku bunga.
“Jika data ekonomi AS terus melemah, peluang penurunan suku bunga lebih besar dan ini positif bagi rupiah. Namun, dengan kondisi global yang cepat berubah, volatilitas tetap tinggi,” jelasnya.






