
BANTUL, DIY — Ribuan pasang mata menjadi saksi bisu berakhirnya satu babak sejarah panjang Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pada Rabu (5/11/2025), suasana khidmat menyelimuti Kompleks Pajimatan Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tempat di mana jenazah Susuhunan Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi diantarkan menuju peristirahatan terakhirnya.
Prosesi agung ini tidak hanya menandai kepergian seorang raja, tetapi juga menegaskan kembali kokohnya tradisi Jawa yang berakar pada dinasti Mataram Islam.
Sejak pagi, kompleks makam raja-raja Mataram itu telah dipadati oleh ribuan pelayat, mulai dari keluarga besar trah Mataram, abdi dalem, hingga masyarakat umum. Prosesi dimulai dari Masjid Makam Imogiri, tempat jenazah disalatkan untuk terakhir kalinya.
Pemandangan paling dramatis dan sakral terjadi saat jenazah diangkat menggunakan tandu khusus, meninggalkan mobil jenazah yang membawanya dari Surakarta. Dipikul oleh abdi dalem dan diiringi keluarga, tandu tersebut memulai perjalanan mendaki menuju puncak bukit, lokasi makam para leluhur.
Perjalanan ini diabadikan oleh 409 anak tangga batu, yang sejak abad ke-17 telah menjadi saksi perjalanan akhir para raja Mataram. Setiap anak tangga yang dilangkahi seolah mengisahkan perjalanan sejarah panjang keraton, dari era perpecahan hingga persatuan kembali di pusara.

“Prosesi ini berlangsung khidmat dan penuh penghormatan—menandai berakhirnya perjalanan seorang raja yang dikenal sebagai penjaga tradisi serta pemersatu keluarga besar keraton.”
Meskipun Kompleks Makam Imogiri adalah lokasi definitif, terdapat detail penting dalam penempatan jenazah PB XIII. Untuk sementara waktu, beliau dimakamkan di sisi makam ayahandanya, PB XII, di Kompleks Kedhaton PB X.
Keputusan ini diambil karena Kedhaton baru yang disiapkan khusus untuk raja yang mangkat (Kedhaton yang lebih tinggi dan termulia) masih dalam proses penyelesaian. Jenazah PB XIII akan dipindahkan ke lokasi definitifnya setelah pembangunan tempat peristirahatan khusus tersebut rampung. Hal ini sejalan dengan tradisi keraton yang mengharuskan persiapan tempat yang sempurna bagi Sang Raja.

Sri Susuhunan Paku Buwono XIII Hangabehi mangkat pada usia 77 tahun setelah bertahta sejak tahun 2004. Sepanjang masa kepemimpinannya, beliau dikenal sebagai figur yang teguh menjaga tradisi dan berperan penting sebagai pemersatu keluarga besar keraton Surakarta yang sempat didera konflik internal.
Di bawah kepemimpinan beliau, tradisi besar keraton, seperti upacara Tingalan Jumenengan Dalem dan Sekaten, terus dilestarikan dengan penuh keagungan, menjadikannya simbol tak tergoyahkan dari budaya Jawa di tengah arus modernisasi.
Kepergian PB XIII diyakini akan menjadi titik balik bagi Keraton Surakarta. Berdasarkan tradisi dan pengumuman sebelumnya, tahta selanjutnya kemungkinan akan dipegang oleh putra mahkota, KGPH Purbaya, yang telah dipersiapkan sebagai penerus dinasti Pakubuwono.
Ribuan pelayat yang memadati Imogiri menjadi bukti nyata betapa pentingnya peran Raja PB XIII—bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai jangkar spiritual dan kultural bagi masyarakat Jawa.
Dengan dimakamkannya beliau di Pajimatan Imogiri, kini nama PB XIII telah bersanding abadi dengan para leluhurnya, mengukuhkan kembali garis silsilah Kerajaan Mataram Islam.






